Budaya Aksara
Rajapatni.com – SURABHAYA ¦ Menerawang cahaya masa silam di tengah terik matahari Surabaya pada Minggu siang. Terselip rapi pada dokumentasi digital yang pada akhirnya dapat disingkap dari peraduannya. Rapi dan terstruktur. Terlalu indah untuk dilupakan. Tapi tidak bagi kami yang memang sedang mencarinya.
Ditemukanlah untaian aksara yang bertutur tentang konstruksi tata krama dalam bertutur kata (berbahasa) yang baik. Keberadaannya jauh sebelum Sumpah Pemuda pada (1928).
Konstruksi pemikiran itu dibuat pada 1788 pada era Sri Susuhunan Pakubuwana IV dalam sebuah serat yang bernama Wulangreh. Serat ini secara umum mengajarkan tata krama, termasuk dalam bertutur kata (berbahasa).
Berikut adalah cuplikan (potongan) dari serat tersebut. Dari serat itu ada dua pupuh. Yaitu Dandanggula dan Pangkur, yang bisa digunakan untuk berlatih menulis dalam mempersiapkan diri mengikuti Lomba Menulis Aksara Jawa dalam rangka memperingati Bulan Bahasa pada Oktober mendatang.
Kedua cuplikan ini berkisah tentang pesan tata krama bertutur kata (berbahasa) yang baik. Salah satunya menjadi bahan yang perlu disalin dalam lomba.
Lomba ini tidak sekedar menyalin atau menulis ulang. Tetapi ada tujuan belajar sejarah dan peradaban masa lalu.
Pada Minggu siang itulah (13/9/26), mewakili Komunitas Kota Raja, Ali Topan dan Puri Aksara Rajapatni, Nanang Purwono, mencari dan menemukan sumber yang pas untuk bahan lomba sesuai dengan tema peringatan Bulan Bahasa dan Sastra..
Bagi para peserta, bisa mulai berlatih menulis berdasarkan cuplikan (potongan) dari sumber aslinya, Serat Wulangreh Pupuh Dandanggula dan Pangkur.
Acara ini diselenggarakan oleh kolaborasi Puri Aksara Rajapatni, Pasopati Cakra Nusantara, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan Kota Raja, yang didukung oleh Panjebar Semangat, Penabudaya.com dan Leeven and Co. Creative Space.
Panitia masih membuka kolaborasi dan dukungan. (PAR/nng)
