Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Mendengar perkataan bahwa Surabaya tidak punya manuskrip atau pun prasasti, apalagi yang tertulis dalam aksara tradisional, rasanya sungguh menyedihkan.
Fakta otentik menunjukkan bahwa ada prasasti beraksara Jawa Kuna (Kawi) dan Baru (Carakan) yang mengisahkan tentang Surabaya. Artefaknya masih ada dan bisa dilihat tanpa menggunakan kaca pembesar.
Bahkan di salah satu gapura komplek Sunan Ampel terdapat inskripsi yang tertulis dalam Aksara Jawa Baru (Carakan) yang berbunyi “Kertining Pandhita Winayang ing Ratu”, yang bermakna tindakan pemimpin spiritual dipandu raja.
Inskripsi ini melambangkan sejarah peradaban dan hubungan kekuasaan masa lalu.Rincian Candrasengkala ini adalah:

Kĕrti: bernilai angka 4, Paṇḍita: bernilai angka 7, Winayang: bernilai angka 6, Ratu: bernilai angka 1
Pembacaan tahun: Dibaca dari belakang menjadi 1674 tahun Saka, yang setara dengan sekitar tahun 1748–1749 Masehi yang bertepatan pada masa akhir pemerintahan Pakubuwana II.
Candrasengkala ini menunjukkan adanya kekuasaan Mataram atas Surabaya karena Surabaya memang berhasil ditaklukkan Mataram pada 1625 M. Sejak itu, pengaruh Mataram atas Surabaya dimana mana.
Di komplek pemakaman para Bupati Surabaya di Sentono Agung Botoputih Pegirian terdapat kuburan yang tertulis dalam aksara Jawa (Carakan).
Selain itu media media massa dan iklan iklan tempo dulu terbit menggunakan aksara Jawa. Termasuk placard placard bahaya tersengat listrik ditulis dalam aksara Jawa.
Pendirian masjid Kemayoran Surabaya pun ditandai dengan prasasti beraksara Jawa. Artefaknya masih ada, terpampang besar di tembok dalam masjid.
Atas pernyataan pihak bahwa tidak ada prasasti dan Manuskrip beraksara tradisional tentang Surabaya, bisa jadi yang bersangkutan belum pernah melihat buktinya atau yang bersangkutan salah ngeluyur.
Kini saatnya ngeluyur untuk mengenal sejarah Surabaya. Artefaknya tidak lari. Semua adalah fakta bahwa leluhur Surabaya menggunakan aksara tradisional.
Surapringga
Seorang filolog yang seorang dosen FIB Unair Abimardha Kurniawan menuliskan dalam ensiklopedia Surabaya bahwa Surabaya pernah memperoleh sebutan Surapringga. Hal itu terjadi pasca invasi Mataram-Islam ke bagian timur pulau Jawa pada abad ke-17. Walaupun belum jelas apakah perubahan nama itu terjadi secara resmi ataukah sekadar sebutan belaka, akan tetapi terdapat sejumlah petunjuk yang menyatakan bahwa Surapringga pernah
digunakan sebagai nama resmi. Sebagian besar pertunjuk itu berasal dari abad ke-19.
Pertama, inskripsi pada koin keluaran kongsi dagang Inggris, East Indian Company (EIC),
yang berasal dari awal abad ke-19. Inskripsi dengan aksara Jawa pada salah satu sisi koin berbunyi: Ĕmpni Ingglis yasa ing Surapringga 1744, artinya ‘(mata uang) Kompeni Inggris dibuat di Surabaya 1744’. Tahun 1744 tarikh Jawa bertepatan dengan tahun 1817 Masehi.
Kedua, nama Surapringga juga terdapat pada inskripsi pada Masjid Kemayoran yang terletak di Jl. Indrapura no.2, Surabaya. Pada inskripsi berangka tahun 1773—1776 Jawa (sekitar 1845—1848 Masehi) itu, status Mr. Daniel François Willem Pietermaat sebagai Residen Surapringga (menjabat 1839—1846), sementara Raden Tumĕnggung Kramajayadirana sebagai Bupati Surapringga. Nama Surapringga juga lazim digunakan dalam surat resmi dari para pejabat lokal kepada pejabat kolonial sekitar tahun 1875—1876 (Te Mechelen 1905, surat nomor 16, 28, 43, 44, 47, 48, 55, dan 59).
Tidak hanya pada dokumen dokumen formal, penggunaan nama Surapringga juga pada teks-teks karya sastra Jawa abad ke-19. Salah satu yang terkenal adalah Sĕrat Cĕṇṭini yang digubah ketika Pakubuwana V masih menjadi putra mahkota di kasunanan Surakarta.

“wong pipitu majĕng gĕnti-gĕnti, samya umatur lampah dinuta, ing putra ken nyaosake, ing patumbasing apu, saking Surapringga, Garĕsik, Sidayu myang Tuban, ing Rĕmbang pra sunu, kang pisumbang tinampanan, sĕdaya wus katur mring Jĕng Kyai Bayi, ingkang rong puluh real”
(Tujuh orang maju bergantian. Semua berkata bahwa mereka diutus seseorang. Sang anak disuruh untuk mengaturkan kapur yang telah diberi di Surabaya, Gresik, Sedayu, dan Tuban di wilayah Rembang. Anak-anaknya yang menerima sumbangan, semua telah diberikan kepada Kyai Bayi sejumlah 20 real. (Sĕrat Cĕṇṭini 40.92.; Sasradipoera 1912)
Dalam catatan Filolog Abimardha ini, Surabaya (d/h Śūrapringga) ditulis dalam manuskrip Serat Centini). (PAR/nng)
