Kembali ke Kesadaran Nusantara.

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Kembali ke kesadaran Nusantara adalah proses menggali dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur bangsa, seperti gotong royong, Bhinneka Tunggal Ika, dan musyawarah mufakat, sebagai fondasi berpikir dan bertindak. Ini adalah langkah untuk tidak kehilangan jati diri di tengah modernisasi. Di dalamnya ada kesadaran berliterasi menggunakan Aksara Jawa. Mengapa?

Literasi Aksara Jawa (Nusantara) merupakan kunci untuk menjaga identitas kultural dan filosofis bangsa. Aksara ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan warisan budaya bernilai luhur yang memuat ajaran moral tentang kehidupan, harmoni, dan ketuhanan. Mempelajarinya membuat kita tetap berakar kuat di tengah arus modernisasi.

Sekarang ini kita merasa sekali bahwa modernisasi telah merenggut tradisi. Modernisasi dan Globalisasi seringkali menggeser posisi Tradisi. Gaya hidup modern yang serba cepat dan individualistis kerap membuat nilai-nilai lokal, seperti gotong royong dan ritual adat, mulai terpinggirkan. Hal ini menjadi tantangan nyata bagi identitas budaya kita, termasuk kecerdasan leluhur dengan aksara sebagai perekam peradaban.

Misalnya, kita tidak akan tahu bagaimana bunyi bahasa, yang pernah digunakan oleh masyarakat Majapahit jika kita tidak bisa membaca aksara yang terpahat pada prasasti prasasti.

Membaca dan mengkaji aksara pada Prasasti Nusantara adalah kunci utama bagi para ahli untuk merekonstruksi tata bahasa, kosakata, dan fonologi (bunyi bahasa) yang pernah digunakan oleh masyarakat pada masa Kemaharajaan Majapahit.

 

Peran Aksara dalam menemukan Bunyi Bahasa Majapahit.

Para ahli mengandalkan dua cabang ilmu utama untuk membunyikan kembali bahasa Majapahit dari peninggalan tertulis:

 

Pertama, Epigrafi:

Membaca dan menafsirkan tulisan kuno pada media keras seperti prasasti batu atau lempengan tembaga. Masyarakat Majapahit umum menggunakan Aksara Kawi (turunan dari aksara Pallawa) dan kemudian berkembang ke arah bentuk Aksara Jawa Baru (Hanacaraka)

 

Kedua, Filologi:

Mengkaji naskah-naskah kuno (seperti daun lontar atau kertas) yang memuat karya sastra penting pada masa itu.

Melalui dua metode di atas, kita bisa mendengarkan bagaimana bunyi bahasa, yang tertulis dalam aksara Jawa Kuna (Kawi) yang terpahat pada prasasti dan tertulis pada manuskrip.

 

Semangat Komunitas

Kartu beraksara Jawa. Foto: tfk

Komunitas komunitas budaya, khususnya yang membidangi Aksara Jawa, harus terus bergerak dan bersinergi. Pada Kamis (23/7/26) alat permainan Kartu Aksara Jawa diluncurkan di Taman Budaya Jawa Timur di jalan Genteng Kali Surabaya, yang akan diluncurkan oleh Ketua Komisi E DPRD Jatim, Dr. Dra. Sri Untari dan Seniman Taufik Monyong.

Ornamet beraksara Jawa di DPRD Jatim..Foto: bgs

Selain itu Komunitas Pasopati Cakra Nusantara juga bergiat berkreasi seni berdasarkan Aksara Jawa yang hasil karyanya juga mulai menghiasi DPRD Jatim. Selain itu juga sudah ada Galeri Aksara Nusantara yang menawarkan bermacam macam karya yang berbasis aksara Jawa.

Produk produk beraksara Jawa. Foto: bgs

Komunitas budaya memang harus bergerak demi memajukan budaya Aksara Nusantara sebagai salah satu identitas bangsa. Bila komunitas sudah bergerak secara mandiri, maka berikutnya harus ada estafet demi menggulirkan semangat Undang Undang Pemajuan Kebudayaan.

Akan lebih praktikal lagi bila UU 5/2027 tentang Pemajuan Kebudayaan dapat di lokalkan dalam Perda yang langsung mengatur Aksara Jawa, Bahasa Lokal dan Sastra. Jawa Timur memiliki karya literasi yang menjadi bukti kecerdasan era Majapahit. Yaitu Aksara Jawa Kuna (Kawi) dan berikutnya berevolusi ke Aksara Jawa Baru (Carakan).

Komunitas penggerak Aksara Jawa, tetaplah semangat dalam membangun ekosistem budaya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *