Budaya.
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Aksara (Jawa) itu lintas ruang ( negara) karena dua alasan utama: akarnya yang berasal dari India (sebagai bagian dari rumpun aksara Brahmi/Pallawa) dan penggunaannya yang menyebar di era kerajaan Nusantara kuno ke wilayah Asia Tenggara Maritim (seperti Semenanjung Malaya dan Filipina) melalui jalur perdagangan. Di era modern ini, digitalisasi (UNICODE) membuat aksara ini dapat diakses dan dipelajari dari seluruh dunia.
Di Belanda misalnya, tempat terbaik dan paling terkenal untuk mempelajari bahasa dan aksara Jawa adalah di Leiden University (Universitas Leiden).

Universitas ini memiliki pusat kajian Indonesia tertua dan menawarkan program atau mata kuliah, yang meneliti bahasa, sastra, serta aksara Jawa Kuno maupun Modern. Kelas spesifik seperti Javanese Language in/as Culture atau kursus filologi sering diajarkan oleh pakar terkemuka di universitas itu.
Cuma, belakangan kelas aksara Jawa sementara tidak aktif. Yang ada kelas percakapan Jawa – Belanda.
“Sudah Ndak ada mas, Yang ada hanya kelas conversation Bahasa Jawa – Belanda”, demikian kata Adrian Perkasa, peneliti di kampus Universiteit Leiden, Belanda.
Sementara itu, di the British Library, Inggris, aksara Jawa Masih menjadi objek penelitian. Dari hasil penelusuran kepustakaan, diperoleh keterangan bahwa “The British Library holds one of the world’s largest collections of Javanese manuscripts. Acquired mainly during the British administration in Java (1811-1816), it includes approximately 240 modern Javanese and 20 Old Javanese texts. These are actively researched, and thousands have been digitized”,

(British Library memiliki salah satu koleksi naskah Jawa terbesar di dunia. Koleksi ini, yang sebagian besar diperoleh dari masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811–1816), mencakup sekitar 240 naskah beraksara Jawa modern dan 20 naskah aksara Jawa Kuno. Naskah-naskah tersebut terus diteliti secara aktif, dan ribuan di antaranya telah dialihmediakan ke dalam bentuk digital).

Di Suriname Aksara dan Bahasa Jawa masih dipelajari oleh masyarakat keturunan Jawa di Suriname, bahkan komunitas di Suriname berkolaborasi dengan Indonesia untuk mendaftarkan tradisi penulisan aksara tradisional, termasuk aksara Jawa (Hanacaraka), sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) UNESCO melalui pengajuan bersama (joint nomination).

Salah satu warga di kota Taman Redjo, Saptopawiro, masih mengenal aksara Jawa karena profesinya sebagai dalang wayang kulit. Coretan coretan aksara Jawa masih menghiasi rumahnya.
Bagaimana aksara Jawa di rumahnya sendiri, Jawa? Mestinya mendapatkan tempat yang layak untuk berkembang. Aksara Jawa sepertinya bukan aksara lokal dibandingkan dengan aksara asing. (PAR/nng)
