Hipotesis & Dugaan Lokasi Śūrabhaya dan Bukul.

Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Menyimak peta peta lama tentang Surabaya sebagaimana diperoleh dari laman https://www.oldmapsonline.org dan Wikipedia bahwa situasi/peta Surabaya tertua adalah dari tahun 1677 M. Peta ini dibuat sebagai pemetaan pos pos pertahanan Trunojoyo di kawasan Surabaya tat kala diserbu pasukan Speelman VOC, utamanya di sekitar Kota Lama Surabaya.

 

Peta 1677

Peta Surabaya 1677. Foto: wiki

Dari sumber Soerabaja 1900-1950, terbitan Asia Mayor, dituliskan bahwa VOC mulai masuk wilayah Surabaya pada 1612 dalam sebuah misi dagang dan bertemu seorang pimpinan Surabaya, yang tidak diketahui namanya. Pertemuan itu terjadi di sebuah dermaga sungai, yang diduga di kawasan Kota Lama, yang kala itu sudah bermukim warga etnis Tionghoa.

Di sanalah kemudian bangsa Eropa ini mendirikan pos dagang (trading Post) di barat sungai yang berseberangan dengan pemukiman yang sudah ada sebelumnya di timur sungai (Kalimas).

Dalam gambaran pemetaan pos pos pertahanan Surabaya, ini terpusat di kawasan Kota Lama termasuk Ampel Denta. Di sana sudah ada permukiman. Cuma tidaklah ramai.

Di bagian selatan Surabaya belum ada gambaran sebuah permukiman

 

Catatan 1706

Dalam catatan lain bahwa pada 1706, kawasan Keputran sudah tergambar pada peta buatan Belanda. Pada masa itu, wilayah ini berkembang menjadi pusat perdagangan strategis di tepi Sungai Kalimas, yang kini tersohor dengan nama Pasar Keputran.

 

Kawasan Penting:

Keputran dulunya dikenal sebagai lingkungan istimewa dimana kerabat Keraton tinggal disana. Area ini terhubung dengan Simpang dan Kupang dimana kediaman penguasa VOC berada.

 

Perkembangan Masa Kolonial: 

Pada abad ke-17 hingga ke-18, wilayah ini mulai dihuni oleh masyarakat pribumi dengan kedudukan penting dan para bangsawan.

 

Jalur Perdagangan Kalimas: 

Karena lokasinya yang strategis di dekat Sungai Kalimas (jalur transportasi utama zaman dulu), Keputran tumbuh menjadi pusat distribusi barang dan cikal bakal tumbuhnya pasar tradisional yang masif.

 

Peta 1787

Letak Keputran, Simpang (Utara) dan Kupang (barat). Foto: ist

Baru pada peta tahun 1787 ada gambar peta yang semakin ke Selatan, dan disana ada gambaran permukiman di Keputran. Kawasan Keputran terhubung dengan kawasan Simpang dengan Grahadi (di Utara) dan Kawasan Kupang dengan gedung rumah Setan (di Barat).

Semakin ke Utara dari Simpang, ada pemukiman di antara dua jalur sungai Kalimas dan Pegirian. Inilah Sulung dimana tergambar kawasan permukiman Eropa di sekitarnya. Letaknya di tepian Kalimas.

Jadi Keputran dan Sulung berada di tepi sungai Kalimas. Jika menyimak hipotesis GH von Faber dari buku Eer Werd Een Stad Geboren (Lahirnya sebuah Kota), terbitan tahun 1953, di kawasan Utara Peneleh yang masuk kampung Sulung dan Pengampon digambarkan sebagai permukiman yang sudah ada pada 1275 dan bernama Surabaya.

Apakah kawasan ini yang menjadi titik peradaban manusia sebagaimana ditulis oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk pada 1358 M melalui Prasasti Canggu?

Śūrabhaya di kawasan Peneleh, Pengampon dan Sulung. Sementara Kawasan Keputran adalah Bukul (Bungkul).

Jika kemudian Bungkul dikenal dengan kawasan (yang ditandai dengan makam Ki Ageng Bungkul) bisa jadi logis karena kawasan pemakaman umumnya ditempatkan pada titik yang terpisah dari kawasan permukiman.

Sebagai perbandingan adalah dengan kawasan Eropa di Kota Lama, yang kawasan pemakamannya dicarikan di daerah pinggiran. Yaitu di Peneleh sebagai ganti kawasan Krembangan, yang kala itu sudah berada di luar tembok kota.

Cerita di atas adalah analisa. Anda punya pendapat? (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *