Prasasti Siwagrha Bicara Saat Kedatangan PM India Narendra Modi.

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ada satu tetenger penting terkait dengan Candi Prambanan. Yaitu prasasti Siwagrha (856 M). Candi ini pada 8 Juli 2026 dikunjungi oleh rombongan Perdana Menteri India Narendra Modi dan Duta Besar India untuk Indonesia Shri Sandeep Chakravorty. Kunjungan ini sebagai rangkaian kegiatan Renovasi Candi oleh kolaborasi Indonesia dan India sebagai bentuk penguatan hubungan bilateral ke dua negara.

Shivagrha inscription atau Prasasti Siwagrha di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Foto: wiki

Tetenger, yang bernama Prasasti Siwagrha ini, merangkai sejarah pendirian candi, aksara Jawa Kuno dan Bahasa Jawa Kuno. Sementara kata “Siwagrha” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Rumah Siwa”.

PM Narendra Modi. Foto: konhorindia

Kunjungan kekinian rombongan PM India menjadi penguatan hubungan bilateral di bidang kebudayaan antara kedua bangsa.

Komplek Candi Prambanan. Foto: wiki

Terkait dengan kunjungan ini, alangkah baiknya kita melihat seperti apa isi secara umum dari Prasasti Siwagrha ini. Berikut kutipan dari sumber: https://kekunaan.blogspot.com/2012/07/prasasti-siwagrha.html?m=1

 

Tentang Prasasti Siwagrha

Cuplikan prasasti Siwagrha. Foto: wiki

Prasasti Siwagrha berangka tahun 778 Saka (856 M) dengan candrasengkala “Wwalung gunung sang wiku”. Prasasti, yang berbentuk batu ini, berbahasa dan aksara Jawa Kuno, dan kini menjadi koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.28.

Prasasti ini berisi tentang peresmian bangunan suci untuk Dewa Siwa, yaitu Siwagraha dan Saiwalaya serta sekaligus memberikan uraian terperinci mengenai sebuah kompleks bangunan suci agama Siwa, yang menurut para ahli adalah kompleks Candi Prambanan, yang diresmikan oleh Rakai Pikatan.

Prasasti ini menyebutkan peperangan antara Raja Balaputra dan Rakai Pikatan. Karena kalah perang, Balaputra melarikan diri dan membangun tempat pertahanan di atas kaki bukit Ratu Boko, sebagai tanda dalam pertempuran melawan Rakai Pikatan, yang berlangsung di bukit Boko.

Candi Prambanan tanda kemenangan. Foto: wiki

Atas kemenangan Rakai Pikatan terhadap Balaputradewa, tampaknya Candi Prambanan dibangun sebagai simbol kebangkitan kerajaan Mataram Kuna setelah sebelumnya mengalami masa tidak stabil, antara lain akibat peperangan dan perpindahan ibukota sebanyak tiga kali.

Lalu Prasasti ini dikeluarkan oleh Dyah Lokapala (Rakai Kayuwangi) segera setelah berakhirnya pemerintahan Rakai Pikatan, di mana dalam prasasti Siwagrha disebutkan tentang adanya seorang raja, yang mengundurkan diri dan menyerahkan tahta kepada anaknya yaitu Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala.

Rakai Pikatan terkenal dengan konsepnya Wasesa Tri Dharma, yang berarti tiga sifat yang mempengaruhi kehidupan manusia.

 

Konsep Wasesa Tri Dharma

Konsep ini adalah filosofi kepemimpinan atau nilai moral yang merujuk pada tiga sifat luhur, yang memengaruhi kehidupan manusia. Istilah ini sangat erat kaitannya dengan sejarah kebudayaan Jawa, khususnya yang tercantum pada Prasasti Siwagrha (Candi Prambanan) dari masa Kerajaan Mataram Kuna.

Filosofi ini mengajarkan tiga pegangan hidup utama, Yaitu:

Wasesa: Berarti kekuasaan, kewenangan, atau kemampuan untuk bertindak dan memerintah. Dalam konteks kepemimpinan, ini adalah kapasitas seorang pemimpin untuk mengayomi dan mengambil kebijakan yang tepat demi kesejahteraan rakyatnya.

Tri: Bermakna tiga.

Dharma: Berarti kewajiban, kebajikan, aturan moral, atau pengabdian.

 

Sumber:

https://kekunaan.blogspot.com/2012/07/prasasti-siwagrha.html?m=1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *