Paleografi Bukan Bagian Dari Bahasa. Apa itu Paleografi?

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sangat menarik untuk menegaskan posisi masing masing Objek Kebudayaan dalam upaya pemajuan Kebudayaan antara Bahasa dan Aksara, yang selama ini belum dijangkau melalui Undang Undang 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Objek Bahasa telah diatur dalam 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dalam Pasal 5, UU 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Sementara Objek Aksara belum diatur, tapi dianggap bagian dari Objek Bahasa. Menurut beberapa ahli linguistik, diantaranya adalah Ferdinand de Saussure dan Herman Van der Tuuk, bahwa bahasa dan aksara berbeda.

Hal itu ditegaskan lagi dalam Ilmu, yang secara khusus mempelajari, membaca, dan meneliti bentuk perkembangan tulisan serta aksara kuno disebut paleografi.

 

Paleografi

Naskah beraksara Jawa. Foto: ist

Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yakni palaios (tua/kuno) dan graphein (menulis). Paleografi sangat penting dalam dunia arkeologi dan sejarah karena membantu para ahli untuk membaca, memahami, serta menentukan perkiraan usia sebuah naskah atau prasasti kuno.

Secara akademis, paleografi tidak dibagi menjadi cabang-cabang teoritis yang baku, melainkan diklasifikasikan berdasarkan wilayah geografis, rumpun bahasa, jenis aksara, serta periode sejarah spesifik.

Hal ini karena bentuk tulisan kuno berevolusi secara berbeda di setiap peradaban dunia.

Berdasarkan pencarian bebas, terdapat spesialisasi atau pengelompokan dalam studi paleografi, yang umum dipelajari oleh para sejarawan dan filolog berdasarkan wilayah dan rumpun aksara. Yaitu:

 

Paleografi Nusantara:

Fokus meneliti perkembangan aksara-aksara asli Indonesia dari masa ke masa, seperti aksara Jawa Kuno (Kawi), Bali, Sunda Kuno, Batak, Lontara (Bugis), dan Kaganga.

 

Paleografi Latin / Barat:

Cabang paling masif yang mempelajari transisi tulisan tangan Eropa, mulai dari huruf kapital Romawi, huruf kursif abad pertengahan (Carolingian minuscule), gaya Gotik, hingga tulisan humanis era Renaisans.

 

Paleografi Yunani: 

Mengkaji sejarah perkembangan huruf-huruf Yunani kuno yang ditulis pada media papirus, perkamen, dan kertas.

 

Paleografi Semit / Arab: 

Mempelajari evolusi tulisan Arab kuno beserta gaya kaligrafinya (seperti model Kufi awal dan Naskhi), serta aksara Ibrani dan Aram.

 

Paleografi Asia Timur:

Berfokus pada evolusi tulisan piktograf dan ideograf seperti karakter Cina kuno (Hanzi), serta adaptasinya di Jepang (Kanji) dan Korea.

 

Evolusi Tulisan

Berdasarkan Fase Evolusi Tulisan, maka para ahli paleografi juga mengelompokkan studi mereka berdasarkan tahapan perkembangan sistem tulisan manusia.

 

Studi Piktograf & Ideograf (Fase Awal).

Mempelajari tulisan berbasis gambar dan lambang objek, seperti Hieroglif Mesir atau tulisan suku Aztec.

Studi Silabik (Suku Kata): Mempelajari aksara yang satu hurufnya mewakili satu suku kata, seperti aksara Pallawa, Dewanagari, dan Jawa.

 

Studi Alfabetis & Konsonantal.

Ilmu yang mempelajari sistem tulisan modern yang satu hurufnya mewakili satu bunyi (seperti huruf Latin).

Pilihan, yang sangat menarik, adalah Paleografi Nusantara yang menjadi gerbang untuk membaca langsung catatan rahasia masa lalu, mulai dari surat perjanjian di atas daun lontar, silsilah raja, hingga mantra kuno.

 

Belajar Paleografi

Untuk mulai mempelajari Paleografi Nusantara secara otodidak maupun akademis, ada peta panduan, konsep dasar, dan langkah praktis yang bisa diikuti.

 

Peta Evolusi Aksara Nusantara (Garis Waktu)

Sebelum membaca, seseorang wajib memahami silsilah penulisan di Indonesia. Hampir seluruh aksara asli Nusantara (kecuali Pegon dan Jawi) adalah turunan dari Aksara Brahmi di India.

 

Evolusinya terbagi menjadi beberapa fase besar:

Fase Pallawa (Abad ke-4 – 8 M): 

Aksara tertua yang masuk ke Nusantara, dibawa dari India Selatan. Digunakan pada prasasti Yupa (Kutai) dan prasasti Tarumanegara. Bentuknya cenderung kaku, monumental, dan tebal.

 

Fase Kawi / Jawa Kuno (Abad ke-8 – 16 M):

Hasil naturalisasi aksara Pallawa oleh leluhur Nusantara agar lebih mudah ditulis di daun lontar. Aksara Kawi merupakan induk dari sebagian besar aksara daerah di Indonesia.

 

Fase Aksara Madya & Modern (Abad ke-16 M – Sekarang):

Aksara Kawi pecah dan berevolusi menjadi aksara daerah masing-masing seperti Aksara Hanacaraka (Jawa, Sunda, Bali), Aksara Lontara (Sulawesi), dan Aksara Batak/Kaganga (Sumatera).

 

Fase Modifikasi Arab (Abad ke-13 M – Sekarang):

Muncul akibat masuknya Islam, menghasilkan Aksara Jawi (bahasa Melayu berhuruf Arab) dan Aksara Pegon (bahasa Jawa/Sunda berhuruf Arab).

 

Kesimpulan

Jelaslah berbeda antara bahasa dan aksara. Ilmu, yang secara khusus mempelajari, membaca, dan meneliti bentuk perkembangan tulisan serta aksara kuno disebut paleografi.

Paleografi adalah ilmu yang berdiri sendiri secara terpisah, bukan bagian dari bahasa. Meskipun objek kajiannya adalah teks atau tulisan, paleografi berfokus pada aspek fisik dan sejarah tulisan itu sendiri, bukan pada makna bahasa, tata bahasa, atau kosa kata.

Dalam lingkup studi akademis, paleografi diposisikan sebagai ilmu bantu sejarah atau arkeologi teks, bukan cabang dari linguistik (ilmu bahasa). (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *