Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Setiap tanggal 6 Juni diperingati sebagai hari lahir Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno lahir tepatnya pada 6 Juni 1901, di kawasan yang dikenal dengan nama Peneleh, sebagaimana diakui oleh pihak pihak di Surabaya.
Sementara itu pihak pihak di Jombang berpendapat bahwa Soekarno lahir di Ploso Jombang. Perdebatan tentang tempat lahir Soekarno ini masih berlangsung. Apalagi ketika masuk dalam peringatan hari lahir Soekarno.

Lepas dimanakah tempat lahir Soekarno bahwa di Museum Rumah Lahir Bung Karno (RLBK) di Pandean, Kelurahan Peneleh, Surabaya, terdapat narasi tentang kelahiran Soekarno dan riwayatnya hingga menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

Rumah Indekos
Rumah Lahir Bung Karno ini tidak jauh dari Rumah Indekost Bung Karno di Peneleh VII. Rumah Indekost Bung Karno ini adalah rumah HOS Tjokroaminoto, bapak bangsa. Soekarno indekos di tempat ini ketika bersekolah di HBS Soerabaia, setingkat SMA di era Hindia Belanda. Yaitu mulai 1916-1921. Kala itu HBS Soerabaia berada di Kebon Rojo di kawasan kota lama Surabaya, tidak jauh dari Peneleh.

Di masa muda inilah Soekarno banyak menimba ilmu di luar sekolah. Yaitu di rumah pak Tjokro karena di rumah indekos itu juga berdiam tokoh tokoh seperti Semaoen, Musso, Alimin, Kartosoewirjo, dan Darsono.
Dari rumah kos kosan ini tumbuhlah mereka jadi pemimpin pemimpin organisasi yang berbeda. Soekarno menjadi tokoh Nasionalis, Musso (tokoh komunis yang memimpin peristiwa Madiun), S.M. Kartosoewirjo (pendiri Darul Islam/TII), Alimin (salah satu tokoh senior Partai Komunis Indonesia) dan Darsono (salah satu pendiri dan pemimpin awal PKI). Masing masing memiliki idealisme berbeda.
Trisakti Soekarno
Dalam perkembangannya sebagai pemimpin, Soekarno terkenal memiliki Trisakti. Trisakti adalah gagasan Presiden Soekarno, yang dicetuskan pada pidato Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1964, yang berisi tiga pilar utama. Yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Visi ini bertujuan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri, bermartabat, dan tidak bergantung pada negara lain.
Tiga pilar utama Trisakti ini mencakup poin-poin.
Berdaulat di bidang politik: Menekankan bahwa bangsa Indonesia harus merdeka dan berdaulat penuh, bebas menentukan arah kebijakan dalam negeri maupun luar negeri tanpa campur tangan atau didikte oleh bangsa lain.
Berdikari di bidang ekonomi: Mengarahkan agar Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dengan menggali dan memaksimalkan potensi sumber daya nasional, sehingga perekonomian negara tidak bergantung pada bantuan atau sistem kapitalisme asing.
Berkepribadian dalam kebudayaan: Mendorong masyarakat agar tetap memiliki jati diri, karakter, serta menghargai akar budaya bangsa sendiri, sehingga tidak mudah tergerus oleh arus globalisasi maupun budaya luar.
Prinsip Bangsa
Berkepribadian dalam kebudayaan adalah prinsip, yang menekankan bahwa karakter, moralitas, dan identitas suatu bangsa harus berakar kuat pada nilai-nilai luhur budayanya sendiri. Konsep ini memandu masyarakat agar tidak mudah kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi dan globalisasi.
Konsep ini dapat diwujudkan melalui beberapa aspek. Pewarisan Karakter: Nilai budaya seperti gotong royong, toleransi, dan musyawarah membentuk watak khas masyarakat melalui proses enkulturasi.
Pendidikan Karakter: Sistem pendidikan nasional diarahkan untuk mencetak generasi muda yang cerdas namun tetap berakar pada budaya bangsa.
Ketahanan Budaya: Kebudayaan lokal berfungsi sebagai filter untuk menyaring pengaruh negatif dari budaya luar.
Regulasi Pemerintah: Aturan seperti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menjadi pedoman perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya nusantara.
Itulah gagasan Soekarno, yang masih relevan hingga sekarang dan tentunya untuk waktu waktu mendatang. Bagi sang Proklamator, membangun sebuah bangsa tidak hanya soal fisik, melainkan membangun jiwa melalui pelestarian dan penghargaan terhadap karya kreatif bangsa sendiri. (PAR/nng)
