Aksara Daerah Dimata Linguist Asing Dan Bumi Putera.

Aksara, budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Halangan dan tantangan akan tetap menghadang tapi harus berani dihadapi. Menghadapi tantangan dengan kepala tegak adalah kunci untuk terus tumbuh dan berkembang. Setiap rintangan, yang berhasil diatasi, akan membentuk mental yang lebih tangguh dan membuka jalan menuju kesuksesan yang lebih besar.

Di saat ada rencana memajukan objek Aksara yang bersifat tradisional itu, ada saja tantangannya. Yang ironis adalah tantangan itu datangnya dari orang orang yang berdarah etnis Jawa, dan berbaju serta berkerah budaya Jawa. Inikah bukti bahwa lunturnya suatu budaya itu justru oleh orang yang berbaju budaya sendiri.

Fenomena ini adalah paradoks kultural, yang nyata dan sering terjadi dalam pergeseran zaman. Ketika seseorang, yang secara silsilah berdarah Jawa dan menggunakan atribut budayanya, justru menjadi penantang atau penggerus nilai-nilai budaya tersebut. Hal ini sering disebut sebagai bentuk alienasi kultural dari dalam.

Alienasi kultural dari dalam adalah kondisi psikologis dan sosiologis dimana seseorang merasa terasing, asing, atau kehilangan koneksi emosional dengan akar budaya dan tradisinya sendiri, yang bersumber dari internal masyarakat itu sendiri.

Ini nyata adanya. Terkadang dengan dalil ilmiahnya mereka menolak kehadiran objek budaya itu dalam suatu aturan, yang akan digunakan sebagai alat pemajuan objek Kebudayaan.

Sementara ada orang asing, yang dengan kesadaran dasarnya justru menjunjung budaya Nusantara. Yaitu aksara. Sebut saja nama Herman Van der Tuuk dan Ferdinand de Saussure. Mereka adalah ahli linguistik berdarah asing. Herman Van der Tuuk dikenal sebagai peletak dasar bahasa (daerah) Nusantara termasuk menggali aksara sebagai pembentuk bahasa.

LHerman Van der Tuuk peletak dasar linguistik modern..Foto: ist

Herman Neubronner van der Tuuk (lahir di Malaka, 1824 – meninggal di Surabaya, 1894) diakui sebagai peletak dasar linguistika modern untuk bahasa-bahasa di Nusantara. Ia adalah pionir, yang memetakan akar bahasa daerah dan menyelamatkan berbagai manuskrip kuno, termasuk aksara tradisional sebagai pembentuk dasar bahasa.

Ferdinand de Saussure, linguist modern. Foto: ist

Sementara itu Ferdinand de Saussure adalah ahli linguistik modern, yang menegaskan pemahaman Signifier (Penanda/Aksara) dan Signified (Petanda/Bahasa).

Signifier dan Signified adalah dua Elemen Pembentuk Tanda, yang tidak bisa dipisahkan. Yaitu:

1) Signifier (Penanda/Aksara): Bentuk fisik dari tanda yang bisa dilihat, didengar, atau disentuh (misalnya: coretan huruf “A-J-U-M” atau ꦄꦏ꧀ꦱꦫ.

2) Signified (Petanda/Bahasa): Konsep, gagasan, atau makna mental yang ada di pikiran kita ketika melihat penanda tersebut (misalnya: konsep makanan lezat).

Pemahaman dua ahli linguistik ini hendaknya bisa menjadi acuan ilmiah dalam menghadapi tantangan dan halangan seperti saat ini dimana Aksara dalam proses sebagai bagian dari Raperda Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kejuangan serta kepahlawanan Surabaya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *