Śūrabhaya

Budaya, Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Nama Surabaya, yang berasal dari bahasa Sansekerta (Śūrabhaya) pada mulanya belum memiliki logo bergambar ikan Hiu dan Buaya. Kala itu, nama Śūrabhaya ditulis (diprasastikan) pada pada 7 Juli 1358 M. Śūrabhaya adalah nama sebuah Naditira Pradesa (desa di tepian sungai). Menurut prasasti Canggu bahwa di sepanjang Bengawan ada 44 Naditira pradesa. Śūrabhaya adalah naditira pradesa paling hilir.

Gambar ikan hiu dan buaya, menurut GH von Faber dalam bukunya Oud Soerabaia (1935), baru muncul pertama kali ketika digunakan sebagai gambar kelompok musik orkes ST Caecilia Soerabaia.

Kelompok paduan suara dan orkes gereja St. Caecilia (sering disebut PS. Sancta Caecilia Katedral Jakarta), didirikan pada 22 November 1865 oleh C.G.F. van Arcken. Kelompok ini berbasis di Gereja Katedral Jakarta.

Di Surabaya juga ada kelompok musik ini, yang berbasis di gereja Roomsch Katholiekkerk (Geraja Katolik Roma), yang dulu pernah berdiri di pertigaan jalan Cendrawasih (d/h Roomsch Katholiekkerk) – Branjangan (dlh Boomsteaat) – Merak.(d/h Commediestraat). Gereja katolik Roma itu berdiri tahun 1811.

St. Caecilia termasuk perkumpulan musik Eropa terkemuka di Surabaya pada era Hindia Belanda. Berdiri 28 Februari 1848, kelompok ini sangat bersejarah karena pada peringatan hari jadinya yang ke-10 (1858), mereka memperkenalkan visualisasi dua hewan, Hiu dan Buaya, yang kemudian menjadi cikal bakal lambang resmi Kota Surabaya.

Potret St Cecelia pada kaca timah. Foto: ist

Santa Sesilia (St. Caecilia) adalah nama pelindung para musisi, penyanyi, dan musik gereja. Nama “St. Caecilia” di Surabaya umumnya merujuk pada komunitas koor/paduan suara atau orkes liturgi, yang melayani di paroki-paroki Katolik.

Menurut GH von Faber dalam buku Oud Soerabaia, Grup Musik St Caecilia Soerabaia menggunakan simbol dua hewan: ikan Hiu dan Buaya untuk memvisualikan cerita rakyat Surabaya.

Von Faber menjelaskan bahwa nama Surabaya berasal dari gabungan kata Śūra (berani) dan Bhaya (bahaya), yang secara harfiah dimaknai sebagai “berani menghadapi bahaya” (Śūra ing Bhaya). Śūrabhaya sebagai sesanti tidak bergambar Hiu dan Buaya. Dalam perkembangan zaman akhirnya nama Śūrabhaya menjadi nama kota Surabaya (d/h Soerabaia).

Lambang kota di era Hindia Belanda. Foto: ist

Karena makna dari Śūrabhaya (sifat) memiliki semangat baik (kata sifat, berani menghadapi bahaya), maka sifat itu menjadi nama kota, yang juga sebagai hasil dari perkembangan / perubahan dari Naditira Pradesa Śūrabhaya menjadi nama kota Soerabaia/Surabaya

Seiring dengan hadirnya kelompok orkes St. Caecilia di lingkungan gereja Roomche Katholiekkerk (Gereja Katolik Roma), yang berlogo ikan Hiu dan Buaya (berdasarkan cerita rakyat), maka gambar itu digunakan pula digunakan sebagai gambar logo kota, Soerabaia.

Akhirnya, Kota nya bernama Soerabaia (ejaan Van Ophuysen) dengan sesanti yang berbunyi dan bertulis Śūra ing Bhaya (bahasa Sansekerta), yang artinya Berani Menghadapi Bahaya. Maka sejak itu Kota Soerabaia ber sesanti Śūra ing Bhaya dengan gambar logo sebuah benteng dengan dua singa yang mencengkeram pita yang bertulis Soera ing Baia (Śūrabhaya).

Kala itu di era pemerintahan Hindia Belanda ada kemiripan tulis antara nama kota dan sesantinya. Nama Kota/daerah Soerabaia. Bunyi sesanti Soera ing Baia.

Dalam perkembangan zaman pada pasca kemerdekaan terjadi perubahan gambar logo yang disesuaikan dengan zaman, yaitu bententuk bingkai segi enam berwarna biru dengan tugu pahlawan di tengah, yang dihiasi dengan binatang Ikan Hiu dan Buaya.

Perbedaan gambar pada logo kota di dua zaman. Foto: ist

Ikan Hiu dan Buaya ini merepresentasikan kota yang wilayahnya terdiri dari lautan (disimbolkan binatang kuat di air, Hiu) dan daratan termasuk sungai sungainya (disimbolkan binatang amphibi kuat yang hidup di darat dan sungai, buaya).

Sayangnya sesanti yang bertulis Soera ing Baia, hilang dari gambar. Diduga karena ada kemiripan antara nama kota/daerah dan bunyi sesanti, maka Bunyi sesanti dihilangkan.

Menurut penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe, Dukut Imam Widodo, perancang gambar logo, lupa memasukkan sesanti pada logo kala itu pada 1956. Akhirnya lambang/logo bergambar ikan Hiu dan Buaya tanpa sesanti itu disahkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 193 Tahun 1956 pada tanggal 14 Desember 1956.

Gambar logo kota itu sebelumnya juga sudah diputuskan melalui Putusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) Kota Besar Surabaya No. 34/DPRDS pada 19 Juni 1956.

Logo baru melalui pengesahan tahun 1956 itu masih dipakai hingga sekarang, tapi tanpa ada sesanti yang berbunyi Śūra ing Baya. Maaf, desainernya, menurut Dukut Imam Widodo, kelupaan. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *