Cultural Reserve Bangkitkan Emosi Untuk Memahami

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Di Kota Lama Surabaya ada jasa persewaan kostum tradisional Jawa. Pun demikian di Yogyakarta. Umumnya pakaian disewakan dalam satu paket dengan jasa fotografi. Penyewa bisa dapat kenangan menjadi “orang Jawa”, yang diabadikan dalam potret.

 

Kota Xi’an, China

Jasa wisata itu serupa dengan apa yang ada di mancanegara. Pendiri Puri Aksara Rajapatni, Ita Surojoyo, mendapati jasa pariwisata ini di negeri Tirai Bambu. Di sana ada jasa persewaan kostum tradisional dengan setting bangunan dan lingkungan vintage.

Ita Surojoyo di Xi’an. Foto: IS

Di Xi’an, juga ada jasa sewa kostum tradisional Tiongkok (Hanfu) dan Dinasti Tang. Jasa ini sangat populer di kota itu, terutama di sekitar kawasan museum dan situs bersejarah. Pusat penyewaan terbaik umumnya menyediakan paket lengkap. Paket lengkap itu mencakup pakaian, tata rias dan sesi foto. Harganya bisa lebih dari Rp. 1 juta.

“Melalui trip.com, kalau dirupiahkan, ada paket seharga 1.7jt”, kata Ita Surojoyo, yang sempat berkunjung ke sana dan melihat kesibukan wisatawan berfoto foto dengan pakaian tradisional Tiongkok.

 

Amerika Serikat

Sebagai komparasi dengan di wilayah lainnya, misalnya di salah satu negara bagian Amerika, ada Indian (First Nation) Reserve, dimana wisatawan atau pengunjung tidak hanya punya pengalaman berpakaian tradisional, tapi juga bisa mengalami kehidupan di Reserve itu. Misalnya menikmati menu masakan lokal, merasakan masuk di rumah tradisional Teepee.

Teepee (atau tipi) adalah tenda tradisional berbentuk kerucut, yang menjadi tempat tinggal penduduk asli Amerika (suku Indian) di wilayah Dataran Besar (Plains). Sangat cocok untuk gaya hidup nomaden, tenda ini dirancang agar mudah dibongkar, dipindahkan, dan dibangun kembali saat mereka mengikuti migrasi kawanan bison.

Bahkan bisa ada kesempatan menonton tari tarian lokal. Tarian suku Indian (Penduduk Asli Amerika) merupakan bagian integral dari ritual spiritual, penghormatan terhadap alam, dan pelestarian sejarah suku. Karenanya banyak tari tarian lokal suku Indian Amerika diberi nama nama alam seperti tarian angin, tarian rumput.

Penamaan dan gerakan tarian tersebut bukan sekadar metafora, melainkan bentuk penghormatan mendalam, doa, dan cerminan cara hidup mereka yang menyatu dengan alam.

Juga ada praktik praktik spiritual yang disebut sweat lodge. Sweat lodge adalah bangunan menyerupai tenda atau gubuk berbentuk kubah atau kerucut, yang digunakan oleh masyarakat adat Amerika Utara untuk ritual penyucian, penyembuhan, dan doa.

Mengikuti atau mengalami praktik praktik lokal ini lebih dari sekedar mengenakan pakaian adat untuk fotografi, tapi ikut merasakan (menyelami) tradisi lokal.

Menyelami tradisi lokal secara langsung dapat memberikan pengalaman kultural yang jauh lebih mendalam dibandingkan sekadar menjadi penonton atau mengenakan pakaian adat untuk berfoto. Dengan terjun langsung dan merasakan langsung, pengunjung bisa merasakan makna filosofis dan nilai kebersamaan di balik setiap praktik budaya tersebut.

 

Suriname

Selain di Amerika, juga ada di Suriname. Yaitu pernah adanya pembahasan atas gagasan mengenai rencana dibangunnya kampung Jawa. Ini adalah rencana wahana pariwisata untuk belajar bagaimana orang orang Jawa hidup di tanah baru, Suriname.

Wahana itu berada pada kawasan lahan luas yang disetting menjadi sebuah perkampungan atau Reserve untuk masyarakat etnis Jawa. Selain berfungsi sebagai wahana pelestarian budaya, sekaligus menjadi wahana edukasi tentang sejarah dan budaya orang orang Jawa.

Sebuah contoh, yang sempat menjadi acuan, adalah sebuah Eksibisi Budaya Jawa di komplek Museum Benteng Nieuw Amsterdam. Di kompleks museum ini, dipajang seperti di area bekas rumah sakit atau bangunan dari benteng itu, dimana pengunjung dapat melihat artefak historis dari berbagai etnis yang membentuk Suriname. Peninggalan budaya Jawa, yang ada disana meliputi gamelan, wayang kulit, hingga alat-alat pertanian tradisional yang dibawa oleh imigran Jawa sejak tahun 1890. Wahana ini seperti sebuah museum.

Namun, yang digagas sebagai perkampungan Jawa itu lebih dari sekedar eksibisi kulture, tetapi ada potret kehidupan kultur Jawa. Ada rumah Jawa, orang orang berpakaian dalam adat Jawa serta praktik praktik tradisi Jawa. Dengan demikian para pengunjung bisa melibatkan panca indera mereka.

Pelibatan panca indera ini dapat memberikan pemahaman dan pengalaman yang lebih dalam. Yaitu menciptakan pengalaman imersif yang dapat mengubah informasi biasa menjadi memori yang kuat dan emosional. Konsep seperti ini adalah gambaran ideal dari sebuah wahana edukatif.

Perpaduan bangunan vintage dengan pakaian tradisional. Foto: IS

Kembali ke kota Xi’an, bagi pengunjung seperti Ita Surojoyo, ia dapat melihat bangunan vintage yang dihiasi oleh pengunjung berkostum tradisional. Maka lengkaplah setting vintage itu dengan orang orang yang berpakaian tradisional Tionghoa. Orang orang itu bukan mannequin tapi orang nyata. Pemandangan ini menambah kandungan emosional tempat bersejarah itu.

Eksotik. Foto: IS

Perpaduan antara bangunan tua dan kehadiran orang-orang yang mengenakan pakaian tradisional seperti Cheongsam dan Changshan memang bisa menghidupkan sejarah dan memberikan pengalaman imersif yang luar biasa.

Pemandangan itu serupa dengan kehadiran pengunjung dalam pakaian tradisional sewaan di Yogyakarta dan Kota Lama Surabaya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *