Budaya Kerja Warga Tiongkok

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Ita Surojoyo, pendiri Komunitas budaya aksara Surabaya, Puri Aksara Rajapatni, sudah beberapa hari di Tiongkok, sebuah negara yang peradabannya sudah ada sejak ribuan tahun Sebelum Masehi (SM).

Peradaban masa lalu bukan hal kuno tetapi menjadi bekal dalam mengisi masa depan. Peradaban masa lalu adalah bekal masa depan, bukan sekadar barang kuno, adalah pandangan yang sangat relevan. Demikian pandangan yang ada pada benak Ita Surojoyo saat melihat dinamika di Tiongkok. Sejarah adalah landasan, pelajaran, dan kompas untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Kemajuan teknologi Tiongkok tidak lepas dari praktik praktik tradisional. Kombinasi antara pengetahuan kuno dan inovasi modern menciptakan model pertumbuhan yang unik. Ita Surojoyo tidak hanya memperhatikan bagaimana aksara tradisional Hanzi digunakan di era modern. Ita juga memperhatikan perilaku dan kiat kerja masyarakatnya. Mereka bisa tetap hidup ala tradisional dengan adaptif terhadap kemajuan dan relevansi zaman.

Warga Tiongkok secara umum menunjukkan kemampuan luar biasa dalam memadukan tradisi kuno dengan teknologi modern, yang kemudian menciptakan gaya hidup yang tetap berakar pada budaya namun relevan dengan kemajuan zaman.

Misalnya perayaan Tahun Baru Imlek dan festival lainnya menggunakan teknologi 5G, AI, dan Augmented Reality (AR) untuk pertunjukan, memungkinkan tradisi kuno dinikmati secara visual oleh audiens modern.

Tidak hanya itu para pekerja lapangan (kasar) pun menerapkan kerja praktis dan efisien. Misalnya para pekerja perawatan jalan. Mereka umumnya memilih bekerja di malam hari agar tidak mengganggu lalu lintas.

Perbaikan jalan besar. Foto: ist

Demikian pula dengan pengawasan kondisi jalan, yang jika ditemukan kondisi jalan yang rusak, akan segera diperbaiki agar tidak semakin melebar kerusakannya dan tidak mengganggu pengguna jalan. Ini adalah bentuk layanan umum dari pemerintah kepada pengguna jalan.

Pengawasan dan perbaikan jalan yang cepat (responsif) merupakan wujud nyata dari kewajiban pemerintah dalam memberikan layanan publik yang aman dan nyaman.

Pekerja sedang memperbaiki jalan rusak. Foto: IS

Di sebuah ruas jalan yang tidak ramai, Ita menyaksikan aksi pekerja jalan yang memperbaiki jalan rusak. Aksinya berjalan cepat dan ringkas. Ini juga dikarenakan kerusakan tidak banyak (tidak usah menunggu sampai melebar dan meluas). Ini adalah penerapan pemeliharaan rutin atau pemeliharaan preventif (Pencegahan) jalan.

Ada yang rusak dikit diperbaiki. Inggris kalah dari China”, demikian komentar Ita dalam membandingkan dua negara itu.

Hasilnya sangat membantu pengguna jalan termasuk mendukung perputaran roda perekonomian. Mengurangi hambatan di jalan karena kerusakan. Kerusakan jalan menjadi tanggung jawab pemerintah.

Perbaikan dan pemeliharaan jalan memang memiliki dampak positif yang signifikan, baik bagi kenyamanan pengguna jalan maupun pertumbuhan ekonomi daerah. Jalan yang mulus dan bebas lubang mengurangi hambatan logistik, mempercepat waktu tempuh, dan meningkatkan keselamatan, yang secara langsung mendukung perputaran roda ekonomi lokal.

Itulah pengamatan Ita Surojoyo terhadap budaya kerja warga Guangzhou sebagai bagian dari budaya leluhur. Dedikasi tinggi, ketekunan, dan kerja keras yang terlihat saat ini adalah cerminan dari warisan budaya leluhur yang mengakar kuat. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *