Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Ada warisan besar di gedung besar di jalan Kasuari Surabaya. Gedung besar itu adalah Museum Bank Indonesia. Ia mengajak publik mengeksplor kebesaran itu. Ada refleksi emansipasi Raden Ajeng Kartini dan peradaban Surabaya sebagai kota (desa) di tepian sungai, yang kala itu dikenal sebagai salah satu naditira pradesa.
Seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan perubahan yang menyertai, desa itu berkembang dan menjadi modern dengan hadirnya bangsa Eropa di salah satu titik peradaban. Akhirnya dikenallah sebagai sebuah kota modern. Yaitu Soerabaia, yang berikutnya menjadi Surabaya.
Perjalanan panjang mulai dari Śūrabhaya di masa klasik hingga Soerabaia di masa kolonial, termasuk Surabaya di masa pasca kemerdekaan, menyimpan sejarah peradaban berlapis yang perlu dikenal.
Sejarah panjang itu termasuk mencatat keberadaan komunitas asing di lahan, yang awalnya bernama Śūrabhaya hingga menjadi Soerabaia (Kolonial). Tapi yang sejatinya tetap bertahan adalah komunitas lokal. Mereka tetap berdiam di kawasan, yang berikutnya disebut Surabaya. Sekarang jejak peradaban itu berlabel “Kota Lama Surabaya”.
Jawa dan Madura

Secara otentik yang ada dan berkelanjutan hingga sekarang justru komunitas lokal: Jawa dan Madura. Tapi anehnya nama mereka “terpelanting” dari peta Kota Lama Surabaya. Tong tong sampah di Kota Lama Surabaya mengukir nama nama komunitas asing seperti Eropa, Pecinan, Melayu dan Arab sebagai identitas Kota Lama Surabaya. Komunitas lokalnya (Jawa dan Madura) mana?

Peringatan Hari Warisan Budaya Dunia (World Heritage Day) 2026 di Kota Lama Surabaya ini menjadi pengingat tentang kearifan lokal melalui Aksara Jawa. Aksara inilah yang pernah dipakai oleh masyarakat etnis Jawa dan Madura dalam berkomunikasi tulis kala itu. Mereka kala itu belum mengerti Aksara asing (Latin). Namun lambat laun, generasi penerus justru lebih kenal aksara asing (Latin) daripada aksara nenek moyangnya.
Aksara Jawa dan Sketsa

Melalui penerbitan buku yang berjudul “Serial Sketsa Kota Lama Surabaya”, penulis mengajak masyarakat untuk melawan lupa. Karena Aksara Jawa digunakan dalam penulisan narasi buku, selain aksara latin. Itulah peradaban lokal, yang didokumentasikan dalam kemasan Buku Sketsa Kota Lama Surabaya.

Selain aksara Jawa, juga diidentifikasi adanya ekspresi sosial budaya lainnya yang masih hidup di ruang ruang Kota Lama Surabaya melalui sketsa hasil goresan perupa Budi Irawan. Buku album ini adalah perpaduan aksara Jawa dan sketsa. (PAR/nng)
