Sesanti Luhur Surabaya “Sura ing Baya” Kok Bisa Hilang?

Aksara

Rajapatni.com: SURABAYA – Nama kota umumnya memiliki arti berdasarkan sejarah, geografis, budaya, atau harapan tertentu, yang seringkali berasal dari bahasa daerah atau bahasa asing. Contohnya, Jakarta berarti “kemenangan & kemakmuran”, Surabaya bermakna “berani hadapi bahaya”, dan Yogyakarta berarti “kedamaian”.

Nama kota Surabaya berasal dari bahasa Jawa Kuno atau Kawi yang berbunyi Çūrabhaya, yang ditulis ꦯꦹꦫꦨꦪ (Jawa baru). Sementara dalam Aksara Jawa Kuno (Kawi) adalah sebagai berikut, sebagaimana tertulis pada prasasti Canggu 1358 M.

Çūrabhaya. Foto: sudi

Filolog Yogyakarta, Setya Amrih Prasaja menjelaskan bahwa:

ꦯꦹꦫ Çūra atau Śūra artinya berani. Beda dengan ꦱꦸꦫ Sura yang artinya dewa”, jelas Amrih.

Sementara menurut pegiat budaya dr. Sudi Harjanto “bhaya” (ꦨꦪ) artinya bahaya. Jadi Çūrabhaya berarti berani menghadapi bahaya.

Diketahui bahwa nama untuk manusia pun sama. Yaitu identitas, doa, dan harapan yang disematkan orang tua bagi anaknya, dan itu mencerminkan karakter atau nilai yang diinginkan.

Nama manusia tak ubahnya nama untuk benda dan bahkan kota, yang oleh si pemberi nama, menyimpan arti baik. Bahwa pemberian nama, baik untuk manusia, benda, maupun tempat (kota), bukan sekadar label identitas, melainkan wujud harapan, doa dan filosofi mendalam dari si pemberi nama.

Entah siapa yang memberi nama Çūrabhaya ratusan tahun lalu, yang kini berubah menjadi Surabaya? Yang jelas bahwa Raja Hayam Wuruk (Majapahit) ketika anjangsana di wilayah kekuasaannya pada 1358 M dan berhenti di salah satu naditira pradesa di dekat muara sungai, didapati bahwa Ia berada di desa naditira pradesa Çūrabhaya. Maka dicatat lah nama Çūrabhaya dalam sebuah prasasti yang bernama Prasasti Canggu 1358 M.

 

Sesanti Yang Hilang.

Di era kolonial Belanda, nama Çūrabhaya bergeser menjadi Soerabaia, Soerabaja dan Sourabaya. Namun, apapun bentuk tulisannya, Pemerintah Kolonial masih menyematkan makna dalam sebuah sesanti kota. Yaitu “Soera ing Baja”, yang berarti “berani menghadapi bahaya”. Bangsa Belanda saja paham makna yang luhur itu. Karenanya, dalam emblem kota, dibawahnya terdapat pita yang tertulis “Soera ing Baja”.

Sesanti pada logo Surabaya di era kolonial. Foto: ist
Sesanti yang hilang dari emblem kota Surabaya. Foto: ist

Justru pada pasca kemerdekaan dimana pemerintah Kota Surabaya mendesain logo barunya dengan gambar Tugu Pahlawan di tengah tengan gambar ikan Hiu dan Buaya, yang saling berkejaran atau tarung, justru sesanti “Soera ing Baja” hilang.

Hilangnya sesanti “Soera ing Baja” ini diibaratkan jika sesanti bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” hilang atau sesanti Jawa Timur “Jer Basuki Mawa Bea” lenyap. Loh, sesanti luhur “Soera ing Baja” kok bisa tanggal.

Bhinneka Tunggal Ika, sesanti bangsa Indonesia. Foto:ist

Apakah selama ini warga Surabaya, pemangku Surabaya tidak merasa kehilangan jiwa itu?

“Berani menghadapi Bahaya” adalah jiwa dan nilai luhur Surabaya, yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Siapapun pemberi nama Çūrabhaya beserta maknanya punya harapan baik dari nama itu. Apa tidak ada upaya menyematkan kembali nilai luhur itu?

Sesanti adalah slogan, semboyan, atau pepatah dalam bahasa Jawa yang disusun secara menarik, ringkas, dan penuh makna. Sesanti sering kali mengandung nilai budaya, nasihat, kebijaksanaan, dan prinsip hidup. Secara fungsi, sesanti digunakan sebagai ajaran moral atau semboyan daerah/organisasi.

Djojo ing Bojo, sesanti kota Kediri. Foto: ist
Malang Kucecwara sesanti Kota Malang. Foto: ist
Sesanti kota Blitar Kridha Ngudhi Jaya. Foto: ist

Kota Kediri saja masih punya sesantinya yang berbunyi “Djoyo ing Boyo”. Pun demikian dengan Kota Malang yang berbunyi “Malang Kucecwara”. Tidak ketinggalan Kota Blitar yang memiliki sesanti “Kridha Ngudhi Jaya”. Surabaya? (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *