Sejarah, Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Aksara Jawa menguak jatidiri kota Surabaya, yang secara praktis dikatakan berjiwa “berani menghadapi bahaya”.
Surabaya jangan diartikan Ikan Hiu dan Buaya. Gambar boleh demikian karena simbol Surabaya menggambarkan posisi alami Surabaya, yang terdiri dari laut dan darat. Simbolis penguasa laut itu dideskripsikan sebagai binatang kuat ikan hiu. Sedangkan binatang kuat di darat, yang bisa hidup di dua alam (darat dan air), adalah binatang amphibi “buaya” bukan “katak”.

Simbol kota ini telah dengan cermat diilustrasikan di era kolonial. Di zaman sekarang, kita jangan terkecoh, yang kemudian secara praktis mengatakan Surabaya adalah ikan “Sura” dan Buaya. Dalam kamus biologi tentang fauna, tidak ada ikan “Sura”. Adanya adalah sebangsa ikan lele, mujair, cakalang atau Hiu.
Makna filosofis “berani menghadapi bahaya” hanya bisa didapat dari nama Surabaya yang ditulis dalam Aksara Jawa sesuai dengan makna aslinya yang ditulis dengan aksara Jawa Kuna atau Kawi.
Tulisan “Surabaya”, aslinya Çūrabhaya dalam bahasa Kawi/Jawa Kuna, berdasarkan pembacaan dari Prasasti Canggu (1358 M), yang jika ditulis dalam aksara Jawa menjadi ꦯꦹꦫꦨꦪ. Tulisan ini menurut Filolog Setya Amrih Prasaja dari Yogyakarta berarti “Berani Menghadapi Bahaya”. Sementara makna dari kata Surabaya berdasarkan tulisan latin yang ditransliterasi (ꦱꦸꦫꦧꦪ), maka artinya adalah “Dewa Buaya”.
Ingat, Makna mengandung doa. “Makna mengandung doa” adalah pengingat spiritual yang mendalam, menekankan bahwa setiap ucapan, pikiran, dan harapan yang disadari artinya merupakan bentuk komunikasi dan permohonan kepada Allah SWT.
Surabaya (ꦱꦸꦫꦧꦪ) artinya “Dewa Buaya”. Çūrabhaya (ꦯꦹꦫꦨꦪ) sesuai dengan sumber aslinya di prasasti Canggu artinya “Berani Menghadapi Bahaya”.
Nilai berani menghadapi bahaya ini secara historis dan faktual telah turun menurun mulai dari abad 13 ketika Raden Wijaya dan rakyat Çūrabhaya menghadapi tentara Mongol. Kemudian Raden Trunojoyo bersama rakyat Çūrabhaya (ꦯꦹꦫꦨꦪ) menghadapi tentara VOC di abad 27, disusul kemudian di abad 18 ketika Jaya Puspita bersama rakyat Çūrabhaya (ꦯꦹꦫꦨꦪ) menghadapi tentara Mataram, terakhir ketika arek arek Suroboyo menghadapi tentara Sekutu di tahun 1945.
Harapannya jiwa berani menghadapi tantangan dan bahaya ini menjadi bekal dalam menghadapi tantangan masa depan.
Jadi melalui Aksara Jawa, dapat diketahui sejatinya arti Surabaya yang berjiwa berani menghadapi bahaya. Kalau melalui aksara Latin (Surabaya) yang jika ditransliterasi ke aksara Jawa, maka tertulis ꦱꦸꦫꦧꦪ, yang artinya Dewa Buaya.
Apakah Surabaya artinya “Dewa Buaya” atau “Berani Menghadapi Bahaya”?. (PAR/nng).
