Kritik Membangun Demi Perbaikan.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Sebagai warga kota Surabaya dan sebuah komunitas yang lahir dan tumbuh di kota Surabaya, tentunya senantiasa ada niatan tulus dalam perbuatan untuk menjaga Surabaya menjadi lebih baik, meski itu tidak gampang. Perbuatan tulus ini adalah perjuangan. Perjuangan adalah jiwa Surabaya sebagai kota Pahlawan.

Niatan ini adalah ekspresi semangat Arek Suroboyo, yang sesungguhnya: semangat juang, ketulusan, dan pengabdian tanpa pamrih untuk kota tercinta. Perjuangan memang tidak pernah mudah, namun justru di situlah letak kemuliaan sebuah kontribusi individu maupun komunitas/kelompok.

Kritik adalah bagian dari proses pembangunan. Ini yang umum disebut kritik membangun. Dengan kritik, maka disitu ada kontrol dan pengawasan. Kritik janganlah dianggap sebagai ekspresi musuh atau lawan. Kritik adalah wujud kawan, kawan yang baik. Karena ia mau mengingatkan atas salah dan kurang atas kawannya. Jangan membiarkan dan bahkan melindungi atas kesalahan dan kekurangan kawan. Perbaikilah.

Kritik, yang konstruktif memang bukanlah serangan pribadi, melainkan bentuk kepedulian tertinggi dari seorang kawan atau warga. Warga yang mau mengkritik berarti warga itu mau melihat perubahan ke arah yang lebih baik dan warga itu tidak cukup berpangku tangan. Ia mau berbuat dan menunjukkan dengan tindakan (aktif). Tidak hanya ngomong, tapi berbuat.

Kritik atas sesuatu, bukanlah mengacu bahwa objek kritikan itu jelek tapi hanya ingin agar objek itu lebih baik, yang bisa lebih representatif untuk semua secara common sense (akal sehat). Ini adalah esensi dari kritik konstruktif (membangun). Kritik yang berlandaskan akal sehat (common sense) bukanlah upaya untuk menjatuhkan atau melabeli sesuatu sebagai “jelek”, melainkan sebuah proses evaluasi untuk perbaikan.

Surabaya tentunya mau lebih baik. Mengagendakan suatu aktivitas positif untuk membawa nama baik Surabaya adalah langkah mulia, yang selaras dengan semangat “Arek Suroboyo” untuk terus berkarya dan berprestasi. Surabaya, sebagai Kota Pahlawan dan pusat metropolitan, memiliki potensi besar untuk menonjolkan citra positif melalui berbagai bidang.

Kolaborasi pentaheliks. Foto: ist

Salah satunya adalah di bidang warisan budaya. Ada momen yang bersifat universal yang bisa dilakukan oleh Surabaya. Surabaya adalah pentahelix. Pentahelix yaitu kebersamaan lintas lembaga mulai dari pemerintah, swasta, komunitas, akademisi dan media.

Momen universal itu adalah aksi bersama dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya. Semua negara melakukannya seperti yang telah diagendakan oleh PBB melalui UNESCO dengan peringatan International Heritage Day.

Surabaya melalui kolaborasi pentahelix (pemerintah, swasta, akademisi, komunitas dan media) segera menyelenggarakan peringatan Hari Warisan Budaya Dunia (World Heritage Day) pada April ini.

Akan ada pameran Sketsa Kota Lama Surabaya di Hotel Arcadia Heritage Rajawali Surabaya pada 18 April, yang disusul kemudian dengan Peluncuran Buku Sketsa Kota Lama Surabaya, yang melibatkan lembaga edukasi dalam dan luar negeri di gedung eks De Javasche Bank (Museum Bank Indonesia) di Kota Lama Surabaya pada 25 April 2026.

Dua agenda ini bertempat di Kota Lama Surabaya, yang secara historis, merupakan kawasan Eropa pada masanya (era kolonial). Dua agenda ini dimotori oleh komunitas Puri Aksara Rajapatni. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *