Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Pernah duduk dalam satu meja bundar dengan para pelaku usaha pariwisata Australia dalam sebuah Travel Fair di Jawa Timur beberapa tahun lalu. Mereka adalah pesaing bisnis satu sama lain di negaranya.Mereka sama sama menjual paket Outbound ke Indonesia, khususnya Jawa Timur.
Dapat diduga dan dibayangkan pembicaraan apa, yang bersirkulasi di meja bundar itu. Adalah sebuah rancangan paket, yang sama sama menjual Jawa Timur, termasuk Bromo sebagai primadonanya.

Justru di meja bundar itulah, mereka saling berbagi dan melengkapi, bukannya saling menyembunyikan dan merahasiakan dapur perusahaan. Mereka saling terbuka dalam meramu paket wisata Jawa Timur. Akhirnya masing masing tour operator, yang berbeda perusahaan itu, berakhir dengan paket wisata yang sama.
Service Kualiti
Tapi pada akhirnya akan ada travel operator yang lebih diminati dari lainnya. Bukan karena koleksi objek wisatanya lebih banyak. Bukan. Objek wisatanya sama, jumlah objek nya juga sama. Yang membedakan adalah layanannya (service).
Tour operator, yang lebih diminati pasar, adalah yang mampu memberikan layanan lebih bagus dari lainnya. Selain dari harga yang lebih murah (kompetitif), juga ada insentif insentif lainnya termasuk layanan dalam pelaksanaan tournya.
Tidak lupa, kualitas hubungan antar personal (pelanggan dan perusahaan), sehingga pelanggan bisa repeat order meski harga paket tournya ada yang relatif lebih mahal.
Layanan yang bersifat tak benda/kasar mata itu juga menjadi penentu. Padahal yang kasat mata (bendawi) jumlah objeknya sama, dan tempat tujuan wisatanya juga sama. Kualitasnya lah yang berbeda dan itu penting.
Dalam industri pariwisata, layanan tak berwujud (intangible services) sering kali menjadi penentu utama kualitas dan kepuasan wisatawan, melebihi komponen fisik (tangible) yang ada.
Meskipun objek wisata (alam, bangunan, artefak) sama, layanan yang tak kasat mata, seperti keramahan penduduk lokal, profesionalisme pemandu, kebersihan, kecepatan pelayanan, hingga suasana, membuat satu destinasi lebih unggul daripada yang lain. Termasuk membuat tour operator lebih unggul dari lainnya.
Pengamatan: Suportif, Konstruktif, dan Koordinatif,
Menurut pengamatan penulis, yang pernah menjadi pemandu wisata, dalam meja bundar pelaku usaha jasa pariwisata Australia itu, mereka saling support dan mengisi / melengkapi sehingga terbentuk paket wisata unggulan bersama. Meski paket wisata sama, namun jasa layanan tidak bisa sama. Inilah yang akhirnya membedakan.
Hal yang sama juga berlaku pada upaya menjaga dan melestarikan budaya sebagai usaha bersama. Jika dalam usaha itu ada sifat dan sikap yang tidak supportif, tidak konstruktif dan tidak koordinatif, maka yang terjadi adalah kelambatan dalam berkemajuan dan kegagalan.
Pelestarian budaya bukan hanya tentang memelihara artefak fisik, melainkan usaha bersama (collective action) yang membutuhkan ekosistem yang kondusif. Jika komponen pendukungnya tidak suportif, konstruktif, dan koordinatif, maka upaya tersebut akan menemui jalan buntu. (PAR/nng).
