Menakar Kemampuan dan Kekayaan serta Peluang Berbasis Budaya Aksara Jawa.

Aksara

Rajapatni.com: SURABAYA – Berangkat dari kesamaan object Kebudayaan dalam sebuah Kongres Aksara Jawa di Surakarta pada 2023 maka mulailah bangkit niat dalam pemajuan object Aksara di Nusantara. Aksara adalah object Kebudayaan yang menjadi identitas bangsa.

Aksara Nusantara (Jawa, Bali, Sunda, Lontara, dll.) adalah objek kebudayaan, yang mencerminkan jati diri, sejarah, dan nilai-nilai lokal bangsa Indonesia. Sebagai warisan budaya, aksara tradisional berfungsi sebagai identitas budaya yang membedakan daerah dan melestarikan kearifan lokal di era globalisasi.

 

Kongres Aksara Jawa

Sepulang dari Kongress itulah, mulai menakar kemampuan yang dimiliki oleh orang orang yang masih memiliki kepedulian terhadap pelestarian dan pemajuan aksara.

Selain itu juga menakar kekayaan suatu daerah yang memang memiliki kekayaan object aksara itu. Tidak ketinggalan menakar kekayaan itu sebagai peluang masa depan. Peluang ini adalah kekuatan dalam membawa nama Daerah itu ke kancah global sebagai alat diplomasi budaya.

Ternyata Surabaya memiliki SDM yang berkemampuan, tempat yang secara historis terkait dengan aksara (Jawa) dan peluang sebagai kekuatan yang menjadi sarana object diplomasi kebudayaan dalam kancah global.

Surabaya dalam kancah budaya juga bisa, bisa membangun berdasarkan sumber daya kebudayaan. Melalui Undang Undang Pemajuan Kebudayaan Surabaya bisa mengolah sumber dayanya (baik Sumber Daya Manusia, budaya dan alamnya).

Sejak dari awal ketika sebuah Kongres Aksara Jawa berproses di Surakarta pada 2023 teridentifikasi SDM yang berkemampuan, tempat yang berjejak aksara Jawa dan peluang dalam pembangunan kota melalui kerjasama baik lokal, nasional dan internasional.

 

Lahirnya Puri Aksara Rajapatni

Tidak berselang lama, maka lahirlah sebuah komunitas aksara Jawa, Puri Aksara Rajapatni, pada Desember 2023. Visinya adalah melestarikan warisan leluhur bangsa (Jawa) yang berupa Aksara Jawa di Surabaya. Sedangkan salah satu misinya adalah mendekatkan Aksara Jawa dengan generasi sekarang sehingga melek Aksara Jawa.

Upaya mendekatkan Aksara Jawa ini tidak hanya tertutup untuk kalangan dalam negeri, tetapi juga kemasan Masyarakat luar negeri karena aksara Jawa sendiri pernah dikenal di manca negara. Banyak literasi yang beraksara Jawa diterbitkan di Belanda (Eropa) dan banyak pula artefak artefak baik manuskrip dan prasasti disimpan di luar negeri. Mereka tahu bahwa aksara aksara dalam artefak artefak itu adalah milik bangsa Indonesia.

Karena latar belakang itulah yang mana Surabaya juga menjadi bagian dalam sejarah aksara Jawa, maka lahirlah Puri Aksara Rajapatni, sebuah komunitas budaya aksara Jawa di Surabaya.

 

Konsistensi

Sejak hadirnya Puri Aksara Rajapatni di Surabaya pada 2023, kiprahnya konsisten dengan pemajuan aksara Jawa serta sejarah dan budaya yang menyertainya.

Diantara kegiatan kegiatan itu adalah menyelenggarakan kegiatan pengenalan dan pembelajaran aksara Jawa, penerbitan literatur terkait dengan aksara Jawa dan kolaborasi dengan pihak pihak baik dari dalam maupun luar negeri dalam upaya bersama pemajuan aksara Jawa dan budaya bangsa.

Ini menjadi komitmen Puri Aksara Rajapatni yang menyadari bahwa Puri Aksara Rajapatni memiliki kemampuan itu, Surabaya memiliki kekayaan itu dan Masa depan Surabaya bisa juga bertumpu dari kemampuan dan kekayaan yang ada.

Karenanya beberapa penerbitan yang selama ini sudah dihasilkan memiliki skala global. Misalnya buku “Titi Tikus Ambeg Welas Asih” (2023), “Surabaya Berani Beraksara Nusantara” (2024), “Bung Bebek en Dewi Melati” (2025), menyusul “Sketsa Kota Lama Surabaya” (2026) dan “Soerabaja: Footprints of Heroic Heritage” (2026).

Replika lukisan Surabaya (1750) oleh Budi Irawan. Foto: nng

Buku buku ini adalah karya yang membawa nama Surabaya ke kancah global. Buku mendatang Sketsa Kota Lama Surabaya selain didukung oleh Netwerk Internationale Neerlandistiek in Asie (Belgia) dengan kantor perwakilannya di Surabaya juga International Council of Museum, the Committee for Education and Cultural Action (ICOM CECA), sebuah Dewan Museum yang berkantor di Perancis melalui Kantor perwakilannya di Indonesia, Musee ID di Jakarta.

Kolaborasi ini membuka peluang masa depan di bidang budaya. Apalagi Surabaya dikenal sebagai Kota Literasi. Gelar ini bermakna bahwa Pemerintah Kota Surabaya berkomitmen kuat untuk meningkatkan minat baca, kualitas sumber daya manusia, dan budaya berilmu pengetahuan melalui berbagai program literasi. (PAR/nng).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *