Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Bali penuh bunga. Keragaman bunga ini memiliki peran sangat penting dalam menghiasi rangkaian Hari Raya Nyepi di Bali, mulai dari upacara Melasti hingga Catur Brata Penyepian. Bunga-bunga ini tidak hanya sebagai hiasan fisik, tetapi juga simbol kesucian, keindahan, dan persembahan kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Bahkan ada upaya untuk mengawetkan keragaman bunga ini dalam wujud seni dan karya. Banyak karya seni Bali yang dibuat bermotifkan bunga bunga. Ada dalam bentuk seni lukis, ukir dan lainnya yang layak dibawa sebagai cinderamata.
Bunga

Bunga di Bali memiliki arti mendalam sebagai simbol kesucian, ketulusan, keindahan, dan wujud bakti (penghormatan) kepada Tuhan/Dewa serta leluhur. Bunga tentunya wajib segar dan harum untuk digunakan dalam sarana persembahyangan dan upacara karena melambangkan ajaran kebaikan, keharmonisan, serta tulus ikhlas.
Warnanya pun juga beraneka warna dan natural. Ada coklat, hijau, kuning, merah, putih, ungu, warna tanah, dan Terakota. Warna warna ini menyatu dalam wadah yang menjadi persembahan dewa dewi dengan tatanan yang rapi.
Alam

Bambu tidak ketinggalan dalam satuan persembahan. Bambu dalam adat dan tradisi Bali bukan sekadar tanaman, melainkan elemen sakral yang melambangkan kehidupan, kekuatan, dan kesucian. Digunakan luas dalam upacara Yadnya. Bambu disimbolkan sebagai sejatining diri (jati diri) yang fleksibel namun kuat, serta melambangkan penyerahan diri kepada Tuhan.
Bambu juga menjadi bahan penopang persembahan, bahan utama pembuatan penjor, klakat (wadah sesajen), wadah air suci, wadah pemakaman, alat musik rindik, hingga bahan bangunan suci dan rumah tinggal.

Adat dan tradisi Bali memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan alam, menciptakan harmoni antara manusia, lingkungan, dan Sang Pencipta. Konsep ini berakar pada filosofi Tri Hita Karana, khususnya Palemahan (hubungan manusia dengan lingkungan) dan Bhuta Hita (menjaga harmoni alam). Hampir seluruh bahan yang digunakan dalam ritual dan kehidupan sehari-hari bersumber langsung dari ara. Ini menggambarkan penghargaan yang tinggi terhadap bumi.
Dalam rangka persiapan Hari Raya Nyepi, Ita Surojoyo mewakili komunitas aksara Puri Aksara Rajapatni menyaksikan semua elemen itu. Mulai dari bunga, tempat tempat ritual, pasar, lingkungan, dan masyarakatnya.
Api

Satu lagi ada unsur api, yang dipakai untuk menyalakan obor. Bakar obor dan pawai obor sebelum Nyepi di Bali adalah bagian dari ritual Pengerupukan (atau Ngerupuk), yang dilaksanakan pada malam hari sebelum Hari Raya Nyepi (biasanya bersamaan dengan arak-arakan ogoh-ogoh).

Api obor dianggap sebagai alat pembersih yang menetralisir energi jahat di sekeliling pemukiman manusia agar tidak mengganggu ketenangan. Ini melambangkan penyucian diri dan lingkungan dari energi negatif, roh jahat, atau kekuatan Bhuta Kala. (PAR/nng)
