Menakar Toleransi di Bali Saat Hari Raya Idul Fitri Bertemu Hari Raya Nyepi.

Budaya, Agama

Rajapatni.com: SURABAYA – Menakar toleransi dalam perbedaan prinsip, yang jatuh pada ruang dan waktu yang sama, seperti contohnya malam takbiran (Idul Fitri) atau Idul Fitri yang riuh dan Nyepi yang sunyi, adalah ujian tertinggi sekaligus cermin keindahan Bhinneka Tunggal Ika.

Menurut prediksi Pemerintah melalui Kementerian Agama bahwa akan menggelar sidang isbat untuk penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadhan 1447 H. Sidang yang digelar di Jakarta mulai pukul 16.00 WIB itu menggabungkan dua metode utama, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).

Sementara dalam kalender nasional, Hari Raya Nyepi 2026 diperingati pada Kamis, 19 Maret 2026. Berarti akan ada dua suasana Hari Raya yang jatuh di hari yang sama.

Kedua sifat Hari Raya ini sangat berbeda. Hari Raya selalu diwarnai dengan kegembiraan sebagai luapan hari kemenangan setelah menunaikan ibadah puasa selama sebulan Bulan Ramadhan.

 

Catur Brata Penyepian

Sebuah upacara di sebuah Banjar menjelang Nyepi. Foto: IS

Sementara Hari Raya Nyepi bersifat Ketenangan karena umat Hindu melakukan Larangan yang disebutkan sebagai bagian dari Catur Brata Penyepian (Empat Pantangan Nyepi), yaitu:

Amati Geni (Tidak Menyalakan Api/Cahaya): Tidak menyalakan api, lampu, atau benda elektronik lainnya yang secara filosofis bertujuan mengendalikan amarah dan hawa nafsu dalam diri.

Amati Karya (Tidak Bekerja): Tidak melakukan aktivitas pekerjaan jasmani, melainkan fokus pada penyucian rohani.

Amati Lelungan (Tidak Bepergian): Berdiam diri di rumah/akomodasi, tidak meninggalkan area rumah.

dan Amati Lelanguan (Tidak Bersenang-senang): Tidak mencari hiburan, mendengarkan bunyi-bunyian keras, atau mengadakan pesta.

Sebuah perbedaan prinsip terjadi di bumi yang berbhineka pada tahun 2026 ini. Disinilah toleransi bangsa yang berbhineka diuji. Penerapan Prinsip “Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung” kiranya menjadi jembatan pemahaman.

Umat Muslim yang merayakan takbiran di daerah, tepatnya di lingkungan yang merayakan Nyepi (khususnya Bali) menunjukkan toleransi dengan membatasi takbir keliling dan melakukannya di rumah atau masjid tanpa pengeras suara luar. Hal ini untuk mencerminkan penghormatan terhadap Catur Brata Penyepian (tidak menyalakan api/cahaya, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan/kebisingan).

Akhirnya umat Muslim di Bali merayakan hari raya yang bertepatan dengan suasana Nyepi dengan tetap mematuhi aturan adat (Catur Brata Penyepian), yaitu berjalan kaki ke masjid terdekat, tidak menggunakan pengeras suara, serta membatasi pencahayaan.

Takbiran dilaksanakan di masjid/mushola terdekat tanpa pengeras suara luar dan tidak melakukan konvoi kendaraan yang menimbulkan kebisingan.

Berdasarkan pandangan ulama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), terutama terkait perjumpaan Hari Raya Idul Fitri 1447 H dan Hari Raya Nyepi Saka 1948 (Maret 2026), momen tersebut dinilai sebagai momentum istimewa untuk memperkuat harmoni dan toleransi, bukan sebagai konflik keagamaan.

Ulama menekankan bahwa umat Islam di Bali wajib menghormati umat Hindu, yang sedang melaksanakan Catur Brata Penyepian. Kesucian Nyepi (keheningan) harus dijaga dengan tidak melakukan aktivitas kebisingan.

MUI Bali, NU, dan Muhammadiyah sepakat mengimbau agar malam takbiran dilakukan di rumah masing-masing atau di dalam masjid/mushalla dengan suara terbatas (tidak menggunakan pengeras suara luar).

Di Desa Adat Gelgel di Kabupaten Klungkung, salah seorang warga setempat berharap Nyepi tidak bercampur dengan suara suara yang tidak seirama dengan spiritual. Itulah kesan yang didapat Ita Surojoyo (pendiri komunitas Puri Aksara Rajapatni) yang saat ini berlibur di Bali.

“Di satu kabupaten ada empat desa adat: Gelgel, Kamasan, Tojan dan Klungkung. Di satu desa adat ada sekitar 28 banjar”.

 

Jualan Takjil

Masih menurut Ita yang mengamati lingkungan sekitar bahwa tradisi orang berjualan takjil dan makanan untuk berbuka juga menghiasi suasana sore.

Ita Surojoyo jalan jalan di pasar tradisional. Foto: IS

“Kemarin ke kampung muslim, jam 2 an mulai buka jualan takjil yang beli juga banyakan orang Bali pakai udeng dan jarik”, jelas Ita.

Seorang pecalang turut menjaga lingkungan Masjid di saat Sholat Tarawih. Foto: detik.com

Dalam keseharian selama bulan Ramadhan, pecalang pecalang di Bali juga ikut menjaga lingkungan Masjid di saat ada kegiatan shalat Tarawih.

Sholat Idul Fitri tetap dilaksanakan, namun diimbau untuk dilakukan di masjid terdekat atau lokasi yang tidak memerlukan perjalanan jauh (terutama di Bali), dengan tetap memperhatikan ketenangan lingkungan sekitar.

Secara prinsip, ulama mengajak umat Islam untuk menjalankan ibadah dengan penuh hikmat sekaligus menunjukkan penghormatan setinggi-tingginya kepada saudara umat Hindu yang sedang beribadah. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *