Budaya
Rajapatni com: SURABAYA – Di bumi Jawa ada istilah tepo seliro (teposlira). Orang Jawa harus bisa tepa selira”. Sikap ini adalah ungkapan yang sangat mendalam, mencerminkan nilai luhur dalam budaya Jawa. Tepa slira secara harfiah berarti “mengukur diri sendiri” atau sering diartikan sebagai tenggang rasa dan empati yang tinggi.
Dengan kata lain, Tepa selira adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain (empati batin/tenggang rasa) demi menjaga perasaan orang lain sebelum berucap dan bertindak. Konsep ini menekankan kehalusan perasaan dan kedewasaan emosional, melampaui dari sekadar toleransi fisik, dan sering digunakan sebagai kearifan lokal dalam menjaga keharmonisan sosial.

Sebagai tangga menuju dan bisa bersifat tepo sliro, ada sebuah wadah dalam membina toleransi, yang pada akhirnya bisa bersikap tepo salira. Wadah ini semakin terteraktualisaaukan dengan hadirnya Taman Bhinneka di Medokan Keputih Surabaya.
Taman bhinneka juga bisa diasosiasikan sebagai Rumah Toleransi. Toleransi adalah sikap saling menghormati, menghargai, dan menerima perbedaan: baik agama, ras, budaya, maupun pendapat, tanpa memaksakan kehendak atau melakukan diskriminasi.

Ini adalah kunci untuk mencegah konflik sosial, membangun solidaritas, dan menciptakan perdamaian dalam masyarakat yang majemuk.
Di Taman Bhinneka ini terpajang keragaman wahana, yang berbeda beda mulai dari agama, suku dan ras serta tampilan arsitektur rumah daerah. Ada wahana Pustaka agama yang berbentuk representasi rumah rumah ibadah mulai dari Pendopo Penghayat, Pura Hindu, Kuil Budha, Ko Hung Cu, Masjid, Gereja Protestan dan Gereja Katolik. Semua pustaka agama ini berdiri berjajar berdampingan.

Sebagai pustaka agama, wahana ini menyediakan berbagai literatur studi keagamaan secara umum, seperti studi tentang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan lainnya, serta studi pluralisme. Kontribusi masyarakat untuk mengisi setiap pustaka ini sangat terbuka lebar sebagai upaya bersama dalam membina nilai nilai agama untuk pembelajaran bersama.
Interaksi
Sebuah interaksi sosial menarik terlihat pada kegiatan Buka Bersama Lintas Agama di Taman Bhinneka pada Kamis (12/3/26), dimana hadir umat dari beragam agama dan kepercayaan. Sebagai wujud toleransi terlihat pada unjuk salam yang disampaikan oleh umat beragama lain (non muslim) dalam tradisi Islam. Ucapan mereka pun sangat fasih dalam mengucap salam “Assalamualaikum”.

Rasa sejuk dan damai sangat bisa dirasakan dalam momen Buka Puasa Bersama Lintas Agama. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Rotibul Haddad, Ustad Haris mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia berbeda-beda (suku, bangsa, warna kulit, bahasa) bukan untuk berpecah belah, melainkan sebagai sunnatullah agar saling mengenal, menghargai, dan bersatu dalam harmoni.

Di Taman Bhinneka itulah segala perbedaan dapat bersatu sebagaimana semboyan bangsa Indonesia Bhinneka Tunggal Ika. Hadir dalam kesempatan Berbuka Puasa Bersama Lintas Agama ini adalah mereka dari lintas usia. Ada anak anak, remaja, dewasa hingga manula. Meski beragam usia, mereka bisa dalam satu kebersamaan, Harmoni.
Acara ini juga mendapat perhatian dari Lurah Keputih, yang juga menyempatkan hadir dan ikut merasakan keharmonisan di wilayahnya. Taman bhinneka adalah wahana pembelajaran toleransi dan tepo salira. Pembangunan Surabaya tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik semata, tetapi pembangunan moral dan spiritual.
Relevan

Hal ini juga relevan dengan kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang mengedepankan pembangunan manusia dan karakter. Walikota Surabaya, Eri Cahyadi pernah menekankan bahwa pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan penguatan spiritual merupakan prioritas untuk menciptakan lingkungan kota yang harmoni dan beradab. (PAR/nng).
