Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Entah disadari atau tidak, Surabaya sejak dulu sudah teridentifikasi sebagai rumah keberagaman, yang didasari oleh rasa toleransi. Contohnya ada kota Lama yang masyarakatnya beragam etnis dan kebangsaan. Di satu alun alun, yaitu Kemayoran (Kabupaten Surapringga), terdapat dua rumah ibadah besar, Masjid Kemayoran dan Gereja Katolik Katedral.
Nilai keberagaman dan toleransi itu kini dimajukan oleh Yayasan Pondok Kasih di Medokan Keputih, Surabaya, yang mengelola Taman Bhinneka, yakni Taman Keberagaman mulai dari agama, etnis, dan budaya Nusantara. Secara fisik disimbolkan dengan beragam pustaka rumah ibadah, rumah rumah adat Nusantara dalam bingkai Pancasila melalui pemaknaan lima Silanya.

Taman Bhinneka ini menempati lahan seluas satu hektar di kawasan Medokan Keputih demikian kata Daniel salah satu pegiat budaya, yang berafiliasi dengan Taman Bhinneka.
“Itu yang sudah terbangun dengan wahana anjungan Nusantara. Lahan lainnya masih ada. Cukup luas”, papar Edi Setyono usai membawakan acara Buka bersama yang dihadiri oleh undangan lintas agama, pegiat budaya dan jamaah dari Pondok Pesantren An Anwar Keputih.
Sementara itu menurut pembina Yayasan pondok kasih, yang akrab disebut Mama Hanna bahwa Taman Bhinneka ini mulai dibangun dan ditata pada kisaran bulan Juni 2024 dan rencananya akan diresmikan pada April 2026.

“Kami sudah bertempat di sini selama 25 tahun dan sejak tahun 2024 membuat Taman Bhinneka ini”, jelas Mama Hanna ketika memandu undangan melihat berkeliling wahana Taman Bhinneka.

Taman Bhinneka ini di konsep dalam bingkai nilai nilai Pancasila, dimana wahana pertama ketika memasuki area Taman Bhinneka adalah wahana Pustaka Rumah Rumah ibadah. Setiap pustaka rumah ibadah berdiri berdampingan. Ada pustaka Masjid, Gereja Katolik, Gereja Protestan, Pendopo Penghayat, Kuil Budha, dan Pura Hindu. Wahana Pustaka Rumah Rumah ibadah ini sebagai simbol Sila Pertama dari Pancasila.

“Di depan sana setelah masuk kawasan Nusantara adalah simbol Ketuhanan Yang Maha Esa”, jelas Mama Hanna kepada rombongan yang menyertainya.
“Tempat tempat itu dipakai beribadah juga bisa tapi lebih sebagai pustaka bagi siapa yang mau mengenal tentang keberagaman agama di Nusantara ini”, tambah Edi.
Di lokasi yang paling ujung adalah ekspresi Sila kelima “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. yang disimbolkan dengan padi dan kapas, ini melambangkan kemakmuran, kemerataan, serta keseimbangan hak dan kewajiban tanpa membedakan suku, agama, atau golongan. Di wahana Sila kelima ini, ada sebidang lahan percontohan untuk pertanian.

Di tempat ini anak anak bisa belajar menanam padi seperti di desa dan mereka di tempat ini juga ada greenhouse tempat persemaian. Untuk menambah keindahan adalah perpaduan taman dengan vegetasi yang asri dan indah. Di Taman Bhinneka ini terasa bagai di lereng pegunungan.
Surabaya membangun dengan berdasarkan pada nilai nilai kejuangan dan kepahlawanan juga tergambarkan di wahana ini. Misalnya ada miniatur patung Hiu dan Buaya, monumen Kapal Selam, Monumen Bambu Runcing, dan Jembatan Suramadu serta miniatur Tugu Pahlawan.

Sore itu para undangan Buka Puasa lintas agama diajak putar putar anjungan daerah, yang disimbolkan dengan rumah rumah adat Nusantara. Di antaranya adalah rumah adat Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, Bali, Jawa dan lainnya.
Taman, yang mengusung konsep edukasi budaya dan keberagaman ini pun, berhasil menarik perhatian karena menghadirkan miniatur rumah adat, taman doa, taman nusantara, dan banyak lainnya.
Setelah putar putar keliling Nusantara, semuanya berkumpul di area lobby untuk bersiap siap mengikuti Kultum berbuka puasa bersama. Hadir dalam kesempatan itu adalah tokoh tokoh masyarakat sekitar seperti Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Rotibul, Lurah Keputih, Ketua RW setempat, tokoh agama dan pegiat budaya lainnya.
Mama Hanna sebagai tuan rumah dan sekaligus pembina Yayasan Pondok Kasih, dalam sambutannya berterima kasih atas kehadiran semua pihak di Taman Bhinneka.
Di penghujung sambutan sambutan adalah Kultum berbuka puasa oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Rotibul Haddad Sedati, Ustadz Haris Nu’man.

Acara Buka Bersama Lintas Agama ini diselenggarakan oleh Yayasan Pondok Kasih, yang bekerja sama dengan Forum Beda Tapi Mesra (FBM) dibawah ketua Syuhada Endrayono.
Taman Bhinneka ini buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 09.00 sampai 18.00 WIB. Dengan kombinasi antara wisata, edukasi, dan nilai-nilai kebangsaan, Taman Bhinneka kini menjadi pilihan baru yang tak hanya menghibur, tapi juga membangun kesadaran akan pentingnya toleransi dan keberagaman di tengah masyarakat. (PAR/nng)
