Masjid Kemayoran Bersama Surabaya Sightseeing City Tour Bus.

Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Menghiasi dan memaknai bulan Ramadhan 1447 H atau tahun 2026, masjid Kemayoran Surabaya menjadi jujugan destinasi “Surabaya Sightseeing City Tour”. Paket wisata ini memperkenalkan sejarah kota dan secara khusus dalam bulan Ramadhan ini juga memperkenalkan sejarah perkembangan Islam melalui Masjid Kemayoran, yang dikenal sebagai dua masjid Besar di Surabaya, selain Masjid Ampel.

Pantas dalam Sightseeing City Tour, Masjid Kemayoran ini masuk dalam agenda kunjungan karena nilai sejarahnya yang tinggi sebagai salah satu masjid tertua dan pusat penyebaran Islam, arsitektur kolonial-jawa yang unik, serta lokasinya yang strategis di kawasan sejarah kota, menjadikannya destinasi religi dan edukasi yang kaya akan warisan budaya Surabaya.

Nilai tinggi dalam sejarah Surabaya ini karena masjid ini masih memiliki prasasti tentang pendirian masjid di pertengahan tahun 1840an.

Masjid Kemayoran berdiri sejak tahun 1848. Foto: ist

Prasasti itu berbunyi bahwa masjid adalah pemberian pemerintah Hindia Belanda “punika sih peraringipun kanjeng gubernemen Walondo ing tanah Hindia”, yang secara resmi tertulis nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Residen Surabaya (Surapringga) dan Bupati Surabaya (Surapringga).

Pembangunan perluasan masjid pada 1934-1935. Foto: ist

Prasasti adalah dokumen resmi pada zaman dulu, yang diukirkan atau dipahatkan pada bahan keras yang tahan lama, seperti batu, logam, perunggu, atau tembaga. Prasasti Masjid Kemayoran terbuat dari logam tembaga yang berukuran panjang 2 meter dan lebar (tinggi) 75 cm. Prasasti ini sekarang tertempel di tembok bagian dalam masjid yang asalnya di atas pintu masuk masjid (1484).

Penambahan bangunan masjid dengan kubah pada 1934-1935.. Foto: ist

Berkesempatan mengunjungi masjid Kemayoran adalah kesempatan melihat dan mengamati masjid dari dekat: yang selain melihat prasasti juga bisa melihat bangunan lama dengan arsitektur campuran Eropa dan Jawa. Termasuk melihat bukti dari perkembangan pembangunan masjid mulai dari data yang tertera dengan tahun 1848 (beraksara Jawa) dan 1935 (beraksara Pegon dan Latin). Juga arsitektur bangunan yang mulanya Jawa-Belanda lalu ditambah gaya Barok.

Akan menjadi pengalaman tersendiri bagi peserta Surabaya Sightseeing City Tour karena masjid ini adalah sarana Alun Alun Kabupaten Surabaya yang menggambarkan Surabaya yang masih berbentuk pemerintahan Kabupaten.

Takmirul Masjid Surapringga. Foto: ist

Bahkan juga dapat diketahui bahwa nama lama Surabaya adalah Surapringga yang umum dikenal di awal tahun 1800-an. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *