Aksara Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Aksara Jawa sangat cocok digunakan sebagai signage (papan penanda) yang dekoratif karena memiliki kombinasi unik antara nilai estetika visual yang tinggi, filosofi mendalam, dan identitas budaya yang kuat. Aksara ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi tertulis, tetapi juga sebagai elemen visual yang memperindah ruangan atau lingkungan.
Learning by Doing

Penggunaannya adalah suatu cara pelestarian budaya yang relevan. Apalagi sebagai papan nama atau petunjuk arah, sehingga publik bisa sambil belajar berdasarkan pengalaman nyata. Learning by doing.
Ini merupakan langkah strategis dan relevan dalam melestarikan budaya di era modern. Pendekatan ini mengubah pelestarian, yang awalnya bersifat teoritis menjadi pengalaman nyata (learning by doing/seeing) bagi masyarakat.

Papan petunjuk yang menyandingkan aksara Latin dan Aksara Jawa memungkinkan masyarakat (terutama generasi muda) untuk belajar mengenali dan membaca aksara tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Cara ini sekaligus apresiasi sejarah. Aksara Jawa bukan sekadar tulisan, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan makna filosofis. Penggunaannya di ruang publik meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap peradaban Jawa.
Adaptasi Modern

Di era sekarang hal ini bisa dikatakan sebagai Adaptasi modern. Pelestarian ini sejalan dengan upaya digitalisasi aksara Jawa, membuatnya tetap fungsional dan tidak hanya menjadi dekorasi, melainkan alat komunikasi visual yang hidup.
Dengan melihat Aksara Jawa di papan jalan, kantor pemerintah, atau rambu petunjuk, masyarakat diajak untuk terus berinteraksi dengan warisan leluhur, sehingga budaya tidak hanya tersimpan di museum, tetapi menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Di lingkungan museum pun aksara Jawa tidak hanya disimpan sebagai artefak yang berwujud manuskrip dan prasasti, tapi aksara Jawa juga digunakan sebagai alat penunjuk jalan yang edukatif. Contohnya di lingkungan museum Mpu Tantular Sidoarjo.

Apalagi di wilayah Sidoarjo, yang secara historis, kawasan ini adalah wilayah Kahuripan yang nenek moyangnya sudah menggunakan aksara daerah seperti Jawa Kuna atau Kawi yang berikutnya menjadi Aksara Jawa.
Masyarakat di wilayah Kahuripan (Sidoarjo dan sekitarnya) pada masa lampau, terutama abad ke-11 dan setelahnya, telah menggunakan aksara Jawa Kuna atau aksara Kawi dalam berbagai prasasti dan naskah peninggalan.
Aksara Kawi merupakan bentuk peralihan yang menjadi akar atau cikal bakal aksara Jawa modern (Hanacaraka).
Saat ini, upaya untuk mengenalkan kembali aksara Jawa Kuno (Kawi) dan Jawa Baru (Hanacaraka) dilakukan melalui berbagai kegiatan budaya dan pameran, yang salah satunya adalah digunakannya aksara tradisional ini sebagai signage di Museum MPU Tantular.
Komunitas aksara Jawa, Puri Aksara Rajapatni, berkesempatan mampir ke museum provinsi ini untuk mengamati penggunaan aksara Jawa di sana. Tidak hanya edukatif tapi juga kreatif dan estetik. (PAR/nng)
