Surabaya Kota Pahlawan, Amanah Juang Untuk Generasi Hari Ini

Budaya

Oleh: A. Hermas Thony.

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Kalau kita mengaku sebagai warga Surabaya. Pengakuan itu harusnya disertai kesadaran, bahwa kita memiliki beban sejarah. Karena Bung Karno menjulukinya sebagai “Kota Pahlawan”. Julukan itu lahir karena peristiwa 10 November 1945.

Sebagai Presiden pertama, Bung Karno tahu betul ada perlawanan luar biasa dari rakyat Surabaya. Di kota inilah kemerdekaan Indonesia dipertahankan dengan darah.

Tapi menariknya, kalau kita buka naskah penetapan hari jadi Kota Surabaya, para perumus tidak berhenti di 10 November saja. Mereka menarik benang merah jauh ke belakang. Ke era Majapahit.

Di sanalah dicatat perang Laskar Raden Wijaya melawan pasukan Mongol (Tartar) yang dipimpin Kubilaikan di muara sungai Kalimas dekat Pacekan pada masa awal berdirinya Majapahit tanggal 31 Mei 1293. Kini tempat tersebut kita kenal sebagai Kalimas Jagir Wonokromo. Artinya, semangat perlawanan Surabaya sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Saat melihat dari sejarah kemajuan peradabannya, Surabaya terbayang sebagai tempat yg sudah punya kesadaran akan sistem transportasi sangat maju sejak jaman dulu.

 

Prasasti Canggu (1358 M)

Susunan aksara dalam kata Śūrabhaya..Foto: dok par

Buktinya? Nama “Surabaya” (Śūrabhaya) sudah tertulis dalam Prasasti Canggu, sebuah prasasti yang diberikan sebagai penghargaan karena terdapat tempat penyeberangan di sungai dengan sarana perahu tambangan.

Surabaya saat itu sudah mendapat sima dari raja. Sudah menjadi wilayah penting. Sudah punya peran penting terhadap tingginya kemajuan peradaban di zaman kerajaan.

Dari sini kita bisa melihat pola. Munculnya diksi “Kota Pahlawan” tidak muncul begitu saja. Ternyata ada dasar historisnya.

Biasanya kata “pahlawan” disematkan kepada orang. Kepada individu yang berjasa karena sikap dan perjuangannya. Nah, yang unik di Surabaya, kata “pahlawan” disematkan kepada sebuah kota. Kepada sebuah komunitas dalam skala kota.

Apa artinya? Artinya, yang luar biasa bukan hanya satu dua orang. Tapi budayanya. Budaya juang masyarakatnya.

 

Budaya Juang

 

Ilustrasi pemberani tempo dulu. Foto: radarsurabaya

Dan kata “budaya” di sini penting. Kebudayaan adalah cara hidup, pola pikir, dan perilaku yang diwariskan turun-temurun. Ia mencakup sistem gagasan, tindakan, karya, bahasa, seni, norma, sampai sistem kepercayaan.

Jika kepahlawanan sudah menjadi budaya, maka ia bukan peristiwa. Ia adalah watak. Ia diwariskan dari kakek ke bapak, dari bapak ke anak.

Ini yang krusial. Terutama bagi kita yang mengaku, ber-KTP dan menyandang sebagai warga Kota Surabaya di manapun berada.

Kita lahir di tanah juang ini bukan kebetulan. Kita mendapatkan takdir sebagai warga Kota Pahlawan. Dan takdir itu membawa tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk memupuk budaya juang.

Bukan memupuk kemalasan. Bukan memupuk mental mengeluh yang miskin inovasi dan motivasi. Tapi memupuk semangat yang sama seperti arek-arek Suroboyo 1945. Semangat yang tidak mau dijajah. Semangat yang siap dan mampu merebut masa depan dengan cerdas, gagah dan berani.

 

Tantangan Zaman

Lihat hari ini. Tantangan kita sudah beda. Dulu musuhnya penjajah dengan bedil. Sekarang musuhnya kemiskinan, kebodohan, sampah, banjir, dan apatisme.

Kalau kita ingin Surabaya maju, cerdas, mentas dari kemiskinan, kotanya bersih, hijau, rapi dan berwibawa, maka tidak ada jalan lain. Kita harus menghidupkan lagi semangat juang itu.

Juangkah kita merebut pendidikan terbaik untuk anak-anak kita?  Juangkah kita menjaga kebersihan lingkungan dan tidak buang sampah sembarangan? Juangkah kita membangun UMKM dan tidak tergantung belas kasihan?  Juang kita menolak korupsi dan pungli di sekitar kita?

Kalau jawabannya iya, berarti kita masih layak disebut warga Kota Pahlawan.

Tapi kalau kita masih tidur, masih menuntut tapi tidak bergerak, masih bangga dengan julukan tapi tidak mengamalkan isinya, maka kita sedang mengkhianati amanah Bung Karno.

 

Sifat Kepahlawanan

Surabaya Kota Pahlawan bukan untuk dipajang di plakat. Dia harus hidup di kelakuan kita sehari-hari.

Agar anak cucu kita nanti tidak hanya mewarisi nama “Kota Pahlawan” di buku sejarah. Tapi juga mewarisi jiwanya. Jiwa yang pantang menyerah. Jiwa yang membangun. Jiwa yang menang.

Karena sejatinya, pahlawan tidak pernah mati. Ia hanya berubah bentuk. Dari yang dulu mengangkat senjata, menjadi yang hari ini mengangkat martabat kotanya.

 

Raperda Wujud Budaya Juang

Karena dasar pemahaman sederhana itulah konsep Raperda Pemajuan Kejuangan dan Kepahlawanan surabaya dikawinkan dengan Pemajuan Kebudayaan.

Raperda itu seharusnya dipahami sebagai alat yang sangat penting, obat yang sangat tepat untuk memotivasi semangat masyarakat, namun dalam prosesnya tidak demikian, terkesan dibahas hanya pada waktu senggang, tidak segera disempurnakan dan ditetapkan, agar penyakit mental masyarakat kota yang terjangkit anti kejuangan bisa segera disembuhkan. (PAR/AHT/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *