Sekilas Pandang Uang Kuno Nusantara 

Budaya Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Catatan menarik ini adalah ulasan dari sumber Gedigu TV, yang uisinya sangat relevan dengan gagasan penulisan buku ini “Aksara & Oeang Nusantara”. Tanpa mengurangi sedikit isi, narrative yang berjudul “ Mata Uang Kuno di Nusantara: Jejak Peradaban Ekonomi dari Kerajaan ke Kesultanan” menjadi pendukung istimewa.

Sejak ribuan tahun lalu, kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah mengenal sistem alat tukar yang beragam. Mulai dari koin logam emas dan perak yang mewah, hingga bentuk unik seperti koin tembaga berlubang atau bahkan potongan kain tenun.

Perkembangan mata uang ini mencerminkan kemajuan perdagangan, pengaruh agama (Hindu-Buddha lalu Islam), serta interaksi dengan bangsa asing seperti India, Cina, dan Arab.

Berikut adalah beberapa mata uang kuno yang pernah beredar di berbagai kerajaan dan kesultanan Nusantara:

Macam macam uang kuno kerajaan. Foto: digidutv

 

1. Kerajaan Mataram Kuno (Medang) – Uang Syailendra

Uang ini pertama kali dicetak pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar tahun 850-an M. Berbentuk koin kecil dari perak atau emas, dengan tulisan huruf Devanagari (bahasa Sanskerta) di bagian depan pada koin era Syailendra. Mata uang ini menjadi salah satu yang tertua di Nusantara dan menjadi dasar sistem satuan seperti Masa (Ma) dan Kupang.

 

2. Kerajaan Sriwijaya (Sumatra, abad 7–13)

Sebagai kerajaan maritim besar, Sriwijaya menggunakan koin emas kecil dengan satuan Masa atau 1/2 Masa. Bentuknya mirip tradisi India, meski bukti fisiknya relatif terbatas dibandingkan Mataram Kuno karena lebih mengandalkan perdagangan laut.

 

3. Kerajaan Jenggala (Jawa Timur, 1042–1130 M) – Koin Krishnala

Krishnala merupakan mata uang emas berbentuk bulat datar, sementara versi peraknya sering berbentuk bulat cembung. Mata uang ini menjadi kelanjutan tradisi emas-perak Jawa kuno dan beredar luas di wilayah Jawa Timur.

 

4. Kerajaan Kediri dan Singhasari (Jawa Timur, abad 12–13)

Masih melanjutkan penggunaan Krishnala serta koin emas/perak kecil dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat.

 

5. Kerajaan Perlak (Aceh Utara, abad 9–13) – Dirham Emas, Kupang Perak, dan Tembaga

Salah satu kerajaan Islam paling awal di Nusantara ini sudah mencetak dirham emas, kupang perak, serta uang tembaga/kuningan. Mata uang Perlak menjadi pendahulu penting bagi sistem mata uang Islam di wilayah Sumatra.

 

6. Kerajaan Majapahit (Jawa, abad 13–16) – Koin Ma, Gobog, dan Tahil 

Pada era Majapahit, sisa mata uang dari Mataram Kuno seperti uang Ma/Masa (perak, bentuk geometris seperti segitiga atau persegi) masih beredar. Selain itu, muncul Gobog Wayang — koin tembaga/perunggu berlubang persegi di tengah, mirip kepeng Cina, dengan relief wayang atau simbol. Gobog ini berfungsi ganda sebagai alat tukar sekaligus persembahan upacara keagamaan. Majapahit juga mengenal uang Tahil dengan cap gambar teratai atau jambangan bunga, yang bentuknya agak berbeda dari gobog biasa.

 

7. Kerajaan Samudra Pasai (Aceh, abad 13–16) – Koin Dirham

Sebagai kerajaan Islam awal, Pasai menggunakan dirham emas (berat sekitar 0,6 gram). Bentuknya kepeng tanpa lubang tengah, dengan tulisan Arab nama sultan seperti Malik az-Zahir. Pengaruh perdagangan Arab sangat kuat di sini.

 

8. Kesultanan Demak (Jawa, abad 15–16) – Pitis Timah

Masa transisi dari Majapahit ke kerajaan Islam, Demak banyak menggunakan pitis atau kepeng timah tiruan dari Cina.

 

9. Kesultanan Aceh (abad 16–19) –Dirham/Deureuham dan Pitis

Aceh melanjutkan tradisi dirham emas (kupang) dengan nama sultan seperti Iskandar Muda, serta pitis timah untuk transaksi kecil.

 

10. Kesultanan Banten – Koin Kasha

Banten menggunakan kasha (pitis) dari tembaga/timah, bentuk bulat mirip kepeng Cina tapi lubang tengahnya berbentuk segi enam sama sisi. Mata uang ini berkembang pesat seiring ramainya perdagangan di pelabuhan Banten.

 

11. Kesultanan Cirebon – Koin Picis

Picis terbuat dari timah tipis dengan lubang segi empat atau bundar di tengah. Dibuat sekitar abad ke-17 dan banyak digunakan untuk perdagangan lokal.

 

12. Kesultanan Gowa (Sulawesi Selatan, abad 17) – Koin Jinggara

Jinggara terbuat dari timah dan tembaga berwarna kuning keemasan, tanpa lubang tengah, dengan tulisan Arab sebagai bukti kerajaan Islam. Dikaitkan erat dengan Sultan Hasanuddin dan kini banyak dicari kolektor.

 

13. Kerajaan/Kesultanan Buton (Sulawesi Tenggara, abad 14–19) – Uang Tenun Kampua

Salah satu yang paling unik: kampua berupa potongan kain tenun (katun) yang dipotong sesuai ukuran standar. Ide awalnya muncul dari Ratu Wa Kaa Kaa (ratu pertama) yang memanfaatkan kainnya untuk barter, meski situs Bank Indonesia lebih menekankan peran Ratu Bulawambona (ratu kedua). Uang kain ini efektif memudahkan transaksi dan terus dipakai hingga era kesultanan.

 

14. Lainnya yang penting:

Kesultanan Palembang — Pitis timah mirip kepeng.

Kerajaan Bali — Pis Bolong atau kepeng (banyak tiruan Cina) yang hingga kini masih dipakai dalam upacara adat.

Kesultanan Banjar (Kalimantan) — Pitis atau kepeng Banjar.

Banyak kerajaan kecil di Nusantara (terutama abad 15–18) lebih memilih menggunakan uang kepeng/pitis tiruan dari Cina karena praktis dan diakui pedagang internasional. Di wilayah Maluku dan Papua timur, sistem barter serta penggunaan kain masih dominan lebih lama.

Secara umum, uang emas seperti dirham atau kupang biasanya digunakan untuk perdagangan besar dan internasional, sementara pitis/timah lebih untuk transaksi sehari-hari masyarakat biasa. Keberagaman ini menunjukkan betapa kaya dan adaptifnya sistem ekonomi di Nusantara sebelum era kolonial.

Sumber: Gedigu TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *