Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Cukup menggembirakan jumlah mengetahui jumlah peserta lomba menulis indah Aksara Jawa di Masjid Kemayoran Surabaya dalam rangka memperingati Hari Aksara Internasional 2026. Sampai hari Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 16.00 jumlah peserta terdaftar sebanyak 90 siswa mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA/SMK. Peserta tidak hanya datang dari Surabaya, tetapi juga ada yang datang dari Kamal dan Bangkalan, Madura.
Ini menunjukkan bahwa Aksara Jawa juga dipelajari di Madura. Memang Aksara Jawa bisa dipakai untuk menulis bahasa Jawa dan lainnya karena Aksara ini bersifat Voice Based (berdasarkan suara/bunyi).
Mayoritas memang dari Surabaya. Pelaksanaan lomba ini adalah yang ke dua setelah lomba pertama pada tahun 2025. Jumlah peserta di kedua lomba ini (2025 dan 2026) sudah melebihi kuota karena tingginya antusiasme generasi muda dan kuatnya dukungan dari berbagai pihak.
Apalagi program pemerintah Surabaya, yang bernama “Kemis Mlipis” menjadi wadah pemupukan pelestarian tradisi budaya Jawa. Program Kemis Mlipis (atau Kamis Mlipis) yang digagas oleh Pemerintah Kota Surabaya adalah gerakan pembiasaan penggunaan bahasa Jawa setiap hari Kamis bagi pelajar dari tingkat TK hingga SMP. Kata “mlipis” sendiri bermakna bertutur kata secara sopan, santun, dan lemah lembut.
Sementara Aksara Jawa sendiri mengajarkan tata tulis aksara Jawa sebagai bentuk tulis dari bahasa Jawa yang bisa menuntun berbahasa yang baik dan benar.
Aksara Jawa memang berfungsi sebagai pedoman tata tulis yang membantu seseorang memahami kaidah penulisan dan pelafalan bahasa Jawa secara tepat. Aksara Jawa membantu melafalkan kosakata bahasa Jawa dengan logat dan pengucapan yang benar.
Memang ada kesesuaian dan korelasi belajar bahasa Jawa dan Aksara Jawa. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dan saling mendukung. Belajar bahasa Jawa memberikan pemahaman tentang kosakata, tata bahasa, dan tingkatan berbahasa (seperti ngoko dan krama). Sementara itu, belajar Aksara Jawa adalah cara untuk memahami bagaimana nilai-nilai, budaya, dan sastra Jawa tersebut didokumentasikan secara tertulis sejak zaman dahulu.
Lomba ini digerakkan secara masif melalui kerja sama antara komunitas pelestari budaya Puri Aksara Rajapatni dan Takmir Masjid Kemayoran Surabaya. Pendekatan berbasis komunitas dan tempat ibadah bersejarah ini berhasil menarik perhatian banyak pelajar.
Masjid Kemayoran atau Raudlatul Musyawarah adalah salah satu masjid bersejarah di Surabaya dan prasasti pembangunan Masjid yang dibuat tahun 1848 di masa pemerintahan Hindia Belanda menjadi sumber penulisan. Lomba ini bersifat menyalin isi prasasti sehingga melalui lomba seluruh peserta bisa belajar sejarah Masjid Kemayoran.

Masjid adalah salah satu objek dalam tata ruang tradisional Jawa. Yaitu konsep tata ruang tradisional pusat pemerintahan di Jawa, yang menyatukan unsur keraton/kabupaten, alun-alun, masjid, dan pasar (termasuk kampung kauman di sekitarnya) disebut sebagai Catur Gatra Tunggal
Acara ini diselenggarakan oleh Masjid Kemayoran Surabaya yang bekerjasama dengan Puri Aksara Rajapatni, yang didukung oleh Pasopati Cakra Nusantara dan Leeven & Co. Creative Space. (PAR/nng)
