Budaya alam
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – “Ana kaca benggala kang sinawang saka socane widodari tanpa swiwi ing awang awang Arga Pawitra”.
Arga Pawitra (gunung Penanggungan) Jawa Timur adalah sebuah perlambang puncak Semeru.
Dalam mitologi Jawa Kuna, Kitab Tantu Panggelaran, disebutkan bahwa dari puncak gunung Penanggungan ini tidak saja memberikan keindahan alam, tetapi juga memberikan pesan sejarah, spiritualitas dan agungnya peradaban leluhur Jawa.

Puncak Pawitra adalah singgasana para dewa. Berdasarkan naskah kuno Tantu Panggelaran dan Kakawin Desawarnana (Negarakertagama), Puncak Pawitra diyakini sebagai potongan puncak Gunung Mahameru dari India yang dihempaskan oleh para dewa untuk menstabilkan Pulau Jawa (menjadi paku bumi).
Ini menjadi tempat suci dan pertapaan: sejak era Hindu-Buddha hingga masa kejayaan Kerajaan Majapahit, Gunung ini disucikan sebagai tempat bersemayam para dewa, serta menjadi lokasi favorit para resi, brahmana, dan tokoh menyepi untuk bertapa dan berziarah.
Secara arkeologi banyak percandian yang menjadi situs situs pamujan di gunung ini (penanggungan). Berdasarkan data dari Wikipedia Gunung Penanggungan dan penelitian tim arkeologi/ekspedisi, terdapat ratusan situs purbakala yang tersebar dari kaki hingga mendekati puncak gunung.

Di sekitar. Dan di gunung ini ditemukan lebih dari 100 hingga 134 situs percandian dan objek kepurbakalaan (seperti candi, punden berundak, gua pertapaan, hingga petirtaan).
Sejak abad ke-10 Masehi (era Kerajaan Medang/Mataram Kuno dan era Majapahit), gunung ini dibuktikan dengan peninggalan seperti Pemandian Jolotundo (~977 M) hingga struktur candi-candi di masa akhir Majapahit.
Hingga saat ini gunung penanggungan masih dipercaya sebagai gunung suci yang layak dikunjungi sebagai perjalanan spiritual. Karenanya menjaga kebersihan kawasan gunung menjadi kewajiban bagi siapapun yang datang.
Melalui benggala widodari tanpa swiwi terlihat jelas banyaknya sampah yang berserakan di gunung ini, terlebih di puncak gunung.
Ada kontradiksi yang menyedihkan, yaitu keindahan pemandangan dari ketinggian, apalagi nilai sucinya yang dinodai oleh jejak kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, bukan alam.
Mestinya mereka yang menamakan diri sebagai pecinta alam harus bisa menjaga kebersihan alam, tidak meninggalkan sampah sembarangan. Kenyataannya, fenomena oknum yang mengaku pecinta alam tetapi justru mengotori lingkungan.
Aturan paling utama saat mendaki gunung atau menjelajahi alam adalah “bawa turun kembali semua sampah yang dibawa naik”

“Kirain yang suka naik gunung itu ikut jaga lingkungan, ternyata naik cuma photo photoan plus nyampah. Can’t believe that. Di China, kios di tengah kota dan di atas gunung sama sama cantik dan bersih”, itulah kesan Ita Surojoyo yang dalam jejak spiritualnya melihat banyak sampah di gunung Penanggungan.
Ia membayangkan nilai yang tersirat dalam Kitab Tantu Panggelaran dimana Pawitra ini secara mitologi sebagai paku bumi Jawa.
“Sayang jalur kunonya sekarang sudah tertutup”, tambah Ita.
Jalur pendakian kuno di Gunung Penanggungan (dikenal juga dengan istilah Pawitra Pradaksinapatha) adalah jaringan jalan purbakala yang dibuat dari tumpukan batu andesit dengan bentuk melingkar (mengitari badan gunung) dan pola zig-zag. (PAR/nng)
