Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra dengan menggelar lomba menulis aksara Jawa ini akan benar benar bermakna. Karena Bulan Bahasa dan Sastra ini benar benar akan menampilkan keluhuran bahasa dan sastra Jawa.
Kutipan (bait 2 dan 8) dari Pupuh Pangkur Serat Wulangreh yang akan menjadi bahan lomba akan disenandungkan oleh pesinden bertalenta Surabaya, Angelica.
Melalui Macapatan ini, sastra karya Pakubuwono IV dapat didengarkan (disimak) bagaimana bahasa dituturkan dan bagaimana seni macapat disenandungkan oleh pesinden bertalenta Angelica.
Persembahan budaya Jawa ini menggambarkan momen yang sangat indah, di mana karya sastra adiluhung Sri Susuhunan Pakubuwana IV (seperti Serat Wulangreh) kembali hidup melalui seni gerong dan macapatan.
Kehadiran Angelica, seorang pesinden muda berbakat (sering dikenal sebagai pesinden warga peranakan yang sangat fasih berbahasa Jawa dan nembang), memberikan warna tersendiri.
Melalui suaranya, kita tidak hanya mendengarkan keindahan “melodi” tradisional, tetapi juga belajar tentang ketepatan pelafalan (pamicara) dan penjiwaan (rasa) dalam menuturkan bahasa Jawa ragam krama yang tinggi.
Lomba dalam peringatan Bulan Bahasa dan Sastra ini benar benar menghadirkan sejarah melalui panggung budaya.

Yang sangat menarik adalah justru pesinden berbakat asal Surabaya ini adalah gadis berwajah oriental atau peranakan Tionghoa. Uniknya, Angelica justru mencintai budaya Jawa. Bahkan, dia adalah seorang sinden yang piawai membawakan tembang tembang Jawa. Kali ini dalam acara bulan Bahasa dan Sastra ini, Angelica akan membawakan Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV.
Angelica dalam kesempatan itu akan unjuk kebolehan di hadapan beberapa tamu diplomat yang berkantor di Surabaya. Ini adalah momen dan wadah terhormat dalam mempersembahkan budaya Nusantara.
Apalagi pada kesempatan itu juga akan dilakukan Ikrar/Sumpah budaya Nusantara.
“Kami, putra-putri Nusantara, yang lahir dari rahim keberagaman, dialiri sungai tradisi, dan dibesarkan dalam kehangatan gotong royong, dengan ini kami bersumpah:
Satu…….”, itulah petikan bait sebelum membacakan tiga butir sumpah dan janji Budaya dari Surabaya untuk bangsa. (PAR/nng)
