Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Nama Herman Neubronner van der Tuuk dikenal sebagai Bapak Peletak Dasar Linguistik Modern untuk bahasa-bahasa Nusantara, yang makamnya ada di Pemakaman Eropa Peneleh Surabaya.
Van der Tuuk juga dikenal menyusun banyak kamus bahasa daerah di Nusantara ke dalam bahasa Belanda. Yang menarik adalah dalam penyusunan kamus kamus itu, ia tidak cukup menggunakan aksara Latin untuk mewakili bahasa bahasa daerah, tetapi ia juga menggunakan aksara daerah seperti aksara Jawa, Bali. Batak dan Kawi).

Herman Neubronner Herman Neubronner van der Tuuk menggunakan aksara asli daerah di samping huruf Latin karena ia ingin menjaga keaslian suara/makna, bentuk kata, meneliti akar sejarah bahasa secara ilmiah, dan merujuk langsung pada naskah-naskah kuno setempat (Manuskrip dan prasasti).

Sebagai seorang linguis lapangan (tidak hanya teoritis), ia ingin mencatat bunyi dan asal-usul kata dengan tepat sesuai bentuk aslinya karena kesalahan (kekurang tepatan) bunyi atau pengucapan dapat merubah arti.
Herman Neubronner van der Tuuk sangat teliti mencatat bunyi dan asal-usul kata. Ia tahu bahwa satu beda bunyi kecil saja bisa mengubah arti kata secara total. Ketelitian ini menjadikannya sebagai peletak dasar linguistik modern untuk berbagai bahasa [Nusantara] (https://id.wikipedia.org/wiki/Herman_Neubronner_van der_Tuuk).

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman lapangannya di masyarakat, bahwa perbedaan ucap atau beda huruf dapat mengubah arti kata asli. Karenanya, ia menjaga bentuk murni kata dari sumber lokal tanpa ubah sesuka hati.
Misalnya nama kota Surabaya, seharusnya ditulis Śūrabhaya /ꦯꦹꦫꦨꦪ/ sesuai suara asli berdasarkan prasasti Canggu. Jika ditulis Surabaya, maka artinya berbeda.
• Śūrabhaya berarti berani menghadapi bahaya.
• Surabaya berarti buaya minum minuman keras (alkohol atau arak).
Van der Tuuk mengerti bahwa penulisan (penggunaan) aksara daerah akan menuntun pelafalan (pronunciation) yang tepat dan akhir dapat menjaga makna aslinya.
Seperti halnya dalam bahasa Inggris bahwa kata sheep dan ship memiliki suara /i/ yang berbeda. Kata sheep diucapkan dengan /i:/ panjang. Sementara kata ship diucapkan /i/ pendek. Sheep artinya domba. Ship artinya kapal.
Maka, dengan disertai penulisan aksara daerah maka pengucapan yang benar disa dijaga dan makna pun bisa dijaga pula.
Akhirnya, kamus susunan Van der Tuuk ini menjadi rujukan kamus karena alasan keakuratan dan sekaligus dapat mengenal akar kata leluhur dengan tepat seperti pada penulisan kata Śūrabhaya, bukannya Surabaya. (PAR/nng)
