Menakar Upaya Mengembalikan Aset Keraton Yogyakarta Yang Dijarah Inggris.

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Upaya pengembalian aset dan banyak manuskrip Keraton Yogyakarta, yang dijarah pasukan Inggris saat peristiwa Geger Sepehi 1812, memang masih menemui jalan panjang. Sejauh ini, bentuk pengembalian baru terealisasi lewat digitalisasi arsip, seperti penyerahan ratusan salinan digital manuskrip, sementara artefak fisik dan harta karun asli masih tertahan di institusi Inggris.

 

Saya pernah berkunjung ke the British Museum pada 2017 dan terkagum dibuatnya karena institusi ini mengoleksi artefak artefak asli baik dari Mesir, Italia dan bahkan dari Indonesia.

Kala itu sempat bertanya juga dalam hati “kok bisa Inggris mendapatkan artefak artefak ini?”.

Kini saya mengerti bahwa institusi ini memperoleh artefak dari koleksi Raffles ataupun Crawfurd, yang kala itu di era pemerintahan Inggris di Hindia Belanda (Indonesia) pada 1811-1816, yang mana pada 1812 terjadi Geger Sepehi dimana Inggris menjarah isi Keraton Yogyakarta.

Disinilah, di saat inilah (2026), saya baru mengerti bahwa koleksi di The British Museum, khususnya, yang asal Indonesia, banyak yang berupa hasil jarahan tentara Inggris pimpinan Raffles pada 1812.

Karena pada saat itu (2017), saya belum mengerti latar belakang koleksi museum asal Indonesia, maka saya hanya bisa berucap “sayang”. Sekarang semakin bisa berucap “ Sayang Sekali”.

Saya tidak bisa membawa pulang artefak penting itu kecuali lewat foto foto. British Museum di London dikunjungi sekitar 17.700 hingga 17.800 orang setiap harinya. Angka ini dihitung dari total kunjungan tahunan sebanyak 6,48 juta orang pada tahun 2024, yang dibagi rata ke dalam 365 hari dalam setahun. https://www.bbc.com/news/articles/c39v2ddn4p4o

The famous London museum saw 6,479,952 visitors through its doors in 2024, an 11% increase on 2023 numbers” tulis BBC.com.

Keaslian artefak di British Museum ini berfungsi sebagai nilai jual dan modal simbolik, yang menarik jutaan pengunjung. Status keaslian ini mendukung legitimasi museum sebagai lembaga universal, namun juga memicu perdebatan etis terkait klaim kepemilikan dan sejarah kolonial.

Klaim ini juga datang dari trah keraton Yogyakarta, khususnya dari Trah Hamengkubuwono II, yang kala itu bertahta ketika terjadi Geger Sepehi pada 1812.

Saya bukan dari trah HB II tetapi mengetahui bahwa karya budaya Jawa diperdagangkan dalam kemasan museum di Inggris, yang mendatangkan banyak devisa. Masuk museum tidak gratis. Pengunjung harus membayar tiket masuk atau menyumbang untuk melihat koleksi tersebut, yang kemudian menjadi sumber pendapatan bagi lembaga kebudayaan di sana.

Isu repatriasi dan diplomasi budaya dari pemerintah Indonesia melalui kementerian terkait secara berkala sudah berupaya melakukan diplomasi pengembalian (repatriasi) benda-benda bersejarah, yang penting bagi identitas bangsa. Perdebatan etis ini masih terus berjalan antara pihak museum barat yang mengklaim diri sebagai “museum universal” dan negara asal artefak, yang menuntut pengembalian warisan budaya leluhur mereka. Tidak terkecuali dari Indonesia, khususnya trah Hamengkubuwono II.

Sampai saat ini, belum ada repatriasi artefak asal Indonesia dari Inggris, karena Pemerintah Inggris (melalui kementerian terkait dan pihak museum di sana) belum bersedia atau belum melakukan pengembalian benda bersejarah asli asal Indonesia. Kecuali salinan digital manuskrip. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *