Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Langkah besar ini mengingatkan almarhumah ibu. Pada masanya, Beliau sering menggunakan kata kata yang tanpa aku sadari adalah kosa kata kuno. yang bersumber dari bahasa Kawi dan Sansekerta. Beliau memang menggunakan bahasa Jawa dan saya baru menyadari sekarang bahwa banyak kosa kata yang dipergunakan berasal (serapan) dari Bahasa Kawi dan Sansekerta.
Misalnya ada kata “abahan”, “Abipraya” dan “abirama”. Masih banyak lagi lainnya. Salah satu contohnya adalah “munasika”.
Kata “munasika” merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta (mānasika atau manasika) yang masuk ke bahasa Indonesia terutama melalui bahasa Jawa kuno/klasik.
Juga kata “Pralaya” yang berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “kehancuran”, “pembubaran”, “pemusnahan”, atau “kematian.
Juga ada kata “prahara” yang asalnya dari bahasa Sansekerta: dan berarti “pukulan” atau “serangan”. Dalam.Bahasa Jawa: bisa diartikan sebagai badai atau angin besar. Karenanya di Taman Hiburan Pantai (pantai lama) Kenjeran pernah ada Panggung Prahara persis di tepi pantai yang menawarkan angin pantai.

Saya, kala itu, mengerti karena kata kata itu digunakan almarhumah ibu dalam konteksnya dan baru mengerti sekarang bila kata kata itu bersumber dari bahasa Sansekerta.
Kata kata abahan, abipraya, abirama, munasika, pralaya, dan prahara, hanyalah sebagian saja. Meski demikian, artinya begitu besar karena mereka (kata kata itu) membawa emosi jiwa dan sentimen pribadi.
Itulah bahan bakar yang membuat semangat tetap membara. Kini kata kata itu menjadi sumber inspirasi untuk berkarya demi pelestarian budaya. Menjaga dan mendokumentasikan kata kata itu adalah upaya pelestarian yang sekaligus upaya mengenal asal usul.
Ya, bahasa Indonesia punya asal usul, terutama kosa katanya. Maka kenalilah asal usul bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dikenal berakar dari bahasa Melayu (khususnya ragam Melayu Riau) yang sejak abad ke-7 telah digunakan sebagai lingua franca (bahasa perantara/pergaulan) di wilayah Nusantara.
Tonggak Sejarah Utama
• Abad ke-7: Bukti tertua penggunaan bahasa Melayu kuno ditemukan pada prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya (seperti Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M) beraksara Pallawa.
• 28 Oktober 1928: Bahasa Melayu secara resmi diikrarkan sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda.
• Kini 25 Oktober 2026, putera puteri Indonesia di Jawa Timur akan berikrar Budaya dalam rangkaian peringatan Hari Bahasa, Sastra dan Sumpah Pemuda.
Upaya mengenal Bahasa Indonesia yang kebanyakan merupakan kosakata serapan bahasa daerah dan asing adalah impian baik dan praktis dalam mengenal kembali bahasa Indonesia di bulan bahasa ini.
Produknya adalah seperti “melting pot”. Melting pot (kuali peleburan) adalah sebuah metafora untuk menggambarkan masyarakat heterogen yang menyatu dan melebur menjadi satu kebudayaan atau identitas yang homogen.
Berbagai latar belakang ras, suku, budaya, bahasa, dan ide dari berbagai kelompok masyarakat bercampur seperti bahan-bahan di dalam kuali panas hingga membentuk satu kesatuan yang baru, Indonesia. (PAR/nng)
