Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Lomba Menulis Aksara Jawa tinggal sehari dan tinggal menghitung mundur hitungan jam (kurang dari 24 jam sejak artikel ini ditulis). Lomba ini secara praktis adalah gerakan menulis aksara Jawa dan secara ideologis memperdalam ilmu kejawen yang mengandung pitutur luhur dari serat Wulangreh.
Serat Wulangreh adalah salah satu karya sastra Jawa klasik berbentuk tembang macapat yang diciptakan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Kasunanan Surakarta, yang berisi pedoman hidup, nilai moral, budi pekerti, serta tata krama dalam masyarakat Jawa.

Nilai-nilai utama yang terkandung di dalam Serat Wulangreh ini meliputi:
• Nilai Religius (Hubungan manusia dengan Tuhan):
• Kewajiban beribadah dengan baik.
• Berserah diri, patuh, dan ikhlas menerima ketetapan atau takdir Tuhan (nrimo ing pandum) setelah berusaha maksimal.
• Bersifat eling lan waspada (ingat dan selalu awas terhadap kebesaran Tuhan serta potensi kesalahan diri).
• Nilai Moral dan Budi Pekerti (Hubungan manusia dengan diri sendiri):
• Pengendalian diri dan kesabaran (rereh, ririh, ngati-ati) dalam menghadapi masalah.
• Menjaga ucapan, perbuatan, dan hawa nafsu.
• Sikap mawas diri dan kedewasaan rohani.
• Nilai Sosial dan Etika (Hubungan manusia dengan sesama):
• Andap asor (kerendahan hati) dan tidak sombong.
• Tepa selira (tenggang rasa) dan menjaga keharmonisan dalam keluarga serta masyarakat.
• Kebijaksanaan dalam memilih guru atau pemimpin serta cara bergaul yang baik.
• Kesadaran membaca situasi dan lingkungan (ngerti papan lan wektune).
• Nilai Kebangsaan dan Kehidupan:
• Semangat cinta damai dan kerja keras.
• Rasa cinta tanah air serta nilai-nilai kepemimpinan/politik yang adil.
“Sapa sing ngaku wong Jawa ora mung katon saka sandhangan kan lencana, nanging kudu bisa njaga kapribaden, tata krama, lan unggah-ungguh.”
Menjadi orang Jawa bukan sekadar soal cara berpakaian dan lencana; hal itu menuntut seseorang untuk menjunjung tinggi karakter, berperilaku dengan tepat, serta memiliki tata krama yang halus. (PAR/nng)
