Sinau Pawelinge Leluhur Jawa

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Pelaksanaan lomba menulis aksara Jawa pada 25 Oktober mendatang esensinya adalah mengajak banyak pihak belajar nilai nilai Jawa. Dadi wong JaAjawa aja mung katon neng sandangan njaba sawetara.

Kalimat ini mengingatkan kita semua agar tidak sekedar memburu dan pamer penampilan fisik (luar) saja, tetapi sesungguhnya haruslah lebih mengutamakan kebaikan hati dan bertindak.

• Sandangan njaba sawetara: Iki nggambarake bab-bab sing katon dening mripat lan sifate mung sedhela (fana), kayata sandhangan sing larang, pangkat, donya brana (bandha), utawa rupane sing bagus/ayu.

• Aja mung katon: Tegese aja nganti uripmu mung fokus kanggo golek alem (pujian) saka manungsa liyane amarga perkara-perkara fisik mau.

Dalam budaya Jawa, seseorang yang benar-benar dihormati, disebut sebagai “orang Jawa yang mewujudkan esensi ke-Jawa-an”, bukanlah orang terkaya, atau orang yang mengenakan pakaian terbaik atau dengan model Jawa, melainkan seseorang yang memiliki:

• Tata krama lan unggah-ungguh: Bisa mapanake dhiri, ngormati wong liya, lan nggunakake basa sing trep.

• Mapaning rasa (Empati): Nduweni rasa tepa slira (tenggang rasa) lan ora gampang nglarani atine liyan.

• Andhap asor: Tetep asor lan ora sombong sanadyan nduweni kalungguhan utawa kasugihan.

Dalam Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, ajaran tentang menepati janji dan larangan untuk asal berbicara/obral janji dibahas secara spesifik dalam Pupuh Gambuh bait ke-16.

Pakubuwana IV memberikan nasihat yang sangat keras agar manusia tidak mudah mengumbar janji yang belum tentu bisa ia buktikan atau tepati.

 

Ajaran Menepati Janji dalam Pupuh Gambuh

Nasihat mengenai komitmen pada janji ini tercantum pada Bait (Pada) 16 Pupuh Gambuh, yang berbunyi:

Aja kakean sanggup, durung weruh tuture amemuji, yen sanggupa temahane dadi ewuh, amung golek alem ugi, wawasan dadi asor.

 

Arti dan Makna Filosofis:

• Aja kakean sanggup:

Jangan terlalu mudah menyanggupi atau mengumbar janji kepada orang lain.

• Durung weruh tuture amemuji: Apalagi jika perkataan itu keluar hanya demi dipuji atau tampak hebat di mata orang lain.

• Yen sanggupa temahane dadi ewuh:

Jika kamu asal menyanggupi namun ternyata tidak mampu menepatinya, pada akhirnya tindakan itu hanya akan menyulitkan dan merepotkan dirimu sendiri.

• Amung golek alem ugi, wekasane dadi asor:

Orang yang berjanji hanya untuk mencari pujian sesaat, pada akhirnya justru akan jatuh martabatnya dan menjadi hina (asor) ketika janji tersebut terbukti palsu.

 

Inti Nilai Etika Jawa yang Diajarkan

Melalui tembang ini, Serat Wulangreh mengajarkan dua nilai utama dalam interaksi sosial masyarakat Jawa:

1. Waspada dalam Berucap (Eling lan Waspada):

Sebelum mengiyakan sesuatu, seseorang harus mengukur kemampuan dirinya terlebih dahulu agar tidak menjadi beban moral di kemudian hari.

2. Menjaga Integritas Diri:

Dalam budaya Jawa, harga diri seseorang diukur dari keselarasan antara ucapan dan perbuatan (satuning kata lan pambudi). Mudah mengumbar janji dan sumpah palsu dinilai merusak tatana

n moral dan menghilangkan kepercayaan orang lain. (PAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *