Sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Ada sungai bernama Kali Londo. Letaknya menjulur ke Timur di bagian Timur Kota Surabaya. Bagi mereka, yang belum pernah ke wisata alam mangrove Wonorejo, mungkin tidak mengenal nama Kali Londo. Bagi mereka yang kesana pun, jika kurang dibekali dengan rasa ingin tahu, juga mungkin belum bisa mengenal nama Kali Londo.
Yang jelas jika Anda berperahu menikmati hutan mangrove Wonorejo, sungai itulah yang bernama Kali Londo. Sungai ini bermuara di Pamurbaya (Pantai Timur Surabaya) yang langsung menghadap Selat Madura.

Kali Londo ini muara dari sungai yang kita kenal Kanal/Sungai Jagir. Karena kanal ini berada di daerah Jagir, maka kanal ini dikenal dengan nama sungai atau Kanal Jagir. Kanal ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda mulai 1865-1870.

Sebuah data tentang Pengendalian Banjir Sungai Brantas menginformasikan bahwa pada 1865 dibuatlah sodetan Wonokromo untuk mengurangi debit banjir ke Kalimas (Surabaya).
Lalu pada 1870 dibangun Dam Jagir (Surabaya) dan Dam Lengkong (Mojokerto) untuk mengendalikan debit banjir yang masuk ke Surabaya. Karenanya Dam Jagir dikenal dengan nama Banjir Sluis (pintu air banjir).

Kanal Jagir ini menjulur lurus ke Timur dan di bagian Timur bentuknya meliuk-liuk karena pergerakan dan tekanan air yang secara natural membentuk formasi alur sungai hingga ke muara. Dulunya sepanjang sungai mulai dari Jagir hingga ke muara bernama Kali Londo.

Ketika ruas sungai berada di kawasan Jagir, maka dikenallah ruas itu dengan nama Sungai Jagir atau Kanal Jagir. Sementara sisanya, yang menjulur ke muara di wilayah Wonorejo, kelurahan Rungkut, Kecamatan Rungkut, terbentuk secara alami masih bernama Kali Londo. Warga setempat masih mengenalnya secara turun temurun dengan nama “Kali Londo”.
Nama Kali Londo karena buatan atas perintah pemerintah Hindia Belanda di Surabaya.
“Mulai dulu sungai ini bernama Kali Londo karena buatan orang Belanda”, tutur operator perahu motor yang membawa rombongan mahasiswa Jerman di hutan mangrove itu. (28/8/25).

Kali Londo dinamakan demikian karena merupakan sebuah kanal buatan peninggalan Pemerintah Belanda, yang berarti “Belanda” dalam bahasa Jawa, untuk mengendalikan banjir dan juga untuk mencegah intrusi air laut di Surabaya pada abad 19.

Kanal ini sekarang dikenal dengan nama Kali Jagir dan merupakan peninggalan penting yang masih berfungsi vital hingga kini.
Ada riwayat ketika pembuatan kanal, yang mana pemerintah Hindia Belanda di Surabaya, menyuruh warga di sekitar object pembangunan (Sidosermo atau Ndresmo) untuk menggali tanah buat sudetan. Warga sempat menolak dan terjadilah perlawanan.
Karena perlawanan itulah, pihak pemerintah Belanda kewalahan. Untuk meredakan perlawanan, pihak pemerintah menyusun strategi damai dengan mengajak pimpinan setempat, Ali Asghor, berunding.
Tercapailah kesepakatan damai, yang mana pemerintah memberikan sebuah “besluit” atau keistimewaan hukum kepada Ndresmo, yang mencakup pembebasan pajak tanah untuk wilayah tersebut.
Besluit bebas pajak ini diberikan sebagai imbalan atas perdamaian di era pemerintahan kolonial dan di era pemerintahan republik sekarang peraturan berangsur menyesuaikan.
Nama “Kali Londo” menjadi penanda bahwa sungai, yang menjulur ke Timur dari kawasan Jagir kecamatan Wonokromo ke Wonorejo kelurahan Rungkut Kecamatan Rungkut ini, adalah buatan Pemerintah Hindia Belanda di Surabaya pada abad 19.
Karenanya, sumber historis ini bisa menjadi rujukan pembanding sebagai latar belakang sejarah Hari Jadi Kota Surabaya. (PAR/nng).