Hanzi & Aksara Jawa Di Tiongkok.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Eksplorasi Ita Surojoyo, pendiri Komunitas Aksara Jawa Surabaya, Puri Aksara Rajapatni, di Guangzhou memasuki cell cell masyarakat. Tidak hanya di kalangan pekerja kuliner di kalangan penjual makanan, tetapi masuk di kalangan pelajar di kota itu.

Bawa aksara Jawa ke negeri Tiongkok. Foto: IS

Ita Surojoyo sambil memperkenalkan penggunaan aksara Jawa dalam perangkat alat digital, yaitu HP. Melalui digitalisasi itulah Ita mengajak mahasiswa di Xian University yang ia temui melihat aksara Jawa dalam sebuah komparasi praktis aksara tradisional: Hanzi dan Aksara Jawa.

Dua mahasiswa Xian University terkesima dengan aksara Jawa. Foto: IS

Bagi mereka aksara Hanzi bukanlah hal baru karena mereka telah mempelajarinya secara sistematis dan intensif sejak usia dini melalui kurikulum pendidikan dasar yang ketat.

Pelajaran dasar tentang Hanzi di Tiongkok. Foto ist

Anak-anak di Tiongkok mulai belajar Hanzi sejak prasekolah atau usia 6-7 tahun. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah dasar (SD) untuk menghafal, membaca, dan menulis ribuan karakter.

Dengan cara ini, aksara tradisional Hanzi bisa berkembang selaras dengan aksara asing Latin dalam relevansinya dengan kemajuan zaman. Aksara tradisional Hanzi akhirnya menjadi bagian integral dengan kemajuan teknologi maju.

Aksara Jawa di Tiongkok. Foto: IS

Ini menggambarkan evolusi luar biasa aksara tradisional Hanzi yang bisa tetap relevan dan terintegrasi dalam kemajuan teknologi modern, berdampingan dengan aksara Latin.

Itu bukan karena teknologinya tapi karena masyarakatnya yang mau menjunjung aksara leluhurnya. Teknologi hanyalah alat, sedangkan faktor penentu utamanya adalah kemauan dan kesadaran masyarakat untuk menjunjung, merawat, dan menggunakan aksara leluhur mereka. Tiongkok adalah tempatnya. Ke Tiongkok Lah (China) dimana ilmu akan dikejar. “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” . (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *