Budaya
Rajspatni.com: SURABAYA – Makam Eropa Peneleh Surabaya adalah sebuah taman prasasti. Disana terdapat banyak nisan, yang mengisahkan para ahli kubur. Mereka adalah orang orang penting hingga orang biasa. Karenanya sebuah project revitalisasi pernah berlangsung pada 2024 untuk menghidupkan dan mengenang para ahli kubur melalui project Living Library.
Ada peran organisasi dari Belanda dalam upaya revitalisasi itu. Organisasi itu adalah TiMe Amsterdam. Revitalisasi itu digagas untuk menghidupkan Makam Eropa Peneleh sebagai wahana edukasi sejarah dan budaya.
Ya, makam Peneleh kaya akan prasasti (inskripsi) yang sarat cerita.
Melalui konsep Living Library, para pengunjung bisa berinteraksi dengan lingkungan makam. Hamparan pemakamannya dan warga sekitarnya adalah buku yang bisa disimak. Pengunjung bisa berinteraksi menggunakan panca indera mereka.
Konsep Peneleh As A Living Library mengubah kawasan makam seluas 4,5 hektar ini dari sekadar tempat pemakaman menjadi ruang edukasi dan sejarah yang interaktif.
Interaksi Panca Indera

Penglihatan. Pengunjung melihat arsitektur makam gotik, sarkofagus, relief, dan “Omah Balung” (rumah tulang/ossuary) yang merupakan bukti efisiensi lahan di masa lalu.
Peraba. Tekstur nisan tua, cungkup, dan lingkungan sekitar yang asri memberikan pengalaman fisik sejarah.
Pendengaran/Kisah. Melalui pemandu serta dari warga, kisah-kisah di balik nisan (seperti kisah Pietermaat atau perancang Masjid Kemayoran) dihidupkan kembali.
Melibatkan Warga Sekitar.
Karena lokasi makam kini terhimpit pemukiman padat di Kampung Peneleh, konsep living library juga mengintegrasikan warga lokal, menjadikannya oase sejarah di tengah kota yang hidup dan dinamis.
Saking banyaknya kuburan di Makam Eropa Peneleh, revitalisasi yang melibatkan organisasi dan pemerintah Kerajaan Belanda itu direncanakan secara bertahap. Misalnya dalam revitalisasi tahun 2024 itu memilih 10 makam tokoh penting di Surabaya dan Hindia Belanda. Diantaranya adalah Herman Van der Tuuk, seorang peletak dasar linguistik Nusantara.
Rencananya revitalisasi bisa berlanjut pada tahun tahun berikutnya. Tapi…!
Babak Lanjutan
Revitalisasi tahun 2024 itu sebetulnya adalah agenda Babak Awal. Yakni penataan secara fisik, termasuk menarasikan 10 makam tokoh penting di Surabaya dan Hindia Belanda.
Lanjutannya adalah akan ada lagi sejumlah makam lainnya yang dibenahi kondisinya serta memberi narasi yang edukatif dan konstruktif. Termasuk mulai membuka koneksi antara masyarakat Belanda, utamanya ahli waris, dengan Surabaya dan secara luas Indonesia.
Diharapkan ini akan membuka gerbang kolaborasi dan revitalisasi Koneksi antara masyarakat Indonesia dan Belanda. Ini adalah hubungan People-to-People (P2P) dan Organisation-to-Organisation (O2O) sebagai penguatan Government-to-Government (G2G).
Pada pasca revitalisasi 2024, seorang inisiator revitalisasi dari Surabaya masih berkomitmen menindaklanjuti project “Peneleh as a Living Library” itu. Secara individu ia membangun jaringan dengan warga Belanda yang akhirnya melahirkan People-to- People (P2P). Pada saat yang bersamaan diiringi dengan konsep Organisation-to-Organisation (O2O). Akhirnya juga terbentuk jaringan Puri Aksara Rajapatni (Surabaya) dan Stichting Anak Mas (Belanda).
Donkersloot
Melalui O2O ini, peluang sebagai wadah menyambungkan ahli waris di Belanda dengan ahli kubur di Surabaya terbuka. Seorang yang bermarga Donkersloot sempat menanyakan makam keluarga Donkersloot di Peneleh. Mitra Surabaya pun sempat mencarinya dan ketemu dengan nomor registrasi B661 yang posisinya di area Selatan.

Atas penemuan itu, keluarga waris berharap untuk membenahi makam keluarga Donkersloot termasuk makam peletak dasar linguistik. Tapi permohonan belum juga terwujud hingga kedatangan keluarga ahli waris Michiel Eduard Donkersloot pada awal April 2026.
Setelah melihat kondisi makam leluhur Donkersloot dan Van der Tuuk, Ia pun bersurat ke Puri Aksara Rajapatni. Selanjutnya Puri Aksara Rajapatni bersurat ke Walikota Surabaya dengan melampirkan surat dari keluarga waris Donkersloot.
Hubungan dari warga Belanda ini adalah wujud nyata mulai adanya hubungan People-to-People (P2P) sebagai target dari revitalisasi dalam konsep Peneleh sebagai Perpustakaan Hidup. Apalagi P2P ini seiring dengan O2O, yang keduanya adalah penguatan terhadap G2G Indonesia – Belanda.
“Dari Revitalisasi Prasasti ke Koneksi” sebagaimana judul dari artikel ini adalah konsep yang menyoroti bahwa repatriasi atau pengembalian artefak/prasasti bersejarah (seperti Arca Shiva dan Prasasti Damalung pada tahun 2026) bukan sekadar mengembalikan benda fisik, melainkan sebagai tangga untuk membangun dialog budaya yang berkelanjutan dan memori kolektif.
Penguatan Hubungan G2G dan P2P merupakan upaya mempererat hubungan Government-to-Government (G2G) yang sudah terjalin, sekaligus menciptakan ruang bagi hubungan People-to-People (P2P) dan Organisation-to-Organisation (O2O) yang lebih erat.
Upaya-upaya ini menunjukkan pergeseran dari hubungan yang berbasis masa lalu kolonial menuju kemitraan yang setara dan saling menguntungkan di era modern. (PAR/nng)
