BCB Gedung Setan Sebagai Simbol Kemegahan Masa Lalu Surabaya Sirna Ditelan Keangkuhan Zaman Masa Sekarang

Cagar Budaya.

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – BCB Gedung Setan di Banyu Urip Surabaya bukanlah sebuah jarum yang terselip dalam jerami, tapi gajah yang ada di pelupuk mata.

Letaknya di atas bukit dan berada di tikungan jalan yang ada di bawahnya yang menjadi sumbu pertemuan jalan Diponegoro dan jalan Pasar Kembang. Kedua jalan ini adalah jalan utama yang berbentuk Boulevard dengan pulau jalan di tengahnya sehingga membentuk dua jalur.

Bangunan yang bernama Gedung Setan ini adalah bekas kediaman pejabat VOC yang terhitung lebih awal dari Gedung Grahadi yang dulunya disebut Rumah Taman (Tuinhuis) karena terkenal keindahan alamnya.

Gedung Setan juga demikian yang tidak kalah indahnya. Berdiri di atas bukit kecil (seperti di Tretes) dengan sungai yang mengalir di depan bawahnya. Dari ketinggian bukit ini, penampakan Surabaya (kota) dapat mudah terlihat dan terpantau. Sebuah pemilihan lokasi yang tepat buat pejabat VOC di masanya.

Gedungnya gagah dan kokoh menunjukkan keindahan dan kekuasaan. Sekarang, terlebih setelah perbaikan atap yang ambruk, kegagahan dan keindahannya, terpuruk. Bagaimana bisa terjadi?

BCB Gedung Setan ini bagai Gajah di pelupuk mata, yang tak tampak. Banyak pihak, baik yang nomor kontaknya masuk dalam list contact number penulis maupun yang belum, menyampaikan pendapat keluh kesahnya terkait dari hasil perbaikan atap bangunan yang terlalu buruk dan salah dari sudut pandang pelestarian cagar budaya terkait dengan undang undang yang berlaku.

Gedung Setan dilihat dari Utara. Foto: ghvonfaber

Dilihat dari Utara (di jalan Pasar Kembang) maupun dari Selatan (di jalan Diponegoro), terlihat sangat menyedihkan, kontras dengan nilai penting yang telah dikenal sebelumnya. Pertanyaan pertanyaan itu berkisar pada pertanyaan serupa “perbaikannya kok begitu? Bagaimana pengawasan oleh TACB? Pelestarian BCB Rumah Setan yang jelek!”

Rumah Setan dilihat dari Selatan. Foto: ist

Model faktual ini tentu menjatuhkan martabat kota Surabaya yang kabarnya banyak getol merawat Bangunan Cagar Budaya.

BCB Gedung Setan adalah pandangan mata publik dan menjadi jejak sejarah yang membanggakan bagi kota Surabaya karena gedung Setan (spookhuis) adalah bekas kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebelum ada Grahadi.

 

Kediaman Resmi Pejabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda 

Rumah bukit. Foto: ist

Di Surabaya tercatat secara historis pernah tinggal dan meninggal Gubernur Jenderal Pieter Merkus pada 1848. Ia meninggal di Huiz Van Simpang (sekarang Gedung Grahadi) dan dimakamkan di Pemakaman Eropa Peneleh.

Selain Pieter Merkus, ternyata di Surabaya pernah ada Gubernur Jendral Hindia Belanda lainnya, yang pernah dikuburkan di Surabaya. (Menurut GH von Faber dalam bukunya Oud Soerabaia). Kuburannya ada di belakang Bangunan Gedung Setan sebelum dipindahkan ke Batavia.

Ia adalah Carel Reyniersz yang hidup di era VOC dan meninggal pada 1653. Carel Reyniersz adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke 11 yang menjabat mulai 1650 – hingga meninggal pada 1653. Pada masa pemerintahan nya di Surabaya, di Surabaya belum ada Paleis van Simpang (Grahadi) karena Istana itu dibangun pada 1796.

Lantas dimanakah Carel Reyniersz pernah bertempat tinggal dalam menjalankan tugasnya sebagai Kepala VOC selama di Surabaya?

Yaitu di sebuah kawasan perbukitan di selatan Stad van Sourabaya, tepatnya di wilayah Kupang. Di sana telah berdiri sebuah loji yang sangat besar berlantai dua. Disanalah Carel Reyniersz bertempat.

Tidak banyak disadari dan diketahui bahwa loji besar ini sudah menjadi jujugan dan bahkan tempat tinggal pejabat tinggi VOC untuk beristirahat dalam keseharian setelah menjalankan tugas tugas kantor di Kantor Gezaghebber di Kota Surabaya. Gezaghebber adalah jabatan Kepala Wilayah Pantai Utara Jawa bagian Timur.

Sebagai tempat peristirahatan, loji Kupang ini sangatlah enak. Berlokasi di perbukitan dengan alam lingkungan yang asri bak alam pegunungan dengan sungai mengalir di depan bawah berdirinya loji. Dari ketinggian loji ini, kawasan Kota dapat dipandang. Bahkan perahu perahu kecil masih hilir mudik di sungai depan loji.

Carel Reyniersz, yang meninggal pada 18 Mei 1653 dimakamkan di area di belakang gedung (Faber: Oud Soerabaia). Batu nisannya berbunyi :

Nisan suami istri Carel Reynierszsebelum dipindhkan ke Batavia. Foto: ghvonfaber

“Di sini terbaring pada tanggal 18 Mei 1653 Tuan Carel Reiniersz, yang semasa hidupnya menjadi Gubernur Jendral Hindia”.

Diduga Carel Reyniersz meninggal dalam menjalankan tugas sebagai Gubernur Jenderal Hindia yang ke 11 (1650-1653).

Sebelum kematian Reynierz pada Mei 1653, sebetulnya Heeren XVII mengeluarkan surat keputusan untuk memberhentikan Reyniersz, dengan alasan yang tidak jelas yang membuat Heeren tidak menyukai kepemimpinan Reyniersz.

Yang jelas alasan resmi Heeren memberhentikan Reynierz adalah karena kepemimpinannya tidak cakap. Surat pemberhentian sudah disiapkan tapi tidak jadi dikirim, karena Reyniersz sendiri meminta pengunduran diri. Pengunduran diri Reyniersz itu karena alasan kesehatan (sakit).

Reyniersz meninggal dunia pada 18 Mei 1653 dan dimakamkan di halaman belakang rumah loji Kupang.

Menurut Faber, di tempat yang sama ini, juga telah dimakamkan istrinya yang bernama Joff Judith Barra van Amstel. Di nisannya tertulis:

Disini makam nyonya Joff Judith Barra van Amstel istri dari Tuan Carel Reinierz, yang wafat pada 21 juli 1646 dalam usia 25 tahun.

Dari batu nisan tertulis angka tahun 1646, yang berarti istrinya meninggal terlebih dahulu. Terpaut 7 tahun lebih dulu (1646) dibandingkan Carel Reyniersz (1653)

Tampak depan gedung Rumah Setan. Foto: ist

Gedung ini kemudian dikembangkan lebih lanjut pada tahun 1809 oleh J.A. van Middelkoop, Itulah kilas balik mengenai Rumah Setan, yang dulu disebut Spookhuis. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *