Budaya , Bahasa
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Surabaya memiliki bahasa tersendiri. Bahasa ini adalah ragam Bahasa Jawa Subdialek Surabaya yang berciri khas lugas, egaliter, dan terbuka. Bahasa ini lazim disebut Bahasa Arekan Surabaya atau disebut Basa Suroboyoan.
“Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya“. Artinya adalah bahwa setiap daerah, suku, atau masyarakat mempunyai adat istiadat, kebiasaan, dan aturan yang berbeda-beda
Antar perbedaan itu hendaknya ada rasa toleransi dan menghindari adanya sifat judgement. Sifat judgement (atau judgemental) adalah kecenderungan seseorang untuk cepat menilai, mengkritik, atau menghakimi orang lain secara negatif berdasarkan standar, opini, atau keyakinan pribadi tanpa tahu kebenaran yang utuh.
Pun demikian ketika bahasa Jawa Arekan Surabaya dinilai tidak sopan dan kasar. Ini karena bahasa Arekan Surabaya itu dinilai oleh orang, yang secara pribadi dan lingkungan yang berasal dari lingkup budaya bahasa lain seperti bahasa Jawa Mataraman.

Perlu diketahui bahwa bahasa Jawa Arekan ini berkembang dari suatu situasi dan kondisi yang membutuhkan percepatan dan kepraktisan dalam komunikasi baik sosial maupun budaya. Yaitu pada masa pergerakan di Surabaya, jauh sebelum kemerdekaan.
Bahasa Jawa Arekan memang lahir dari kebutuhan ruang sosial yang egaliter, cepat, dan praktis. Sifat bahasa ini terbuka dan tidak kaku.
Egaliter: Tidak mengenal tingkatan halus seperti krama inggil yang rumit, mencerminkan kesetaraan antar warga.
Terbuka: Menerima campur kode dari berbagai etnis yang datang ke kota pelabuhan Surabaya.
Tegas: Kosakata pendek dan lngsung pada sasaran untuk mempercepat pesan.
Pengaruh Masa Pergerakan Pertemuan berbagai pejuang dan masyarakat dari berbagai latar belakang butuh sarana komunikasi yang cepat.
Bahasa ini sekaligus sebagai identitas perlawanan dan simbol pergaulan yang tanpa batas status sosial kolonial. Tetapi tetap mengandung kesopanan melalui gestur tubuh (body language).
Di masa pergerakan ada tokoh Tjokrosudarmo dan Tjokroaminoto yang mulai memperkenalkan dan menggunakan bahasa Egaliter Surabaya demi efektivitas komunikasi (massa)
Peran Bahasa Egaliter dalam Komunikasi Massa
Menghapus Stratifikasi Sosial: Menghilangkan penggunaan tingkat bahasa (krama madya/inggil) yang membedakan kaum bangsawan (priyayi) dan rakyat jelata (wong cilik).
Membangun Solidaritas:
Memakai bahasa Ngoko atau gaya Suroboyoan yang lugas memicu semangat kesetaraan (egaliter) di antara anggota Sarekat Islam dan buruh.
Efektif untuk Orasi: Memudahkan pemimpin pergerakan dalam membakar semangat massa secara langsung tanpa terhalang aturan bahasa yang rumit.
Dalam sebuah seruan pidato Bung Tomo, Ia memanggil Arek Suroboyo yang datang dari Maluku, Sulawesi, Pulau Bali, Kalimantan, seluruh Sumatera, Aceh, dan Tapanuli. Bahasa Jawa Subdialek Surabaya menjadi bahasa pemersatu yang mudah dimengerti demi tujuan pergerakan untuk kemerdekaan.
Bahkan dalam pembacaan teks proklamasi pun, teksnya dibacakan dalam berbagai bahasa daerah. Ketika sekarang ada upaya perlindungan bahasa daerah, yang diantaranya adalah bahasa Jawa Sub dialek Surabaya, menjadi langkah strategis dalam upaya perlindungan dan pelestarian.
Mengapa harus malu berbahasa Jawa Subdialek Surabaya?
Memang sangat bijak bila kita bisa menerapkan peribahasa yang berbunyi “When you are in Rome, Do as the Romans do”. Artinya Ikutilah kebiasaan, aturan, dan cara hidup setempat saat mengunjungi tempat baru. (PAR/nng)
