Aksara Jawa Menyimpan Nilai Luhur. Mau Belajar Atau Bangsa Lain Memilikinya.

Budaya, Aksara.

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA –

꧋ꦒꦶꦤꦸꦭꦁꦱꦣꦶꦤꦣꦶꦤ꧈

꧋ꦮꦶꦮꦺꦏꦤꦺꦩꦶꦤ꧀ꦝꦺꦁꦧꦱꦧꦱꦸꦏꦶ꧈

ꦈꦗꦸꦧ꧀ꦫꦶꦪꦥꦸꦤ꧀ꦏꦶꦧꦶꦫꦶ꧈

ꦱꦸꦩꦸꦔꦃꦭꦤ꧀ꦏꦁꦒꦺꦴꦤꦤ꧀‌꧈

꧋ꦩꦸꦁꦱꦸꦩꦺꦤ꧀ꦝꦺꦆꦁꦔꦂꦱꦤꦶꦫꦲꦾꦁꦄꦒꦸꦁ꧈

ꦈꦗꦂꦱꦶꦫꦶꦏ꧀ꦏꦁꦫꦶꦤꦼꦏ꧀ꦱ꧈

ꦏꦻꦴꦠꦩꦤ꧀ꦈꦭꦃꦮꦣꦶ꧉

 

“Ginulang sadina-dina,

wiwekane mindeng basa basuki,

ujub riya pun kibiri,

sumungah lan kanggonan,

mung sumendhe ing ngarsa nira Hyang Agung,

ujar sirik kang rineksa,

kautaman ulah-wadi”

Serat Wulangreh Pupuh Pangkur ajarkan tata Krama dan nilai nulur dalam berkomunikasi. Foto: nawakzara

Itulah isi Bait ke-7 dari Pupuh Pangkur Serat Wulangreh. Satu dari 17 bait dari serat tersebut. Satu bait berisi 7 baris kalimat.

Arti dalam Bahasa Indonesia, jika diterjemahkan per kalimat. Yaitu semua itu dilakukan dan dilatih setiap hari agar senantiasa bertutur kata (berbahasa) yang baik, tingkah laku yang buruk hendaknya disingkirkan, tidak memiliki sifat riya’ (sombong) atau angkuh, serta tidak suka memamerkan diri. Semuanya hanya pasrah dan bersandar kepada Tuhan Yang Maha Esa (Hyang Agung), menjaga perkataan yang tidak baik, dan yang dicari adalah keutamaan (kebaikan sejati). (https://id.scribd.com/document/981383188/Serat-Wulangreh-PANGKUR)

Inilah bait, yang nyata nyata mengajarkan tentang bertutur kata atau berbahasa, yang baik secara sosiologi. Menjaga tata Krama antar sesama umat manusia. Tidak angkuh, tidak sombong, dan tidak riya’. Segala ucapan hanya bersandar pada Tuhan Yang Maha Esa untuk menghindari perkataan dan berbahasa yang tidak baik.

Bait ini jelas mengajarkan nilai moral dan etika berkomunikasi (tata krama/unggah-ungguh), dan kerendahan hati yang bersandar pada nilai Ketuhanan.

Dalam sastra dan tradisi Jawa, konsep ini digambarkan secara sempurna dalam Tembang Macapat Pangkur atau Pocung sebagaimana pada naskah klasik seperti Serat Wulangreh karya pujangga Sri Susuhunan Pakubuwono IV tahun 1788.

Serat Wulangreh Lengkap. Foto: nawakzara

Harus disadari bahwa di balik untaian aksara Jawa, banyak ditemukan nilai nilai luhur serta ajaran sejati, termasuk sejarah.

Siapa yang tidak paham aksara Jawa pasti akan terputus dari akar leluhur atau kemasan aksara itu dimiliki oleh bangsa lain. Inggris memilikinya dan memanfaatkannya.

Indonesia? (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *