Budaya.
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Agenda utama dari kunjungan resmi Perdana Menteri India Narendra Modi pada Rabu (8/7/2026) adalah melakukan kunjungan kenegaraan ke Candi Prambanan, Yogyakarta. Dalam agenda ini, PM Modi didampingi langsung oleh Presiden Prabowo Subianto untuk meninjau dan mendukung proyek restorasi situs warisan dunia tersebut.

Kunjungan ini merupakan rangkaian penutup dari lawatan resmi kenegaraan Perdana Menteri Shri Narendra Modi di Indonesia (6–8 Juli 2026).

Dalam rangkaian kunjungan resmi ini, ikatan kebudayaan antar kedua bangsa ini terasa semakin erat dan harmonis. Selain kunjungan ke Candi Prambanan untuk melihat langsung renovasi kolaborasi India Indonesia, di kesempatan yang lain, Konsul Kehormatan India Manoj Bhat juga diwawancarai terkait dengan hubungan Kebudayaan Indonesia-India. Keduanya memang memiliki kemiripan, misalnya gesture rasa hormat pada orang lain, yang menggunakan Anjali Mudra atau sikap sembah.

Dalam budaya Hindu dan Buddha, sikap Anjali Mudra atau sikap sembah ini juga sering disebut Salam Panjalu atau Panganjali, dan kerap digunakan saat berdoa atau menyapa atau menghormati. Dalam wawancara itu Manoj Bhat menunjukkan gesture tersebut.
Pemajuan Aksara Jawa dan Bahasa Sansekerta
Di tempat lain, pada 7 Juli 2026, pegiat Aksara Jawa, yang juga filolog Yogyakarta, Setya Amrih Prasaja, ditemui oleh salah seorang pejabat dari Gujarat yang masuk dalam rombongan Perdana Menteri India untuk mendiskusikan tentang Pemajuan aksara Jawa dan bahasa Sansekerta.

Menurut penuturan Amrih bahwa mereka berdua membahas hubungan bahasa sansekerta dan bahasa Jawa Kuno ke Jawa Baru, termasuk membahas namanya yang terdapat unsur Sansekertanya, seperti Setya (सत्य — ꦱꦼꦠꦾ) dan Prasaja (प्रसज — ꦥꦿꦱꦗ) dan beberapa inscription di Plaosan.
Ketika berada di Candi Plaosan, mereka mendiskusikan dan membaca langsung aksara Kawi di Pewara candi plaosan.
“Kemudian ada obrolan singkat bahwa meskipun terjadi akulturasi budaya, bahasa sanskerta di Jawa melalui aksara Pallawa dan Pranagari, namun tidak merubah lokalitas bahasa Jawa Kuno dan tidak serta merta aksara Kawi – Jawa menjiplak persis 100% dari Pallava maupun Pranagari, karena kedua anak keturunan Brahmi yang sama-sama abugida. Namun keduanya (turunan brahmi), yang ada di India tidak mengenal sandhang pepet untuk bunyi /ě/.”,jelas Amrih dari komunitas Sega Jabung Yogyakarta yang juga sebagai Kepala Seksi Bahasa, Sastra dan Aksara, Dinas Kebudayaan, DI Yogyakarta.
Aksara Jawa dan Bahasa Sansekerta memang menjadi perhatian pihak India. Melalui jalur budaya aksara dan bahasa Sansekerta ini akan menjadi titian kerjasama kebudayaan antar kedua bangsa. (PAR/nng)
