Budaya, Aksara
Nusantara memiliki kekayaan luar biasa berupa puluhan aksara tradisional, seperti Jawa (Hanacaraka), Sunda, Bali, Lontara, Batak, hingga Kaganga, yang masing-masing menyimpan filosofi, sejarah, dan kearifan lokal yang mendalam.
Ketika sebuah aksara punah, kita tidak hanya kehilangan sistem tulis-menulis, tetapi juga kehilangan akses langsung ke dokumen sejarah, sastra kuno, dan cara berpikir para leluhur kita.
Kita belajar aksara (menulis dan membaca) adalah menjaga jembatan sebagai penyambung dua peradaban dulu dan kini, demi masa depan. Masa lalu adalah Backbone yang membentuk pengalaman serta pelajaran bagi langkah kita di masa depan.
Contoh praktis dan visual yang mudah dicerna dan dipahami adalah struktur batu batuan andesit yang membentuk bangunan Borobudur atau percandian lainnya, disana ada sistem yang bernama interlock sistem. Pada masa kini bentuk batu batu untuk struktur bangunan sudah menggunakan pola interlock yang praktis dan mudah. Sistem interlock ini berangkat dari pola bangunan masa lampau dan nenek moyang Nusantara telah memilikinya.

Dari materialan bangunan batu bata saja, justru banyak ditiru oleh bangsa asing. Kita lebih banyak memakai sistem konvensional. Kenapa kemajuan teknologi nenek moyang Nusantara, justru ditiru oleh bangsa asing?
Contoh lainnya masih banyak. Ilmu ilmu semacam ini masih banyak tersimpan di balik dokumen dokumen yang justru orang Nusantara kurang bisa membacanya atau akses ke arah keterampilan membaca kurang terakomodasi atau kurang difasilitasi.

Aksara bagai pusaka yang diselipkan di balik tumpukan jerami. Meski berupa harus, kalau ditancapkan pada sasaran yang tepat, maka sasaran itu akan takluk. Coba Karun tancapkan pada bola mata, bagai “dart” yang mengenai “bull’s eye”.(PAR/nng)
