P. Diponegoro Dianggap Buta Huruf Hanya Karena Tidak Mengerti Huruf Latin, Sementara Ia Mengerti Aksara Tradisional (Jawa dan Pegon)

Budaya Aksara Sejarah

Rajapatni.com: SURABHAYA – Pangeran Diponegoro pernah dikatakan “buta huruf” hanya karena tidak bisa membaca huruf Latin. Ini adalah keliru dan sangat bias kolonial.

Lukisan penangkapan P. Diponegoro. Foto: ist

Pada masa hidup Pangeran Diponegoro (1785–1855), standar melek aksara bagi bangsawan dan masyarakat Jawa tidak diukur dari kemampuan membaca abjad Latin (A, B, C), melainkan dari penguasaan Aksara Jawa (Hanacaraka) dan Aksara Pegon (huruf Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa).

Fakta mengenai kecerdasan dan kemampuan literasi Pangeran Diponegoro:

Menguasai Aksara Jawa dan Pegon: Pangeran Diponegoro sangat mahir membaca dan menulis dalam aksara Jawa serta huruf Pegon.

Surat yang dikirim dari Batavia menggunakan aksara Jawa. Foto: ist

Penulis Autobiografi Terpanjang: Selama masa pengasingannya di Manado dan Makassar, beliau menulis Babad Diponegoro, sebuah autobiografi setebal sekitar 1.151 halaman folio menggunakan aksara Jawa dan tembang macapat. Karya ini telah diakui oleh UNESCO sebagai Memory of the World.

Berpendidikan Pesantren: Beliau dibesarkan di Tegalrejo oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng (permaisuri Sultan Hamengkubuwana I) yang religius. Di sana, Diponegoro mempelajari sastra Jawa, hukum Islam, tasawuf, dan sejarah dalam bahasa Jawa dan Arab-Pegon.

Sengaja Menolak Bahasa Belanda: Pangeran Diponegoro dikenal menolak berbicara atau menggunakan bahasa Belanda/huruf Latin dalam berkomunikasi formal dengan pihak kolonial sebagai bentuk perlawanan budaya dan harga diri.

Pemberian label “buta huruf” atau tidak berpendidikan oleh beberapa pejabat Belanda kala itu merupakan bentuk eurosentrisme, pandangan yang menganggap bahwa seseorang baru dianggap beradab dan pintar jika mengadopsi budaya Barat (termasuk huruf Latin dan bahasa Belanda).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *