Surabaya WANI.

Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Pada 30 Oktober 1945 dikenal sebagai tanggal tewasnya Brigadir AWS Mallaby di Surabaya. Sehari kemudian,pada tanggal 31 Oktober 1945, situasi di Surabaya memanas akibat tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby itu.

Kematian Mallaby: Pimpinan pasukan Britania Raya (AFNEI) tersebut terjadi dalam baku tembak di depan Gedung Internasio, dekat jembatan Merah.

Akibat Kematian Mallaby itu lantas menyulut kemarahan besar pihak Sekutu. Komandan Sekutu, Letnan Jenderal Sir Philip Christison, lantas mengeluarkan peringatan keras kepada rakyat Surabaya agar segera menyerah atau menghadapi ancaman kehancuran total.

Pihak Indonesia menyangkal bahwa kematian Mallaby disengaja oleh rakyat dan mengklaim insiden tersebut terjadi akibat situasi yang kacau di tengah gencatan senjata.

Akibat peristiwa ini maka jadilah titik balik eskalasi yang berujung pada ultimatum Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh dan memicu puncak pertempuran besar pada 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Penolakan ultimatum Sekutu oleh rakyat Surabaya pada November 1945 itu memiliki makna yang sangat dalam bagi sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

 

Simbol Pertahanan Kedaulatan dan Harga Diri Bangsa

Mallaby dan mobil yang terbakar. Foto: ist

Bagi rakyat dan para pemimpin di Surabaya (seperti Gubernur Suryo dan Bung Tomo), menyerahkan senjata dan menyerah diri berarti mengkhianati kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Penolakan ini menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak akan tunduk pada ancaman kolonialisme atau kekuatan asing yang ingin mengembalikan kekuasaan Belanda (NICA).

 

Kelahiran Semboyan “Merdeka atau Mati”

Ketegasan untuk menolak tunduk memicu lahirnya semangat perlawanan total yang diabadikan lewat pekikan Bung Tomo dan semboyan “Merdeka atau Mati!”.

Semboyan ini mengubah pertempuran tersebut menjadi simbol tekad bulat rakyat untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. “Lebih baik mati daripada dijajah kembali”.

 

Tonggak Sejarah Hari Pahlawan

Perlawanan gigih menghadapi gempuran darat, laut, dan udara dari pihak Sekutu selama hampir tiga minggu menunjukkan kekuatan persatuan rakyat, pemuda, dan kalangan ulama (lewat seruan jihad).

Peristiwa tragis dan heroik ini kemudian diabadikan secara nasional sebagai peringatan Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November.

 

Makna Bagi Masa Depan Bangsa

Kini memaknai nilai penolakan ultimatum Sekutu (yang menjadi pemicu peristiwa 10 November 1945 di Surabaya) itu dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yang relevan dengan kehidupan modern.

Inti dari nilai penolakan tersebut adalah kedaulatan, harga diri, dan keberanian menolak ketidakadilan.

Kedaulatan Diri dan Bangsa (Kemandirian)

Dulu: Arek-arek Suroboyo menolak tunduk pada perintah Sekutu untuk menyerahkan senjata, karena menyerahkan senjata berarti menyerahkan kedaulatan yang baru saja merdeka.

• Sekarang: Kita memaknainya sebagai pentingnya menjaga independensi dan kemandirian. Di era globalisasi, ini berarti bangsa Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), tidak mudah didikte oleh kekuatan asing atau tren global yang merugikan, serta berani mengambil keputusan demi kepentingan nasional.

 

Berani Menyuarakan Kebenaran (Anti-Perundungan & Ketidakadilan)

Dulu: Ultimatum Sekutu dinilai tidak adil karena menganggap bangsa Indonesia sebagai pemberontak yang harus dilucuti, padahal Indonesia adalah negara berdaulat.

Sekarang: Nilai ini diterjemahkan menjadi keberanian untuk melawan ketidakadilan dan penindasan di sekitar kita. Dalam skala kecil, ini berarti berani menolak perundungan (bullying) atau korupsi. Dalam skala besar, ini adalah menyuarakan kebenaran di ruang publik demi keadilan sosial.

Ini semua adalah modal dalam menatap masa depan, Indonesia Emas. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *