Budaya , Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Peristiwa adalah fakta. Termasuk peristiwa terselenggaranya Lomba Menulis Aksara Jawa dalam rangka peringatan Bulan Bahasa dan Sastra serta Sumpah Pemuda 2026 pada Minggu (25/10/26) lalu.

Dari peristiwa itu dapat dipetik esensinya. Setidaknya dapat dikenali sebagai pilar utama sebagai berikut:
• Trilogi Persatuan dan Sejarah: Kegiatan ini menjembatani kesinambungan historis antara Sumpah Palapa (1336) sebagai simbol persatuan wilayah, Sumpah Pemuda (1928) sebagai ikrar kebangsaan, dan Sumpah Budaya (2026) lewat pelestarian aksara tradisional.
• Penguatan Jati Diri Bangsa: Menulis aksara Jawa (seperti Hanacaraka atau Kawi) bukan sekadar lomba teknis, melainkan upaya merawat akar budaya leluhur agar tidak punah tergerus arus modernisasi dan digitalisasi.
• Harmoni dan Kesadaran Nusantara: Menghubungkan unsur Kemajapahitan, Kenusantaraan, dan Kebangsaan dalam satu kesatuan ideologis yang hidup di kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pegiat budaya di Jawa Timur (diselenggarakan di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya oleh komunitas Puri Aksara Rajapatni).
• Reaktualisasi Bahasa Ibu: Mengingatkan kembali bahwa semangat menjunjung tinggi bahasa persatuan (bahasa Indonesia) tidak harus mencabut akar kecintaan terhadap bahasa dan aksara daerah sebagai bagian dari kekayaan multikultural.
Acara itu didukung oleh MATRA (Masyarakat Adat Nusantara) yang merupakan organisasi nirlaba tingkat regional yang mewadahi kerajaan, kesultanan, lembaga adat, akademisi, budayawan, dan seniman di Indonesia.
Selain itu juga didukung PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) yang merupakan organisasi nirlaba berbentuk perkumpulan berbadan hukum yang mengelola nama domain internet dengan ekstensi .id (Country Code Top-Level Domain/ccTLD) di Indonesia.
Acara ini juga didukung oleh kalangan kantor perwakilan asing (diplomatik dan akademisi) yang berkantor di Surabaya.
“Jika budaya Jawa (Nusantara) bisa dikenalkan di dunia, dunia akan semakin indah”, kata Konsul Kehormatan India untuk Jawa Timur, Manoj Bhat.
Sementara itu, menurut itu, Ita Surojoyo (pendiri Puri Aksara Rajapatni) mengatakan bahwa jika ada wadah berekspresi, talenta yang ada akan muncul ke permukaan dengan sendirinya. Meski masih banyak yang merasa takut dengan aksara Jawa.

“Rājapatnī sudah berusaha membantu ekosistem budaya aksara Jawa dengan membuka kelas gratis, menerima alih aksara (dari instansi atau UMKM), mengadakan lomba dengan menggandeng mitra dari berbagai kalangan dari dalam dan luar negeri”, pungkas Ita.
Kini seyogyanya peran itu bergulir kepada lainnya karena Aksara Jawa adalah identitas bangsa dan identitas itu berfungsi sebagai pengikat (sabuk) yang nyatanya telah tampil mengikat keberagaman budaya Nusantara yang ada di Jawa Timur melalui Ikrar/Sumpah Budaya (2026) sebagai keberlanjutan dari Sumpah Palapa (1336 M) dan Sumpah Pemuda (1928). (PAR/nng)
