Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Keberagaman Nusantara ada di Surabaya dan itu dapat dilihat setidaknya melalui aneka busana adat Jawa, Sunda, Padang, Madura, Bali, Batak, Tionghoa, Belanda, Jerman dan India yang semuanya terwadahi dalam acara sabuk Aksara Jawa.
Yaitu Aksara Jawa, yang dikemas dalam Lomba Menulis Aksara Jawa sebagai pengikat keragaman budaya suku bangsa Nusantara dan beberapa etnis dunia
Apalagi dalam rangkaian lomba ini dilakukan Ikrar atau Sumpah Budaya (2026) sebagai kontinuitas sumpah sumpah sebelumnya, yaitu Sumpah Palapa yang mempersatukan Nusantara (1336 M) dan Sumpah Pemuda yang menjadi embrio NKRI (1928).
Sumpah Budaya
Teks Ikrar Budaya (2026) ini dibacakan sebagaimana umumnya membacakan Teks Pancasila. Teks Sumpah Budaya dibacakan oleh seniman Gelang Nusantara, Kristanto Wibisono, yang diikuti dengan khidmat oleh seluruh peserta lomba dan undangan di Bangsal Panca Walika Universitas Wijaya Kusuma Surabaya pada Minggu (25/10/26).
Terdaftar 160 peserta dan sekitar 20 undangan, yang diantaranya adalah Konsul Kehormatan India untuk Jawa Timur Manoj Bhat;; Management Advisor Wisma Jerman Mike Neuber; Director Netwerk Internationale Neerlandistiek in Azië, Ana Maria Van Valent, Ketua Pusat Studi Kewijayakusumaan / Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Jarmani; pemerhati Majapahit Laksda (Purn) Untung Suropati serta pembicara sarasehan budaya yang datang langsung dari Yogyakarta, Joko Elysanto serta Setya Amrih Prasaja dari Kundha Kabudayan Yogyakarta.

Semua pihak ini sangat apresiatif terhadap nilai nilai budaya Jawa khususnya aksara Jawa yang diperlombakan dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan sastra serta Sumpah Pemuda. Bahkan Konsul kehormatan India untuk Jatim Manoj Bhat dalam sambutannya mewakili kantor kantor perwakilan asing di Surabaya (terundang) mengatakan bila budaya Jawa dapat menghiasi dunia, maka dunia akan semakin indah. Statement itu langsung disambut tepuk tangan peserta dan hadirin.

Suasana semakin riuh ketika mendengar sambutan Ketua Pusat Studi Kewijayakusumaan / Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Jarmani, yang mewakili Rektor UWKS dimana kegiatan serupa (menulis Aksara Jawa) akan dijadikan agenda tahunan karena dasar nilai nilai yang dikandungnya. Yaitu nilai budaya dan kebangsaan serta sejarah.

Pemerhati Majapahit Laksda (purn) Untung Suropati atau yang akrab dipanggil Ki Ageng Sura (ꦱꦹꦫ) juga memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan budaya menulis aksara Jawa, yang mampu melibatkan keikutsertaan bangsa bangsa lain yang berkantor di Surabaya. Menurutnya kegiatan ini menjadi wujud diplomasi kebudayaan yang lahir dan diinisiasi oleh komunitas.
Tanggapan ini selaras dengan apa yang disampaikan Pembina Puri Aksara Rajapatni, A Hermas Thony, bahwa mengenal aksara Jawa (Hanacaraka) adalah tangga dalam mengenal aksara yang umum digunakan di era Majapahit. Yaitu Aksara Jawa Kuna (Kawi)

“Kami, Rajapatni pernah berdiskusi dengan Bu Endah yang waktu itu sebagai kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI, tentang penulisan aksara Jawa Hanacaraka dan Kawi pada situs situs di wilayah kerja BPK WXI, yang selanjutnya benar benar ditindaklanjuti dengan penulisan aksara tradisional Jawa pada beberapa situs di Jawa Timur”, demikian jelas Thony dalam sambutannya sebelum agenda Lomba menulis aksara Jawa dimulai.
Lomba Menulis Aksara Jawa

Lomba menulis aksara Jawa ini berlangsung selama 60 dan dinilai oleh dewan juri dari pengasuh rubrik aksara Jawa dari Majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat, Nana Lie dan pegiat Aksara Jawa Sega Jabung yang juga Kepala seksi Bahasa, Sastra dan Aksara, Kundha Kabudayan DIY, Setya Amrih Prasaja.
Sarasehan Budaya

Di sela sela penjurian, diisi dengan sarasehan budaya dengan pembicara Dr. Jarmani dari UWKS yang sekaligus anggota Dewan Kebudayaan Surabaya dan Joko Elysanto dari Genk Kobra Yogyakarta. Mereka mengetengahkan tema Aksara di ranah digital.

Menginjak di penghujung acara atau setelah sarasehan berakhir, diumumkan pemenang lomba yang berhak atas trofi miniatur Candi Bajang Ratu karya kreatif Bhagaskara Bronze Trowulan. Sang juara adalah Satya yang juga berhak atas uang tunai senilai 1 juta rupiah serta kain batik beraksara Jawa dari Kota Raja Gresik serta Kerajinan Damar Kurung dari Omah Damar Gresik. (PAR/nng)
