Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Koreksi diri dan introspeksi idealnya dilakukan oleh diri sendiri sebelum orang lain menyadari kesalahan atau kekurangan kita. Kemampuan ini mencerminkan kedewasaan emosional, kejujuran pada diri sendiri, dan keinginan untuk terus bertumbuh.
Ketika entitas ini berupa sebuah wilayah atau kota, intropeksi itu hendaknya dilakukan oleh pemangku kota (punggawa) dan warganya (kawula). Jangan sampai lantas diketahui oleh pihak lain, yang kemudian justru mengetahui dan bahkan mengkritik akan kekurangan dari entitas itu.
Ketika Wisatawan Bertanya Tentang Sejarah Surabaya, Jawabnya Dengan Diplomasi

Contohnya ketika wisatawan asing berkunjung ke Surabaya dan mendapatkan narasi tentang sejarah Surabaya dari seorang guide, khususnya tentang penguasa Surabaya di era klasik, tetapi ketika sang wisatawan diajak berkunjung ke museum Surabaya, ternyata narasi tentang penguasa Surabaya tidak ada dan tidak diketemukan oleh wisatawan yang bersangkutan. Bisa jadi sang wisatawan bertanya tentang kredibilitas informasi yang ada. Apakah pemandunya salah atau museumnya yang salah.
Sang guide adalah orang yang tau tentang sejarah Surabaya dan sang wisatawan adalah rekan dalam jaringan mancanegara sang pemandu. Sementara sang wisatawan direkomendasikan oleh institusi di negaranya agar kalau datang ke surabaya, bisa menghubungi sang pemandu.
Maka, dalam satu kesempatan bertemulah sang wisatawan dan sang guide, lalu salah satu objek kunjungan adalah Museum Surabaya di Gedung Siola, jalan Tunjungan yang Ikonik itu.
Apa yang terjadi ternyata dalam museum itu tidak dijumpai narasi tentang penguasa Surabaya dari era era klasik. Hanya terdapat foto foto walikota Surabaya dari era Kolonial.
Sang wisatawan pun bertanya: “Apakah Surabaya ada sejak era Kolonial, kok gak sama seperti yang kamu ceritakan?”, tanya sang wisatawan.
Pertanyaan simple dan mudah tapi sulit menjawabnya. Secara diplomasi, di jawablah bahwa penataan museum Surabaya belum selesai. Padahal sudah lama selesai.
Sementara sudah diketahui oleh sang guide bahwa informasi dan narasi seperti itu memang itu yang ada di dalam museum.
Ini adalah salah satu contoh dari adanya masukan yang kritis tentang keberadaan museum yang seharusnya bisa menyajikan sejarah yang lengkap tentang penguasa (pemimpin) Surabaya
Yaitu bahwa Surabaya sudah ada sejak berabad ada yang sulam, tidak dari awal abad 20, yaitu tahun 1916 an.
Sang wisatawan ini adalah salah satu dari kelompok sejarawan dan penulis dari negara asal, Belanda, Historische Nieuwsblad.
Kehadiran buku baru karya Eko Jarwanto yang berjudul “Penguasa-Penguasa Nagari Surapringga: Sejarah Para Adipati/Bupati Surabaya* seharusnya mengingatkan para pemangku kota akan kekurangan (ketidaklengkapan) isi museum ini. Karena museum kota jadi cerminan sejarah kota.
Sebagai cerminan perjalanan sebuah kota, museum idealnya mampu menyajikan narasi sejarah secara utuh, termasuk rekam jejak para pemimpin masa lalu yang membentuk fondasi Surabaya.
Buku sejarah lokal seperti ini memiliki peran krusial dalam mengisi kekosongan informasi tersebut. Ketika museum kota belum mampu menampilkan linimasa para adipati dan bupati secara detail, karya literatur hadir sebagai rujukan sekaligus kritik membangun agar penataan koleksi museum dapat disempurnakan.
Buku karya Eko Jarwanto ini mengingatkan pada kunjungan wisatawan dari Belanda beberapa tahun yang lalu, yang tidak mendapati narasi sejarah tentang penguasa penguasa klasik Surabaya (Adipati dan Bupati).
Kota Surabaya (Modern) Berangkat Dari Kadipaten Surabaya (Klasik)

Surabaya seperti sekarang ini, modern dan maju serta berdiri pada kawasan yang luasnya sekitar 335km2, berangkat dari sistem Kadipatenan di era kerajaan (Majapahit, Demak, Pajang hingga Mataram Islam).
Buku karya Eko Jarwanto “Penguasa-Penguasa Nagari Surapringga: Sejarah Para Adipati/Bupati Surabaya” mencatat deretan penguasa Adipati dan Bupati yang mencerminkan keberadaan Kadipaten dan Kabupaten yang pernah menjadi sistem pemerintahan kota ini.
Sesungguhnya tidak ada alasan mengapa Museum Surabaya tidak menampilkan narasi kepemimpinan klasik Surabaya. Kecuali memang meninggalkan sejarah klasik itu.
Ini adalah kritik terhadap Museum Surabaya (atau museum-museum sejenis di kota ini) yang dinilai lebih menonjolkan narasi era kolonial dan pertempuran modern. Narasi kepemimpinan klasik, seperti era Adipati Jayengrana, kiprah Raden Wijaya yang terkait dengan awal mula kawasan ini sering kali tenggelam atau porsinya sangat minim dibandingkan dengan narasi “Kota Pahlawan” era 1945.
Dimana nilai kejuangan dan kepahlawanan di era Trunojoyo, Aria Jaya Puspita, dan Pangeran Pekik sebelum pecah perang 10 November 1945. (PAR/nng).
