Kelas Sinau Aksara Jawa Ungkap Bahwa Belajar Aksara, Juga Sekaligus Mengenal Bahasa Dan Budaya.

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Belajar Aksara,secara otomatis juga belajar bahasa dan budaya. Demikian kata Ita Surojoyo dalam kelas Sinau Aksara Jawa pada Sabtu (3 Oktober 2026).

Belajar aksara bukan sekadar memahami simbol tulisan, melainkan sebuah pintu gerbang untuk mendalami bahasa dan kebudayaan secara menyeluruh. Pernyataan ini disampaikan oleh Ita Surojoyo (pendiri dan pengajar Puri Aksara Rajapatni) saat mengisi kelas Sinau Aksara Jawa.

Ita Surojoyo tidak hanya mengajarkan aksara Jawa tetapi juga mengenalkan bahas Adan budaya Jawa. Foto; nng

Aksara daerah (Jawa) menyimpan nilai filosofis, sejarah, tata krama, dan identitas masyarakat penuturnya. Ketika seseorang mempelajari bagaimana sebuah aksara dibentuk dan digunakan, mereka secara otomatis akan bersinggungan dengan struktur bahasa yang digunakan serta nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Contoh empiris dengan berbusana Jawa saat mengajar. Foto: nng

Ketika seseorang mempelajari aksara ini, mereka akan menemukan keterkaitan erat antara bentuk tulisan, struktur bahasa (unggah-ungguh), dan nilai budaya. Berikut adalah pengamatan dalam kelas Sinau Aksara Jawa oleh Puri Aksara Rajapatni.

 

Refleksi Struktur Bahasa dan Tata Krama (Unggah-Ungguh)

Rumah Bahasa Surabaya adalah tempat belajar aksara Jawa yang representatif. Foto: nng

Aksara Jawa diciptakan untuk mengakomodasi fonetik bahasa Jawa yang kaya dan berlapis. Hubungan antara aksara dan struktur bahasa terlihat dari:

Sistem Pasangan: Dalam menulis aksara Jawa, terdapat huruf “pasangan” yang berfungsi mematikan vokal pada aksara sebelumnya. Hal ini mencerminkan prinsip hidup masyarakat Jawa yang penuh tenggang rasa, di mana seseorang harus tahu kapan harus “mengalah” atau mengerem ego agar harmoni tetap terjaga.

Aksara Murda dan Swara: Digunakan untuk menulis nama orang terhormat, gelar, atau tempat suci. Ini sejajar dengan konsep unggah-ungguh (tingkatan berbahasa seperti Ngoko dan Krama), yang mengajarkan penghormatan terhadap orang lain berdasarkan kedudukan atau usianya.

 

Penjaga Sejarah dan Identitas

Nyaman sebagai tempat belajar. Foto: nng

Melalui manuskrip kuno (babad, serat, dan suluk), aksara Jawa menjadi jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan pemikiran para leluhur. Mempelajari aksara ini secara otomatis membuka gerbang untuk memahami bagaimana masyarakat Jawa kuno memandang hukum, alam, pengobatan, hingga diplomasi politik.

Itulah sekelumit nilai budaya dan sejarah yang dapat diungkap dari praktik Sinau Aksara Jawa oleh Puri Aksara Rajapatni. Belajar Aksara Jawa tidak sekedar belajar menulis baik manual maupun digital, tetapi juga menyelami bahasa dan budaya.(PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *