Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Dapatkan pengalaman edukatif yang menyenangkan. Belajar sambil bermain (melakukan sesuatu) dan Anda akan kenali akar Nusantara. Ada Kemajapahitan, Kebangsaan dan Kebudayaan.

Ikuti lomba edukatif “Menulis Aksara Jawa”, yang lebih berdasar pada pendekatan motorik dan empiris. Menulis Aksara Jawa dengan pendekatan motorik dan empiris berarti Anda tidak hanya menghafal bentuk secara visual, tetapi merasakannya melalui gerakan tangan (kinestetik) dan pengalaman langsung (praktik).
Pendekatan ini sangat efektif karena setiap aksara Jawa memiliki gatra (lekukan) yang memiliki ritme dan memori otot tersendiri.

Aktivitas dalam lomba ini hanya menyalin teks beraksara Jawa, yang bersumber dari Sastra kuno ciptaan pujangga Sri Susuhunan Pakubuwono IV (1788). Teks ini bertutur tentang bagaimana bertutur kata (berbahasa) yang baik yang relevan dengan bulan bahasa dan sastra dalam rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Selain aktivitas motorik (menulis), Anda juga secara esensial belajar sejarah dan budaya Nusantara. Sumbernya jelas dan nilainya pantas menjadi panutan. Nilai ini adalah benteng dan tameng kebudayaan, yang kita kini semakin hidup di era global yang berpotensi mengikis nilai nilai budaya Nusantara.
Menulis secara manual, terutama jika dikaitkan dengan aksara Nusantara (seperti aksara Jawa, Bali, Sunda, atau Lontara), bukan sekadar aktivitas motorik untuk menggerakkan jemari di atas kertas. Aktivitas tersebut adalah sebuah jembatan fisik dan spiritual untuk masuk ke dalam garis sejarah dan kedalaman budaya leluhur Nusantara.

Nilai Kemajapahitan ditunjang oleh trofi trofi yang berbentuk Candi Bajang Ratu yang masih berdiri di Trowulan. Ruang lomba juga mengandung nilai Kewijayakusumaan yang berlatar nilai Majapahit.

Termasuk event lomba terkait dengan peringatan Sumpah Pemuda (1928), yang menjadi estafet Sumpah Palapa oleh Mahapatih Gajah Mada pada 1336 M.
Lomba Menulis (menyalin) Aksara Jawa ini menjadi ruang belajar bersama tentang jati diri Bangsa. (PAR/nng)
