Budaya, Aksara.
Rahapatni.com: ŚŪRABHAYA – Peradaban adalah tahap kemajuan kebudayaan jasmani dan rohani suatu masyarakat, yang ditandai oleh sistem daerah yang kompleks, struktur sosial yang terorganisasi, ilmu pengetahuan, serta sistem tulisan.
Secara etimologis, kata peradaban berasal dari kata “adab” yang berarti kesopanan, akhlak, atau budi pekerti. Dalam bahasa Inggris, istilah ini dikenal sebagai civilization yang berakar dari kata Latin “civitas” (kota).
Sistem tulisan adalah cermin peradaban karena ia menjadi alat utama manusia untuk merekam pemikiran, sejarah, hukum, dan ilmu pengetahuan agar tidak hilang ditelan waktu. Sebelum ada tulisan, pengetahuan hanya mengandalkan ingatan dan lisan, yang sangat rentan berubah atau punah.
Dari fakta dan data yang ada bahwa kita bisa mengetahui bagaimana Majapahit dari sebuah karya tulis oleh Mpu Prapanca tahun 1365 M, yang bernama Kitab Negarakertagama atau Desawarnana.
Segera akan terbit sebuah buku yang mentransliterasi dan menerjemahkan ke dalam bahasa modern Inggris. Ini karena orang yang mentransliterasi dan menerjemahkan adalah warga asing. Namanya Prof Stuart Robson asal Australia, yang bukunya diterbitkan oleh Tokyo University of Foreign Studies, Jepang. Sastra karya pujangga Nusantara tapi diterjemahkan oleh warga Asing.
Ini karena langkah kita kurang cepat dari mereka. Jangan jangan banyak karya sastra yang disimpan di luar negeri, seperti Inggris, memiliki alasan serupa bahwa di tangan mereka harta itu akan ada manfaatnya karena upaya pemajuannya. Yaitu diterjemahkan dan dipublikasikan.
Bagaimana dengan pemilik pusaka itu? Sudahkan kita siap dengan pemahaman dan kecakapan akan aksara aksara kuno itu?
Terhadap esensi Serat Wulangreh Pupuh Pangkur misalnya, yang memuat ajaran tata Krama dan kesopanan sosial budaya, ternyata belum banyak diketahui.
Perihal berbahasa yang baik dan benar, dalam Bulan Bahasa tidak hanya berlatar belakang Sumpah Pemuda pada 1928, tetapi jauh sebelum itu sudah ada latar belakang tua. Yaitu Serat Wulangreh Pupuh Pangkur, yang ditulis oleh Pujangga Sri Susuhunan Pakubuwono IV pada 1788.
Maklum Serat Wulangreh Pupuh Pangkur itu ditulis dalam Aksara Jawa. Karena masyarakat Indonesia kurang paham terhadap aksara Jawa itu, maka terjadilah gap terhadapnya
Gap
Kesenjangan (gap) antara peradaban lama dan peradaban sekarang memang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam sejarah kebudayaan manusia. Peradaban lama seringkali melahirkan karya yang berfokus pada daya tahan materi, kedalaman spiritual, keharmonisan dengan alam, dan nilai estetika yang abadi.
Sebaliknya, peradaban modern hari ini lebih didominasi oleh kecepatan, efisiensi teknologi, fungsionalitas praktis, dan budaya sekali pakai (disposable culture).
Kita akui bahwa peradaban masa lalu membangun sesuatu untuk bertahan ratusan hingga ribuan tahun (berorientasi masa depan yang sangat jauh). Sementara peradaban sekarang lebih sering membangun untuk memenuhi kebutuhan logistik atau tren jangka pendek (berorientasi masa kini).
Ada Jangka Jayabaya yang bisa melihat bahwa kelak “pulau Jawa berkalung besi”. Akhirnya ada pembangunan jaringan kereta api yang dihubungkan dengan rel besi.
Juga ada Serat Wulangreh Pupuh Pangkur yang dibuat tahun 1788 yang masih relevan dengan 1928 hingga hari ini (sekarang) dan masa depan.
Sayang, kita tidak mengerti Serat Wulangreh dan lainnya karena ketidak pahaman terhadap tulisan aksara Jawa, aksara milik sendiri. (Tidak paham tulisan sendiri, tapi paham tulisan bangsa asing). Ini fakta!
Jika demikian, bagaimana sikap dan tindakan pemangku negara dalam menyelamatkan peradaban Nusantara?

Jangan jangan pihak yang menghancurkan negeri ini bukan orang lain tetapi justru bangsa sendiri. Ada tiga cara penghancuran identitas bangsa atau membelokkan sejarah suatu bangsa. Yaitu:
Kaburkan sejarahnya: Cara ini dilakukan dengan menghapus, memanipulasi, atau memutarbalikkan fakta sejarah asli suatu bangsa agar generasi penerusnya tidak mengetahui asal-usul mereka yang sebenarnya.
Hancurkan bukti-bukti sejarahnya: Langkah ini melibatkan perusakan fisik atau pemusnahan peninggalan bersejarah, seperti situs purbakala, prasasti, dokumen kuno, artefak, dan bangunan bersejarah, sehingga tidak bisa lagi diteliti atau dibuktikan kebenarannya.
Putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya: Cara ini dilakukan dengan membuat generasi muda merasa asing, malu, atau tidak peduli dengan budaya, adat istiadat, dan nilai-nilai tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, lalu menggantinya dengan identitas baru.
Ini yang kemudian dinamakan genosida sejarah. Istilah “genosida sejarah” (atau sering disebut historical genocide / historicide) ini biasanya digunakan untuk menggambarkan pemusnahan, penghapusan, atau manipulasi sengaja terhadap sejarah, budaya, dan identitas suatu kelompok oleh pihak penguasa atau pihak tertentu.
Pihak pihak tertentu ini bagai cell yang telah bersenyawa dengan kita. Waspadalah! (PAR/nng).
